JawaPos.com - Eskalasi kericuhan pascademo pengesahan RUU Perampasan Aset di DPR RI pada Kamis (27/8) malam memakan korban jiwa.
Seorang lansia berprofesi pedagang cermin, Bambang Setiawan, 60, dilaporkan tewas akibat pengeroyokan di Pejompongan, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.
Sementara seorang pelajar bernama Faturohman, 18, mengalami luka berat usai dikeroyok kelompok tak dikenal saat situasi memuncak.
Korban Sedang Amankan Wilayah, Bukan Pengunjuk Rasa
Ketua RT 02 RW 06 Benhil, Aban Sobandi, mengungkapkan rasa prihatin mendalam atas aksi main hakim sendiri yang menimpa warganya.
Baca Juga: Kericuhan di Pejompongan Makan Korban, Pedagang Cermin Tewas Usai Dikeroyok Orang Tak Dikenal
Ia menegaskan bahwa para korban sama sekali tidak terlibat dalam aksi unjuk rasa di sekitar gedung DPR RI.
Para korban hanya berada di lokasi untuk menjaga keamanan lingkungan sekitar saat kericuhan mulai meluas ke pemukiman.
"Main comot saja yang dapat siapa saja. Padahal itu enggak ikutan demo. Warga sini enggak ada yang ikut-ikutan demo. Yang satu lagi main HP langsung dicomot," ujar Aban saat ditemui di rumah duka Bambang, Jumat (28/8).
Dugaan Premanisme dan Intimidasi Tim Medis
Aban menyebut aksi brutal yang menewaskan Bambang terjadi sekitar pukul 21.00 hingga 22.00 WIB.
Kelompok berpakaian bebas yang merangsek masuk dari arah flyover dinilai bertindak di luar prosedur hukum penanganan massa.
Baca Juga: Detik-detik Hafiz Quran Bonyok Usai Demo: Lagi Asik Ngopi Diserang Orang Tak Dikenal
Bahkan, upaya penanganan darurat bagi korban tewas sempat mendapat hambatan dan intimidasi di lapangan.
"Bahkan sudah ditolongin, yang satu yang baru ketemu nih di Polda, sudah dipegang sama tim medis, mau dibawa tim medis, direbut. Tim medisnya dijorokin," tambah Aban.
Masyarakat Sempat Mengira Petugas Sipil
Masyarakat setempat pada awalnya tidak berupaya melakukan perlawanan karena mengira kelompok penyerang merupakan anggota kepolisian berpakaian sipil.
"Warga itu pertama awalan perkiraan itu polisi, jadi enggak berani melawan. Dikiranya 'Oh Intel, Intel'. Tapi warga pada ngumpul menyelamatkan diri. Kalau tahu itu ormas, pasti pada ngelawan lah warga," tuturnya.
Atas peristiwa tragis yang merenggut nyawa warga pengampu wilayahnya tersebut, Aban menyayangkan adanya pelibatan pihak tanpa kewenangan resmi dalam pengamanan aksi di ruang publik.
Baca Juga: Terimbas Kerusuhan Pasca Demo di DPR, Pos Polisi Slipi dan 5 Truk di Kemanggisan Rusak
"Mereka bukan massa aksi. Mereka datang dari arah flyover. Jadi anarkis jadinya, di luar SOP menangani demo. Kenapa mereka bisa diberi izin menangani itu? Kurang polisi?," imbuhnya.