← Beranda
Tidak Ingin Keluar Jalur di Jalan Menuju Tujuan Hidup? 7 Cara Ini untuk Melindungi Jalan Pilihan
Irfan FerdiansyahMinggu, 16 Agustus 2026 | 00.37 WIB
seseorang yang keluar dari tujuan hidupnya./Magnific/The Yuri Arcurs Collection

JawaPos.com - Setiap orang memiliki jalan hidup yang ingin ditempuh. Ada yang ingin membangun karier, memiliki kehidupan keluarga yang baik, mengembangkan bisnis, memperbaiki kondisi finansial, atau sekadar menjalani hidup yang lebih tenang dan bermakna.

Namun, memiliki tujuan tidak selalu berarti kita akan berjalan lurus menuju ke sana.

Dalam perjalanan, ada banyak hal yang dapat membuat seseorang keluar jalur: terlalu banyak mendengarkan pendapat orang lain, membandingkan diri dengan orang lain, kehilangan motivasi, takut gagal, terlalu mengejar kesempurnaan, atau terlalu lama memikirkan masa lalu.

Menariknya, psikologi menunjukkan bahwa menjaga arah hidup bukan hanya persoalan memiliki kemauan yang kuat. Kita juga membutuhkan cara untuk mengelola perhatian, emosi, kebiasaan, lingkungan, dan cara berpikir.

Tujuan hidup pada dasarnya seperti sebuah arah. Anda tidak harus berjalan sempurna setiap hari. Yang lebih penting adalah mengetahui ketika Anda mulai menyimpang dan mampu mengembalikan diri ke jalur yang benar.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (14/8), jika Anda tidak ingin terlalu jauh keluar dari jalan menuju tujuan hidup Anda, berikut tujuh cara yang dapat membantu.

1. Tentukan dengan jelas jalan yang benar-benar ingin Anda tempuh

Salah satu alasan seseorang mudah keluar jalur adalah karena ia sendiri tidak benar-benar mengetahui ke mana hendak pergi.

Banyak orang menjalani kehidupan berdasarkan ekspektasi lingkungan. Mereka mengejar pekerjaan tertentu karena dianggap sukses, mengejar penghasilan tertentu karena dianggap membanggakan, atau mengikuti gaya hidup tertentu karena melihat orang lain melakukannya.

Akibatnya, seseorang bisa terlihat sibuk tetapi sebenarnya tidak bergerak menuju kehidupan yang benar-benar ia inginkan.

Dalam psikologi, tujuan yang jelas membantu mengarahkan perhatian dan perilaku. Ketika seseorang mengetahui apa yang penting baginya, ia akan lebih mudah menentukan mana yang perlu dilakukan dan mana yang sebenarnya hanya gangguan.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

"Apa yang ingin saya dapatkan?"

Cobalah bertanya lebih dalam:

"Kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin saya bangun?"

Misalnya, tujuan Anda bukan sekadar "ingin kaya", tetapi ingin memiliki kebebasan finansial agar dapat menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga.

Tujuan Anda bukan sekadar "ingin sukses dalam karier", tetapi ingin menguasai bidang tertentu dan melakukan pekerjaan yang memberikan rasa bermakna.

Semakin jelas alasan di balik tujuan, semakin mudah Anda melindungi diri dari berbagai jalan yang sebenarnya tidak sesuai dengan arah hidup Anda.

Anda tidak perlu mengetahui seluruh perjalanan sejak awal. Anda hanya perlu mengetahui arah yang ingin dituju.

2. Jangan biarkan pendapat orang lain menjadi kompas hidup Anda

Salah satu penyebab seseorang kehilangan arah adalah terlalu sering menggunakan kehidupan orang lain sebagai ukuran untuk dirinya sendiri.

Ketika melihat teman mendapatkan pekerjaan lebih baik, Anda merasa tertinggal.

Ketika melihat orang lain menikah lebih dulu, Anda merasa kehidupan Anda gagal.

Ketika melihat seseorang memiliki rumah, kendaraan, bisnis, atau pencapaian tertentu, Anda mulai mempertanyakan perjalanan Anda sendiri.

Padahal, setiap orang memiliki titik awal, kondisi, kesempatan, kemampuan, dan prioritas yang berbeda.

Psikologi sosial banyak membahas kecenderungan manusia untuk melakukan perbandingan sosial. Membandingkan diri dengan orang lain memang merupakan sesuatu yang alami, tetapi jika dilakukan terus-menerus tanpa kesadaran, hal tersebut dapat membuat kita kehilangan ukuran keberhasilan pribadi.

Masalahnya bukan ketika Anda melihat keberhasilan orang lain.

Masalah muncul ketika keberhasilan orang lain membuat Anda meninggalkan jalan yang sebenarnya Anda pilih.

Karena itu, belajarlah membedakan antara inspirasi dan tekanan sosial.

Anda boleh belajar dari orang lain.

Anda boleh mengagumi pencapaian orang lain.

Anda bahkan boleh menjadikan orang lain sebagai inspirasi.

Tetapi jangan sampai kehidupan mereka menjadi alasan Anda membenci kehidupan sendiri.

Tanyakan kepada diri Anda:

"Apakah saya benar-benar menginginkan ini, atau saya hanya menginginkannya karena melihat orang lain memilikinya?"

Pertanyaan sederhana tersebut dapat menyelamatkan Anda dari banyak keputusan yang sebenarnya tidak sesuai dengan diri sendiri.

3. Bangun kebiasaan kecil yang menjaga Anda tetap berada di jalur

Banyak orang terlalu fokus pada tujuan besar dan lupa bahwa kehidupan sehari-hari dibentuk oleh kebiasaan kecil.

Seseorang mungkin memiliki impian untuk menjadi sehat, tetapi jika setiap hari tidak pernah bergerak dan selalu mengabaikan pola hidupnya, impian tersebut tidak akan banyak membantu.

Seseorang mungkin ingin membangun bisnis, tetapi jika setiap hari tidak pernah meluangkan waktu untuk belajar dan mengembangkan bisnis tersebut, tujuan itu hanya akan menjadi keinginan.

Dalam psikologi perilaku, kebiasaan memiliki peran penting karena perilaku yang dilakukan berulang kali dapat menjadi semakin otomatis.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

"Apa yang harus saya capai tahun ini?"

Tanyakan juga:

"Apa yang harus saya lakukan secara konsisten setiap hari?"

Tujuan besar membutuhkan sistem kecil.

Jika ingin menjadi penulis, biasakan menulis.

Jika ingin memiliki tubuh yang lebih sehat, biasakan bergerak.

Jika ingin meningkatkan kemampuan, biasakan belajar.

Jika ingin memiliki kondisi finansial yang lebih baik, biasakan mengelola pengeluaran.

Kebiasaan kecil mungkin terlihat tidak berarti ketika dilakukan sekali. Tetapi ketika dilakukan berulang kali selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, dampaknya dapat menjadi sangat besar.

Jalan hidup tidak dijaga oleh satu keputusan besar.

Jalan hidup sering kali dijaga oleh keputusan-keputusan kecil yang kita ulang setiap hari.

4. Belajar mengatakan "tidak" kepada hal-hal yang tidak sejalan dengan tujuan

Setiap kali Anda mengatakan "ya" kepada sesuatu, sebenarnya Anda juga sedang mengatakan "tidak" kepada hal lain.

Waktu Anda terbatas.

Energi Anda terbatas.

Perhatian Anda terbatas.

Karena itu, tidak mungkin Anda mengejar semua hal sekaligus.

Seseorang yang ingin mencapai tujuan tertentu perlu memiliki kemampuan untuk menetapkan batas.

Bukan berarti Anda harus menjadi orang yang keras atau tidak peduli terhadap orang lain. Namun, Anda perlu mengetahui bahwa tidak semua permintaan, kesempatan, undangan, atau distraksi harus Anda terima.

Kadang-kadang, keluar jalur tidak terjadi karena kita membuat keputusan yang sangat buruk.

Kita keluar jalur karena terlalu banyak mengatakan "ya" kepada hal-hal yang sebenarnya tidak penting.

Terlalu banyak kegiatan.

Terlalu banyak hiburan.

Terlalu banyak media sosial.

Terlalu banyak mencoba menyenangkan orang lain.

Terlalu banyak mengejar sesuatu hanya karena takut kehilangan kesempatan.

Pada akhirnya, perhatian kita terpecah.

Karena itu, belajar mengatakan:

"Tidak sekarang."

"Ini bukan prioritas saya."

"Saya tidak bisa mengambil tanggung jawab ini."

"Saya memilih fokus pada hal yang sedang saya bangun."

Kemampuan mengatakan "tidak" bukan sekadar kemampuan menolak orang lain.

Ini adalah kemampuan melindungi arah hidup Anda.

5. Jangan mengambil keputusan besar ketika emosi sedang menguasai diri

Emosi adalah bagian penting dari manusia. Marah, kecewa, takut, sedih, dan cemas adalah pengalaman yang normal.

Namun, emosi yang kuat dapat memengaruhi cara kita melihat situasi dan mengambil keputusan.

Ketika sedang sangat kecewa, kita mungkin ingin menyerah.

Ketika sedang marah, kita mungkin ingin menghancurkan sesuatu yang sebenarnya masih bisa diperbaiki.

Ketika sedang takut, kita mungkin menganggap sebuah risiko jauh lebih besar daripada kenyataannya.

Ketika sedang sedih, kita mungkin melihat masa depan seolah-olah tidak memiliki harapan.

Karena itu, ketika emosi sedang sangat kuat, jangan buru-buru mengambil keputusan yang mengubah arah hidup.

Berikan diri Anda waktu.

Tarik napas.

Beristirahat.

Bicaralah dengan orang yang dapat dipercaya.

Tuliskan apa yang Anda rasakan.

Kemudian kembali melihat persoalan tersebut ketika emosi sudah lebih stabil.

Ini bukan berarti Anda harus mengabaikan emosi.

Justru sebaliknya.

Anda perlu mendengarkan emosi tanpa membiarkannya memegang kendali penuh atas keputusan.

Emosi dapat memberikan informasi, tetapi tidak selalu memberikan instruksi yang harus langsung diikuti.

Kadang-kadang, yang Anda butuhkan bukan jalan baru.

Anda hanya sedang membutuhkan waktu untuk beristirahat dari jalan yang sedang ditempuh.

6. Evaluasi arah hidup secara berkala

Orang yang sedang melakukan perjalanan jauh tidak hanya terus berjalan. Sesekali ia melihat peta.

Begitu juga dengan kehidupan.

Anda perlu berhenti sesekali dan bertanya:

"Apakah saya masih menuju ke arah yang saya inginkan?"

Pertanyaan ini penting karena kehidupan berubah.

Apa yang Anda inginkan lima tahun lalu mungkin tidak lagi menjadi prioritas hari ini.

Nilai-nilai Anda dapat berkembang.

Pengalaman dapat mengubah perspektif.

Prioritas keluarga dapat berubah.

Karier dapat berubah.

Karena itu, menjaga arah hidup bukan berarti memaksakan diri mengikuti rencana lama tanpa mempertimbangkan perubahan.

Justru, orang yang memiliki arah hidup yang sehat mampu melakukan evaluasi dan menyesuaikan strategi.

Anda dapat melakukan evaluasi sederhana setiap minggu atau setiap bulan.

Tanyakan:

Apa yang sudah saya lakukan dengan baik?
Apa yang membuat saya semakin dekat dengan tujuan?
Apa yang justru membuat saya menjauh?
Kebiasaan apa yang perlu diperbaiki?
Apa yang perlu saya kurangi?
Apa yang benar-benar penting bagi saya saat ini?

Evaluasi seperti ini membantu Anda mendeteksi penyimpangan sejak dini.

Semakin cepat Anda menyadari bahwa Anda mulai keluar jalur, semakin mudah Anda kembali.

7. Jangan takut memperlambat langkah ketika diperlukan

Ada satu kesalahpahaman yang sering terjadi ketika seseorang mengejar tujuan hidup: kita menganggap bahwa semakin cepat kita bergerak, semakin baik.

Padahal, tidak selalu demikian.

Ada saatnya Anda perlu memperlambat langkah.

Ada saatnya Anda perlu beristirahat.

Ada saatnya Anda perlu mengubah strategi.

Ada saatnya Anda perlu mengakui bahwa cara yang selama ini digunakan ternyata tidak efektif.

Berhenti sejenak bukan berarti menyerah.

Memperlambat langkah bukan berarti gagal.

Mengubah strategi bukan berarti kehilangan tujuan.

Bayangkan seseorang sedang mengendarai kendaraan menuju sebuah kota. Jika ia menyadari bahwa jalan yang dipilih ternyata salah, apakah masuk akal jika ia terus mempercepat kendaraan hanya agar lebih cepat sampai?

Tentu tidak.

Ia perlu berhenti, melihat peta, kemudian kembali mengambil arah yang benar.

Dalam kehidupan pun demikian.

Terkadang, kemajuan bukan berarti terus bergerak tanpa berhenti.

Kemajuan berarti memiliki keberanian untuk berhenti ketika diperlukan agar tidak semakin jauh dari tujuan.

Jadi, jangan merasa bersalah ketika Anda membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Jangan merasa gagal hanya karena perjalanan Anda lebih lambat daripada orang lain.

Yang penting bukan seberapa cepat Anda berjalan.

Yang penting adalah apakah langkah Anda masih membawa Anda ke arah kehidupan yang ingin Anda bangun.

Anda Tidak Harus Berjalan Sempurna untuk Tetap Berada di Jalur

Pada akhirnya, menjaga jalan hidup bukan tentang tidak pernah melakukan kesalahan.

Anda mungkin akan kehilangan fokus.

Anda mungkin akan mengambil keputusan yang salah.

Anda mungkin akan mengalami kegagalan.

Anda mungkin akan berubah pikiran.

Anda bahkan mungkin akan tersesat untuk sementara waktu.

Semua itu adalah bagian dari perjalanan.

Yang penting adalah kemampuan untuk menyadari ketika Anda mulai menjauh dari arah yang penting bagi Anda dan memiliki keberanian untuk kembali.

Tujuh hal yang dapat membantu menjaga jalan tersebut adalah memperjelas tujuan, tidak menjadikan kehidupan orang lain sebagai kompas, membangun kebiasaan kecil, belajar mengatakan tidak, mengelola keputusan ketika emosi sedang kuat, mengevaluasi arah secara berkala, dan berani memperlambat langkah ketika diperlukan.

Jangan terlalu sibuk mengejar tujuan sampai lupa mengapa Anda mengejarnya.

Jangan terlalu sibuk melihat perjalanan orang lain sampai lupa melihat jalan Anda sendiri.

Dan jangan menganggap bahwa perjalanan yang lambat berarti perjalanan yang gagal.

Hidup bukan perlombaan untuk sampai lebih cepat daripada orang lain.

Hidup adalah perjalanan untuk membangun kehidupan yang benar-benar sesuai dengan nilai, tujuan, dan hal-hal yang Anda anggap penting.

Karena itu, jika suatu hari Anda merasa mulai kehilangan arah, jangan langsung menyimpulkan bahwa semuanya telah gagal.

Berhentilah sebentar.

Lihat kembali tujuan Anda.

Periksa langkah Anda.

Buang hal-hal yang tidak perlu.

Perbaiki kebiasaan.

Kemudian lanjutkan perjalanan.

Anda tidak harus mengetahui seluruh jalan di depan.

Anda hanya perlu cukup sadar untuk mengetahui arah mana yang ingin Anda jaga.

EDITOR: Hanny Suwindari