JawaPos.com - Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau melanda sejumlah wilayah di Jabodetabek, termasuk sampai ke Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (6/9). Sejumlah warga mengaku menemukan debu menempel di rumah, teras, hingga lingkungan permukiman.
Salah satu warga Parung Panjang bernama Jimmy Fernando mengatakan, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sudah masuk ke kawasan tempat tinggalnya. Bahkan, debu disebut mulai terlihat cukup banyak di lingkungan rumahnya.
“Sudah kena bang Parung Panjang. Rumah saya juga sudah banyak debunya,” kata Jimmy di grup warga Parung Panjang.
Keluhan serupa juga disampaikan Prastiyo. Warga yang berada di kawasan Sentraland itu menyebut, debu yang turun memiliki karakter berbeda dibandingkan debu biasanya. Menurut dia, abu terlihat berwarna putih dengan tekstur yang terasa lebih kasar.
Baca Juga: DJ Katty Butterfly Dituntut Ganti Rugi Rp 146 Juta hingga Diancam Proses Hukum Buntut Batal Tampil
“Di Sentraland juga ada nih. Debunya putih, lebih kasar dari biasanya. Hati-hati bapak ibu kalau mau beraktivitas di luar,” ujar Prastiyo.
Warga lainnya yang berada di kawasan Griya juga merasakan hal serupa. Ia mengaku baru saja membersihkan teras rumah tadi malam. Namun pada Minggu pagi dia kembali menemukan debu cukup banyak yang menempel.
“Di Griya juga sudah nih. Kemarin saya baru beresin teras dan pagi ini saya rasain debunya lebih kasar, dan kalau disiram pakai air warna agak lebih hitam dari biasanya,” tuturnya.
Abu Anak Krakatau Meluas ke Jabodetabek
Laporan warga Parung Panjang tersebut terjadi di tengah meluasnya sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau ke sejumlah wilayah Banten, Jakarta dan Jawa Barat.
BMKG dalam pemantauan citra satelit pada Minggu (6/9) mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang mencakup wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Dengan kondisi tersebut, laporan warga Parung Panjang menunjukkan bahwa dampak sebaran abu vulkanik juga dirasakan di kawasan permukiman di wilayah Kabupaten Bogor.
Anak Krakatau Masih Beraktivitas
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda memang tengah mengalami peningkatan aktivitas vulkanik. Badan Geologi mencatat erupsi mulai terjadi pada Jumat (4/9) dan menerus pada Sabtu (5/9) disertai suara gemuruh.
Dalam laporan resminya, Badan Geologi menyebut fenomena tersebut menyerupai lava fountain atau air mancur lava. Aktivitas erupsi Anak Krakatau sendiri telah berada pada status Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026.
Baca Juga: Ustaz Riza Muhammad Punya 50 Pekerja di Rumah, Gaji di Atas UMR hingga Biayai Sekolah Anak Karyawan
Pada Minggu dini hari, aktivitas erupsi kembali terekam. Badan Geologi melaporkan erupsi pada pukul 03.53 WIB berlangsung sekitar 30 detik. Masyarakat diminta tidak mendekati kawasan gunung dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
BNPB juga mengingatkan masyarakat agar tidak mendekati kawasan Anak Krakatau untuk melihat atau merekam aktivitas erupsi karena masih terdapat potensi lontaran material dari kawah aktif.