JawaPos.com - DPRD DKI Jakarta menilai rencana kenaikan tarif masuk Taman Margasatwa Ragunan (TMR) menjadi Rp 10 ribu merupakah hal yang wajar. Pasalnya, tidak pernah ada kenaikan harga selama 20 tahun terakhir.
Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta, Dimaz Raditya mengatakan, kenaikan tiket ini bertujuan meningkatkan fasilitas dan layanan di area Ragunan. Menurutnya, tarif Rp 4.000 untuk dewasa dan Rp 3.000 untuk anak-anak yang berlaku saay ini tidak relevan dengan kondisi sekarang.
“Tarif Ragunan ini sudah 20 tahun tidak pernah naik. Sementara, kondisi ekonomi dan pendapatan masyarakat Jakarta terus meningkat,” ujar Dimaz, Kamis (3/9).
Kenaikan tiket masuk menjadi Rp 10 ribu dianggap tidak akan memberatkan masyarakat. Bahkan nilai ini masih di bawah beberapa destinasi wisata di Jakarta, seperti Ancol dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Baca Juga: Dorong Ekonomi, Industri Baja Fokus TKDN dan Kapasitas Produksi
“Tarif sekarang paling mahal Rp 4.000. Rencana akan dinaikkan menjadi Rp 10.000, tetapi masih terus kami kaji perihal angka,” imbuhnya.
Sementara itu, Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth menilai, penyesuaian tarif memang perlu dilakukan demi membenahi berbagai sarana dan prasarana di Ragunan.
Aspek yang bisa ditingkatkan seperti keamanan kandang. Sebab, masih ada beberapa kandang yang keamanannya masih kurang.
“Beberapa waktu lalu ada anak yang terjatuh ke area kandang gajah. Nah, ini menjadi salah satu catatan kami dan kami berharap standar keamanan bisa ditingkatkan seiring penyesuaian tarif,” ungkap Kenneth.
Penyesuaian tarif tiket masuk dapat mengurangi beban subsidi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta. Sebab, APBD masih menanggung biaya operasional Ragunan hingga 70 persen.
“Harapan kami dengan adanya peningkatan tarif ini adalah Taman Margasatwa Ragunan bisa mandiri secara finansial. Efisiensi pada anggaran APBD nantinya bisa digunakan untuk program lain yang lebih membutuhkan,” pungkasnya.