JawaPos.com - Polda Metro Jaya mengamankan 21 orang yang diduga hendak memicu kerusuhan dalam aksi unjuk rasa di Jakarta, Selasa (18/8).
Dari hasil pendalaman awal pihak kepolisian, puluhan orang yang ditangkap tersebut dipastikan bukan merupakan kelompok mahasiswa yang ingin menyampaikan aspirasi.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan, penangkapan tersebut dilakukan guna menjaga kondusivitas penyampaian pendapat di muka umum.
"Sebanyak 21 orang ini setelah didalami bukan merupakan dari mahasiswa yang akan menyampaikan aspirasi," ujar Budi, Selasa (18/8).
Sita Petasan hingga Botol Bom Molotov
Dalam penindakan tersebut, petugas kepolisian menemukan sejumlah barang berbahaya yang disiapkan oleh kelompok penyusup tersebut. Barang bukti yang disita meliputi 12 petasan, enam botol kaca yang diduga disiapkan sebagai bom molotov, serta beberapa flare.
Saat ini, penyidik masih mendalami motif di balik pemilikan serta niat penggunaan barang-barang berbahaya itu di lokasi demonstrasi.
"Adapun barang-barang temuan berupa flare, petasan kembang api, dan botol yang disiapkan untuk bom molotov ini dipersiapkan. Kami masih mendalami apakah tujuannya kepada petugas pengamanan, apakah kepada peserta aksi, atau kepada masyarakat sekitar," terang Budi.
Pihak kepolisian menyesalkan adanya dugaan upaya provokasi dan perusakan dalam aksi unjuk rasa ini. Kehadiran elemen perusuh dinilai dapat merusak iklim demokrasi serta membahayakan keselamatan para peserta aksi damai maupun masyarakat luas.
"Apabila ini terjadi, aksi atau susupan dari orang-orang yang membawa barang tadi, ini dapat mencederai penyampaian pendapat yang sudah dilindungi undang-undang," tegasnya.
Ribuan Personel Gabungan Dikerahkan
Untuk mengawal jalannya penyampaian aspirasi, sebanyak 9.242 personel gabungan disiagakan di berbagai titik strategis wilayah hukum Polda Metro Jaya. Pengamanan ketat terkonsentrasi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) hingga Patung Kuda.
Total pengamanan ini mengawal 31 aksi unjuk rasa dan 16 kegiatan masyarakat. Khusus di wilayah Jakarta Pusat, Polres Metro Jakarta Pusat menerjunkan 6.962 personel.
Langkah ini diambil mengingat aksi unjuk rasa di kawasan Bundaran HI melibatkan sekitar 1.000 mahasiswa dari aliansi Nasional Menggugat Kemerdekaan, yang terdiri atas BEM UI, Universitas Pancasila, PNJ, Paramadina, Trilogi, Unpad, UNJ, Gunadarma, FMN, serta elemen masyarakat lainnya.
Alasan Mahasiswa Pilih Bundaran HI ketimbang Gedung DPR
Dalam aksi tersebut, aliansi mahasiswa memilih menggelar unjuk rasa di titik pusat kota ketimbang di Gedung DPR RI. Ketua BEM UI, Yatalathof Ma'shum Imawan (Athof), membeberkan pertimbangan di balik keputusan kelompoknya.
"Justru kenapa harus DPR? Dengan kondisi mereka tidak berfungsi," kata Athof.
Athof menilai unjuk rasa ini menjadi momentum kritis karena masyarakat dinilai belum merasakan kemerdekaan secara hakiki. Ia menyoroti kondisi sosial-politik nasional yang dianggap sedang mengalami krisis kedaulatan.
"1.000 massa akan hadir. Karena kemerdekaan belum benar-benar terjadi dan penguasa tidak ingin mendengar," tutur Athof.
Pertanyakan Esensi Kemerdekaan
Aksi damai ini sekaligus menjadi wadah refleksi kritis aliansi mahasiswa terhadap arah tata kelola pemerintahan saat ini. Athof menyinggung kembali sejarah pendirian bangsa 81 tahun lalu yang mengusung konsep negara republik milik rakyat.
"Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan dan memilih jalan republik: negara yang bukan milik penguasa, bukan milik pengusaha, melainkan milik seluruh rakyat," ucapnya.
Ia menegaskan, kehadiran massa di jalanan adalah untuk mempertanyakan efektivitas dan substansi dari kebijakan pemerintah yang dirasakan masyarakat pasca-seremoni kenegaraan.
Baca Juga: BEM UI Demo di Bundaran HI, Pemprov DKI Minta WFH dan Siswa Diizinkan Belajar dari Rumah
"Hari ini, sehari setelah seremoni kenegaraan itu digelar, kami turun ke jalan bukan untuk merayakan, tapi untuk bertanya dengan lantang: kemerdekaan macam apa yang sedang kita rayakan?" ungkap Athof. (*)