JawaPos.com - Polisi mencegat orang-orang yang hendak menuju ke arah Gedung DPR/MPR RI. Para personel polisi yang mengenakan kaos hitam itu tampak sudah berjaga sejak dari jembatan penyeberangan orang (JPO) Stasiun Palmerah.
Pantauan JawaPos.com di lokasi, para personel polisi itu tampak menahan langkah kaki beberapa orang yang tampak masih di bawah umur. Mereka mempertanyakan tujuan orang tersebut.
Beberapa personel kepolisian juga terdengar meminta kartu identitas orang-orang yang lewat.
Baca Juga: Jelang Kedatangan Prabowo di Lokasi Muktamar ke-35 NU, Polisi Kerja Keras Lakukan Pengamanan
Kepada JawaPos.com, dua orang yang memakai kaos polisi juga sempat mencegat dan menanyakan lokasi yang dituju. Saat dijawab hendak ke depan Gedung DPR/MPR RI, salah satu anggota polisi itu meminta ID Pers.
Tak hanya itu, ia juga meminta JawaPos.com membuka tas dan menunjukkan isi di dalamnya.
Setelah memastikan identitas, dua polisi itu tampak berbincang.
"Gimana? Boleh diizinin lewat nggak? tanya polisi yang memeriksa kepada temannya.
Saat temannya mengangguk, JawaPos.com bisa melewati barisan polisi yang berkumpul di jalanan tersebut.
Namun begitu, beberapa orang masih tampak tertahan dalam pemeriksaan tersebut.
Untuk diketahui, demonstrasi yang berlangsung mulai pukul 10.00 WIB ini diperkirakan dihadiri oleh ribuan massa gabungan dari AMPB dan aliansi masyarakat sipil. Aksi tersebut membawa dua tuntutan utama, yaitu pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset dan penerapan hukuman mati bagi pelaku tindak pidana korupsi.
Koordinator AMPB, Supriyono alias Botok, menampik tuduhan bahwa aksi pergerakan warga dari daerah ini didorong oleh kepentingan kelompok politik tertentu.
"Kita fokus pada dua tuntutan itu. Tidak ada lengserkan Prabowo-Gibran, tidak ada. Kita mendukung pemerintahan Prabowo agar lebih baik," tegas Botok.