JawaPos.com - Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Mercu Buana (UMB) menggagas inovasi Taman Hujan Produktif di kawasan Cipondoh Indah, Kota Tangerang.
Berkolaborasi dengan Forum Kampoeng Saungkuriang, proyek ini dirancang sebagai solusi berbasis alam (nature-based solutions) guna meredam limpasan air hujan sekaligus menyediakan area budidaya pangan di lahan terbatas perkotaan.
Lahan seluas 21 meter persegi (3×7 meter) disulap menjadi sistem bioretensi modular dengan kedalaman konstruksi 60 sentimeter.
Baca Juga: Momen Spesial yang Agak Lain! 47 Driver Ojol jadi Tim Paskibra di HUT ke-81 RI
Konstruksi ini memanfaatkan sistem berlapis yang terdiri dari tanah, kompos, media tanam, pasir kasar, hingga modular tank di bagian bawah sebagai wadah penampung air sementara.
Ketua Tim Pelaksana Kegiatan PkM UMB Winda Widyanty menjelaskan, konsep ini memadukan dua manfaat yang selama ini umumnya berjalan terpisah.
"Konsep Taman Hujan Produktif yang diterapkan menggabungkan dua fungsi yang biasanya dipisahkan: fungsi ekologis sebagai area pengelolaan air hujan dan fungsi produktif sebagai ruang budidaya tanaman," ujar Winda, Selasa (18/8).
Baca Juga: Data Keanekaragaman Hayati Jadi Dasar Pembangunan Kota Tangerang
Melalui pendekatan ini, satu petak lahan difungsikan sebagai sistem terintegrasi yang menghubungkan resapan air, ruang hijau, dan pemenuhan pangan mandiri.
Pemberdayaan Warga dan Hasil Panen Pakcoy
Guna memastikan fungsi jangka panjang, warga sekitar dilibatkan penuh mulai dari pembersihan lahan, perakitan sistem, penanaman, hingga pencatatan hasil panen. Pemanfaatan lahan ini membuahkan hasil berupa panen 36,5 kilogram sayur pakcoy.
Anggota tim PkM UMB Ika Sari Damayanthi Sebayang mengungkapkan, meski nilai ekonomis dari panen perdana ini masih terbatas, skema ini membuktikan potensi ganda dari pemanfaatan ruang kota.
"(Hasil) panen tersebut menunjukkan sesuatu yang penting, (yaitu) ruang yang dirancang untuk fungsi ekologis dapat sekaligus menghasilkan manfaat ekonomi. Masyarakat tidak hanya memiliki infrastruktur untuk mengelola air hujan, tetapi juga memiliki ruang yang dapat digunakan untuk menghasilkan pangan dan ketika produksinya mencukupi, pendapatan tambahan," jelas Ika.
Pengukuran berkala pada beberapa kondisi curah hujan masih diperlukan untuk mengevaluasi kapasitas penampungan, efisiensi infiltrasi, serta daya tahan ekonomis sistem ini dalam jangka panjang.
Monitoring secara konsisten menjadi kunci mengingat kinerja bioretensi sangat bergantung pada pemeliharaan warga dan kondisi lingkungan sekitar.
Baca Juga: Dishub DKI Imbau Hindari kawasan Monas dan Sudirman Imbas Demo Mahasiswa
"Pengalaman Kampoeng Saungkuriang menunjukkan bahwa ketika lahan perkotaan terbatas, kita tidak selalu harus memilih antara fungsi lingkungan dan fungsi produktif. Satu ruang dapat dirancang untuk memiliki beberapa fungsi sekaligus," tambah Ika.
Prinsip dasar taman hujan ini dinilai berpotensi untuk direplikasi di wilayah lain dengan mengelola air sedekat mungkin dari sumbernya, memanfaatkan proses alami, dan memberdayakan komunitas lokal.
"Taman Hujan Produktif belum menjadi jawaban akhir atas persoalan genangan perkotaan. Tetapi ia menunjukkan kemungkinan lain dalam merancang ruang kota, (yakni) bagaimana satu bidang lahan dapat bekerja untuk air, pangan, pengetahuan, dan masyarakat pada saat yang sama," imbuh Ika.
Baca Juga: Tidak Ditemukan Formalin, Polri Pastikan Makanan Jamuan Rakyat Jakarta Barat Aman Dikonsumsi
Butuh Kajian Lanjutan
Meski berpotensi besar, tim akademisi menekankan bahwa taman hujan bukan satu-satunya jawaban instan untuk menyelesaikan persoalan banjir perkotaan.
Anggota tim lainnya, Ir Sylvia Indriany mengakui, perlunya data hidrologis lanjutan untuk mengukur seberapa efektif sistem ini dalam menekan volume genangan di tingkat kawasan.
Pihaknya belum memiliki data yang cukup untuk menyatakan seberapa besar sistem Taman Hujan Produktif di Kampoeng Saungkuriang mengurangi limpasan air atau genangan di tingkat kawasan.
Baca Juga: 7.555 Warga Binaan di Jakarta Dapat Remisi HUT ke-81 RI, Ratusan Orang Langsung Bebas
"Demikian pula, satu kali panen belum cukup untuk menentukan kelayakan ekonomi jangka panjang," kata Sylvia Indriany.