← Beranda
Butuh Modal Besar di Ibu Kota, Simak Solusi Menarik yang Diberikan Bank Jakarta
Ryandi ZahdomoJumat, 4 September 2026 | 18.20 WIB
Wagub DKI Rano Karno menyaksikan penandatanganan akad kredit massal Bank Jakarta bagi 100 pedagang di Pasar Induk Kramat Jati. (Istimewa)

JawaPos.com - Para pedagang di Pasar Induk Kramat Jati kini mendapatkan akses kemudahan permodalan hingga Rp 500 juta. Fasilitas pembiayaan ini resmi digulirkan melalui kolaborasi strategis antara Bank Jakarta dan Perumda Pasar Jaya untuk memperkuat daya saing pelaku usaha mikro.

Langkah konkret tersebut ditandai dengan prosesi penandatanganan Akad Kredit Massal bagi 100 pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Ciracas, Jakarta Timur. Acara ini disaksikan langsung oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno.

"Hari ini kita memperluas akses pembiayaan bagi pedagang pasar induk di Kramat Jati ini. Ini penting sekali, karena pedagang membutuhkan kepastian modal kerja untuk menjaga keberlangsungan usaha," ujar Wagub Rano.

Meski kemudahan permodalan telah dibuka lebar, Wagub Rano mengingatkan agar para pedagang tetap menjaga kedisiplinan pencatatan keuangan. Pembinaan manajemen finansial dinilai menjadi kunci utama agar pelaku usaha tidak terjerat masalah di kemudian hari.

"Pasti akan ada dialog antara pihak bank dengan pedagang untuk saling membantu manajemen agar usaha lebih berkembang. Mudah-mudahan program ini bisa kita kembangkan di pasar-pasar yang lain," imbuh Rano.

Skema KUR dan Non-KUR: Bisa Tanpa Jaminan

Sejauh ini, Bank Jakarta telah menyalurkan dana pembiayaan mencapai sekitar Rp 48 miliar kepada 167 pedagang dari total lebih dari 5 ribu pelaku usaha di Pasar Induk Kramat Jati. Program ini mencakup skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) maupun Non-KUR.

Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, merinci bahwa skema KUR memberikan plafon pinjaman hingga Rp 100 juta tanpa pengajuan jaminan. Sementara untuk skema Non-KUR dengan plafon hingga Rp 500 juta dan bunga sekitar 10 persen per tahun, pedagang dapat memanfaatkan hak sewa atau lapak dagangannya sebagai agunan.

"Kami tidak ingin pedagang yang sibuk mencari bank. Bank Jakarta yang harus semakin dekat dan hadir di tengah-tengah pedagang," ungkap Agus.

 

Ia menambahkan bahwa indikator keberhasilan program ini bukan sekadar besarnya angka penyaluran kredit, melainkan dampak nyatanya terhadap pertumbuhan omzet pedagang dan penciptaan lapangan kerja baru di Jakarta.

EDITOR: Diar Candra