← Beranda
BEM UI Sentil Checks and Balances: Negara Makin Kuat, Rakyat Makin Lemah
Ryandi ZahdomoSelasa, 18 Agustus 2026 | 23.23 WIB
Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra saat berdebat dengan Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombespol Reynold E.P. Hutagalung dalam aksi di depan Gedung UOB, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026). (Ryandi Zahdomo/JawaPos.com)

JawaPos.com - Massa Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) dan aliansi lintas kampus menyoroti hilangnya sistem checks and balances di Indonesia.

Dampaknya, negara semakin kuat untuk memaksakan kehendaknya, sementara rakyat semakin lemah karena tidak lagi mudah bersuara.

hal itu disuarakan saat aksi demonstrasi yang dihadang oleh polisi di depan Gedung UOB, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (18/8).

Sekitar 1.000 mahasiswa datang dengan membawa delapan tuntutan aksi untuk pemerintah.

Baca Juga: BEM UI Ingin Demo di Bundaran HI tapi Polisi Minta di Dukuh Atas, Cek Alasannya

Wakil Ketua BEM UI, Fathimah Azzahra, menegaskan bahwa seluruh poin dari delapan tuntutan yang mereka bawa memiliki urgensi yang sama.

"Benang merahnya bahwa negara ini semakin kuat, sementara rakyat semakin lemah, dan tidak ada checks and balances yang memadai yang betul-betul bisa membuat pemerintah itu terbatas powernya," tegas Fathimah di lokasi aksi.

Ia menekankan pentingnya pembatasan kekuasaan agar Pemerintah tidak bertindak melampaui batas kewenangan yang merugikan masyarakat.

"Power kan harus dibatasi dan itu yang sebetulnya mengerikan bagi kita. Kita ingin itu tidak semakin jauh," tambahnya.

Aksi Demonstrasi Terhalang di Thamrin

Pergerakan massa menuju titik sasaran di Bundaran HI terhenti sekitar pukul 13.56 WIB akibat adangan ketat petugas keamanan.

Baca Juga: Demo BEM UI di Bundaran HI, Tuding Kedaulatan Rakyat Cuma Slogan Prabowo-Gibran

Kondisi ini sempat memicu adu mulut serta aksi saling dorong ketika mobil komando diminta berputar balik.

Lantaran tak dapat melintas, massa memilih bertahan dan menggelar orasi terbuka di depan Gedung UOB.

Fathimah turut mempertanyakan klaim polisi bahwa keberadaan demonstrasi mengganggu para pekerja di sekitar lokasi.

Menurut dia, Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombespol Reynold E.P. Hutagalung sempat menyatakan alasan penahanan aksi didasari oleh keluhan masyarakat pekerja.

"Saya ingin minta bantuan kepada seluruh masyarakat, terutama mungkin yang ada di perkantoran-perkantoran di tempat kita demonstrasi hari ini untuk mengonfirmasi, apakah betul?," ujar Fathimah.

Baca Juga: Demo 1.000 Mahasiswa di Bundaran HI Jakarta Dijaga 9.242 Aparat

Ia menagih komitmen pertanggungjawaban kepolisian jika klaim mengasnamakan warga dan pekerja tersebut ternyata tidak terbukti.

"Beliau tadi sudah siap untuk bertanggung jawab apabila pernyataan beliau ini salah dan mengklaim mengatasnamakan semua orang padahal ternyata tidak. Kalau terganggu maka kita akan evaluasi, tapi apabila mereka justru mendukung, maka Pak Reynold kita tunggu untuk bertanggung jawab atas omongannya dan bertanggung jawab sudah menahan kawan-kawan di sini," pungkasnya.

Alasan Pelarangan Oleh Kepolisian

Di sisi lain, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombespol Budi Hermanto menjelaskan bahwa pengadangan dilakukan untuk mencegah kelumpuhan arus lalu lintas di kawasan pusat ekonomi tersebut.

"Apabila aksi dilaksanakan di Bundaran HI, ini akan mengunci potensi arus lalu lintas kemacetan di berbagai simpul yang ada," terang Budi.

Ia menyebut langkah pengamanan diambil demi menjaga ketertiban umum dan aktivitas warga lainnya.

Baca Juga: BEM UI Demo di Bundaran HI, Pemprov DKI Minta WFH dan Siswa Diizinkan Belajar dari Rumah

"Apabila arus lalu lintas sudah lumpuh, artinya kita juga hadir dalam tidak berempati terkait tentang aktivitas masyarakat lainnya," imbuhnya.

Guna mengamankan jalannya demonstrasi, sebanyak 9.242 personel gabungan dikerahkan di berbagai titik vital.

Dari jumlah itu, sebanyak 6.962 personel di antaranya diturunkan oleh Polres Metro Jakarta Pusat secara persuasif dan tanpa senjata api.

 

EDITOR: Bayu Putra