JawaPos.com - Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth mengingatkan agar pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Jabodetabek benar-benar tepat sasaran dan maksimal.
Sebab, langkah untuk mengatasi kekeringan di Jabodetabek itu dibiayai oleh APBD DKI Jakarta.
Hal itu disampaikan Bang Kent, sapaan akrab Kenneth usai memantau pelaksanaan OMC di Pangkalan Udara Pondok Cabe, Tangerang Selatan baru-baru ini.
Kegiatan itu melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Baca Juga: Langkah BMKG dan BNPB Jika Tak Ada Awan Hujan untuk OMC di Daerah Terdampak Abu Vulkanik
Kenneth menilai, penggunaan anggaran yang bersumber dari masyarakat harus dipastikan tepat sasaran dan pelaksanaannya dapat dipertanggungjawabkan.
"Sebagai Anggota Dewan, tentunya saya wajib mengawal kegiatan ini karena OMC (Operasi Modifikasi Cuaca) ini menggunakan dana APBD DKI Jakarta yang dihimpun dari skema uang rakyat. Kita harus kawal dan pastikan pelaksanaannya berjalan sebaik-baiknya,” kata Kenneth kepada wartawan, dikutip Minggu (27/9).
Dalam kunjungannya, Kenneth juga melihat langsung kesiapan teknis, termasuk bahan yang akan digunakan untuk proses penyemaian awan.
Dalam pelaksanaan OMC kali ini, bahan yang digunakan berbeda dari operasi sebelumnya.
Jika sebelumnya menggunakan natrium klorida (NaCl) dalam bentuk cair, pada operasi 25 September petugas menyiapkan NaCl berbentuk bubuk atau powder dengan total mencapai 1 ton.
Baca Juga: Tangani Kekeringan, PMI Tangsel Salurkan 16.000 Liter Air Bersih Selama 3 Bulan
"Harapan kami hasilnya bisa maksimal sehingga curah hujan yang turun cukup banyak untuk menekan kekeringan sekaligus polusi udara di DKI Jakarta," jelasnya.
Kenneth mengatakan, pelaksanaan OMC di wilayah Jabodetabek telah berlangsung sejak 18 September 2026.
Penyemaian awan pada 25 September menjadi pelaksanaan terakhir dalam rangkaian operasi tersebut.
Hal itu berkaitan dengan prakiraan BMKG mengenai menurunnya pertumbuhan awan saat akhir pekan.
Karena itu, penyemaian yang telah dilakukan selama sepekan diharapkan dapat mendorong terbentuknya awan hujan dalam waktu dekat.
Baca Juga: Kekeringan Bogor Makin Meluas, Sumber Air Baku Jakarta- Bekasi Terancam Surut
“Seperti yang disampaikan oleh pihak BMKG, mulai 26 September potensi pertumbuhan awan cukup rendah. Jadi harapannya garam NaCl yang ditabur selama sepekan terakhir bisa memicu awan hujan dalam waktu dekat,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta Marulitua Sijabat menjelaskan, pelaksanaan OMC pada 18-25 September 2026 memiliki tiga sasaran utama.
Selain membantu mengurangi tingkat polusi udara, operasi tersebut ditujukan untuk mendorong turunnya hujan di wilayah DKI Jakarta serta meningkatkan ketersediaan air baku bagi PAM Jaya.
“Jadi operasi modifikasi cuaca ini tujuannya adalah untuk menurunkan polusi, mengupayakan turunnya hujan dan meningkatkan kebutuhan air baku PAM Jaya,” ucap dia.
Maruli memperkirakan dampak OMC dapat terlihat dalam beberapa hari setelah pelaksanaan. Namun, distribusi hujan diperkirakan tidak akan merata di seluruh wilayah Jakarta.
Baca Juga: Sumber Air Alternatif untuk Mengatasi Krisis Saat Darurat Kekeringan, Siapkan Stok untuk Kemarau
Menurut dia, potensi hujan justru lebih besar di kawasan perbatasan Jakarta, terutama wilayah Bogor dan Depok.
Sementara untuk wilayah ibu kota, hujan berpeluang terjadi terutama di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.
“Hasil modifikasi cuaca kemungkinan bisa terlihat dalam waktu dekat, tapi hujan akan turun lebih banyak di perbatasan. Kalau di wilayah Jakarta mungkin di daerah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur,” pungkasnya.