JawaPos.com - Pemprov DKI Jakarta bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggelar agenda Safari Integritas di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan, Minggu (20/9).
Langkah ini diambil untuk menanamkan nilai-nilai antikorupsi kepada para pelajar sejak dini melalui pendekatan interaktif.
Kegiatan bertema "Jujur Itu Petualangan, Integritas Itu Kebiasaan" tersebut melibatkan jajaran Inspektorat Provinsi DKI Jakarta, Dharma Wanita, pengelola destinasi wisata Ragunan, serta perwakilan siswa dari berbagai sekolah di Jakarta.
Inspektur Provinsi DKI Jakarta Dhany Sukma menuturkan, Ragunan tercatat telah memiliki predikat Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) sekaligus Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).
"Unit Pengelola Ragunan adalah salah satu unit yang mendapatkan predikat Zona Integritas dua sekaligus. Bukan hanya WBK, tetapi juga WBBM. Itu yang pertama diraih oleh Taman Margasatwa Ragunan," ujar Dhany, Minggu (20/9).
Pencapaian tersebut diraih setelah melalui evaluasi ketat pada tata kelola internal dan standar pelayanan publik.
Baca Juga: KPK Bongkar Borok dan Masalah Sektor Pertanahan, Total Ada 8 Titik Rawan Korupsi
Kriteria penilaian mencakup ketegasan pencegahan pungutan liar (pungli), hingga kebersihan catatan dari lembaga pengawas seperti Ombudsman dan aparat penegak hukum.
Konsep acara dikemas secara reformatif menggunakan skema permainan dan penugasan berbasis pos di area Ragunan. Strategi ini diterapkan agar pemahaman mengenai integritas dapat diserap secara natural oleh para peserta muda.
"Ini merupakan sebuah upaya menumbuhkan sekaligus juga menjadi tameng bagi kita semua untuk melakukan pencegahan terhadap fraud," tambah Dhany.
Guna mempermudah pelembagaan karakter, para siswa dikenalkan dengan sembilan nilai integritas dasar racikan KPK melalui jembatan keledai "Jumat Bersepeda Kaka", singkatan dari jujur, mandiri, tanggung jawab, berani, sederhana, peduli, disiplin, kerja keras, dan adil.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Pembinaan Peran Serta Masyarakat KPK, Kunto Ariawan, menerangkan bahwa strategi pemberantasan korupsi ditopang oleh tiga pilar utama: pendidikan, pencegahan, dan penindakan.
Menurut Kunto, pilar pencegahan difokuskan pada pembenahan tata kelola dan sistem pelayanan masyarakat guna menutup rapet ruang gerak penyimpangan.
"Untuk melakukan upaya kesempatan, untuk menghilangkan kesempatan terjadinya korupsi, yang dilakukan oleh Pemerintah DKI yaitu dengan memperbaiki pelayanan publik, menghilangkan kesempatan, memperbaiki sistem," urai Kunto.
Meski demikian, keandalan sistem tetap membutuhkan dukungan penuh dari manusia bertabiat jujur. Oleh sebab itu, kebiasaan kecil seperti tidak menyontek atau tidak memalsukan presensi di bangku sekolah menjadi fondasi yang sangat krusial.
Baca Juga: El Nino Diprediksi Hingga 2027, Pemprov DKI Jakarta Siapkan Langkah Darurat
"Tidak ada ujug-ujug seseorang mengambil uang rakyat atau mencuri uang kalau tidak dimulai dari kebiasaan yang kecil-kecil, misalnya tidak jujur, suka bohong, dan sebagainya. Semoga kebiasaan-kebiasaan baik yang diajarkan pada kegiatan pagi hari ini akan terus membekas, sehingga nanti ketika menduduki jabatan-jabatan strategis, ketika menduduki posisi-posisi penting, tidak melupakan nilai-nilai yang sudah ditanamkan sejak muda," terangnya.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Sosial, Chico Hakim, menyoroti pentingnya pembuktian integritas dalam dinamika kehidupan sehari-hari.
Ia mencontohkan berbagai pelanggaran batas di ranah umum, seperti parkir liar di atas trotoar, perusakan fasilitas publik, hingga tindakan curang dalam kompetisi olahraga anak, sebagai cermin rendahnya kepatuhan sosial yang wajib dibenahi bersama.
Chico menguraikan bahwa penataan ruang kota yang ideal tidak bisa semata-mata dibebankan kepada aparat penegak hukum, melainkan butuh kesadaran kolektif warga.
"Korupsi itu kuncinya adalah curang. Sebuah kecurangan yang Adik-adik sekalian juga dari sejak dini harus mulai sadar bahwa curang itu tidak baik," kata Chico.