← Beranda
Data Keanekaragaman Hayati Jadi Dasar Pembangunan Kota Tangerang
Dinarsa KurniawanSelasa, 18 Agustus 2026 | 22.57 WIB
Peserta mengidentifikasi keanekaragaman hayati di ruang terbuka hijau Kota Tangerang melalui kegiatan inventarisasi secara partisipatif. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Ketika pembangunan kota terus bergerak, perhatian terhadap lingkungan perlu berjalan beriringan. Ruang terbuka hijau dan biru menjadi habitat bagi burung, kupu-kupu, pepohonan, serangga, hingga berbagai flora dan fauna.

“Data keanekaragaman hayati penting untuk mengetahui apa yang ada di kota,” ujar Christian Natalie, Manajer Program Kehutanan Yayasan KEHATI.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Inventarisasi Data Keanekaragaman Hayati (Kehati) di Kota Tangerang pada 12–13 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Urban Biodiversity (Urbio) Yayasan KEHATI.

Inventarisasi dilakukan melalui eksplorasi dan identifikasi flora serta fauna secara partisipatif di sejumlah ruang terbuka hijau dan biru, antara lain Taman Gajah, Taman Cikokol, Taman Potret, dan Taman Bambu. “Kita tidak bisa mengelola sesuatu yang tidak kita ketahui,” kata Christian.

Menurut dia, pemerintah daerah membutuhkan basis data biodiversitas sebagai pertimbangan dalam menentukan tata ruang, mengelola ruang terbuka hijau dan biru, merancang pembangunan, hingga mengalokasikan anggaran lingkungan.
“Luas RTH belum tentu menunjukkan kualitas ekologis,” tuturnya.

Taman dengan area luas belum tentu memiliki keragaman spesies lokal, menyediakan habitat, mendukung rantai makanan, maupun memberikan fungsi ekologis secara optimal. Karena itu, pengelolaan ruang terbuka hijau dan biru perlu dilengkapi informasi mengenai kualitas ekologis dan biodiversitas.

Hal tersebut sejalan dengan Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045 yang menempatkan ruang terbuka hijau dan biru sebagai bagian dari target nasional pembangunan keanekaragaman hayati.

Salah satu indikatornya adalah akses publik terhadap ruang terbuka hijau dan biru di kawasan perkotaan dengan target 30 persen dari total luas wilayah perkotaan pada 2045.

 

Data Keanekaragaman Hayati Masuk Perencanaan

Yayasan KEHATI mendorong pemerintah daerah mengintegrasikan data biodiversitas ke dalam RPJMD, RTRW, serta rencana pengelolaan ruang terbuka hijau dan biru. “Tanpa data biodiversitas, kebijakan berisiko dibuat berdasarkan asumsi,” ujar Christian.

Data tersebut diperlukan untuk mengetahui spesies yang hidup di suatu wilayah, habitat penting, kualitas ekologis, serta perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Pemerintah daerah juga dinilai perlu memiliki Profil dan Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Daerah yang diperbarui secara berkala.
Libatkan Masyarakat

Inventarisasi di Kota Tangerang menggunakan pendekatan citizen science dengan melibatkan masyarakat dalam menemukan, mencatat, dan memahami biodiversitas di lingkungan sekitar. “Citizen science memberi kita data sekaligus kepedulian,” kata dia.

Dari inventarisasi tersebut, Yayasan KEHATI bersama para pihak menargetkan terbentuknya dataset biodiversitas perkotaan, peta hotspot biodiversitas, laporan inventarisasi, serta rekomendasi kebijakan. Data itu kemudian akan dikembangkan menjadi Profil Kehati Daerah Kota Tangerang yang ditargetkan selesai pada akhir 2026. “Kota juga merupakan ekosistem,” ujar Christian. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan