JawaPos.com - Keberadaan arena bermain atau playground modern berbayar tengah menjamur di berbagai pusat perbelanjaan. Lantas, apakah keberadaan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di DKI Jakarta telah kehilangan pesonanya?
Saat ini, Jakarta memiliki 324 RPTRA yang tersebar di 5 kota dan kabupaten. Tempat bermain terbuka milik Pemprov DKI ini tetap menjadi ruang interaksi yang diandalkan warga ibu kota untuk mengisi waktu luang anak-anak.
Hal ini tercermin dari masih ramainya anak-anak yang bermain di RPTRA saat sore hari. Misalnya di RPTRA Menara, Jalan Menara, Kembangan, Jakarta Barat. Tampak beberapa anak asyik menaiki perosotan merah bertangga kuning, sementara beberapa balita didampingi orang tuanya bermain ayunan dan mainan pegas berkepala kuda di atas lantai karet hitam berpola petak.
Baca Juga: FA Resmi Dakwa Pelatih Southampton Tonda Eckert dalam Skandal Spygate
Di sudut lain, beberapa warga duduk bersantai di bangku taman oranye sembari mengawasi buah hati mereka yang berlarian bebas.
Namun, di balik riuhnya tawa anak-anak, kondisi fasilitas masih menjadi keluhan masyarakat. Kerap ditemui wahana yang mengalami kerusakan atau hilang, seperti unit ayunan yang tak lagi utuh hingga tidak adanya fasilitas olahraga outdoor.
Agung, 33, pengasuh Pondok Yatim dan Dhuafa Meruya Selatan, menuturkan, rutinitas bermain ke RPTRA biasanya dilakukan tiap sore hari atau akhir pekan. Selain area terbuka, perpustakaan dan aula RPTRA menjadi sarana pendukung interaksi anak-anak.
Ia mengungkapkan, RPTRA menjadi pilihan utama karena menyesuaikan kemampuan finansial panti yang mengasuh sembilan anak. Jika harus ke Playground di Mall, ia harus merogoh kocek dalam-dalam.
"Kalau ke mall harganya itu minimal Rp100 ribu ke atas per orang. Anggaran kita yang enggak ada. Anak ada sembilan, ditambah pendamping suami istri dua orang, total 11 orang sekali masuk. Dengan anggaran segitu enggak masuk di anggaran," ujar Agung saat diwawancarai di RPTRA Menara.
Bagi Agung dan anak-anak asuhnya, RPTRA Menara merupakan lokasi yang paling mudah dijangkau dari asrama mereka di Jalan H. Sa'aba, Meruya Selatan. Anak-anak biasanya datang berkelompok menggunakan sepeda di sore hari atau akhir pekan.
Meski sangat bersyukur dengan adanya RPTRA, Agung menyoroti perlunya kelengkapan fasilitas yang ramah untuk anak usia sekolah dasar (SD) di atas 8 tahun. Menurutnya, anak-anak usia tersebut membutuhkan wahana kebugaran atau outdoor fitness seperti yang ada di RPTRA atau Hutan Kota wilayah lain.
"Fasilitas di sini seperti yang dilihat, ayunannya sudah hilang satu. Terus biasanya kalau di RPTRA lain ada kayak semacam fitness outdoor buat kaki, gowes sepeda, atau pull up. Kalau untuk anak usia di atas 8 tahun kan kurang cocok wahana balita, paling sisanya tinggal jogging sama baca buku saja. Jadi memang yang kurang di fasilitas olahraga itu," jelasnya.
Antara Kenyamanan Mall dan Kebutuhan Ruang Publik Gratis
Hal serupa disampaikan Irma, 30, warga Jalan Serbaguna, Kembangan. Sembari mengawasi anaknya yang masih balita bermain, ia mengakui bahwa masyarakat saat ini memang banyak yang tergiur memilih playground di mall karena permainan yang lebih beragam dan berpendingin udara.
Baca Juga: Hotman Paris Mundur dari Pengacara Eks Jampidsus Febrie Adriansyah di Kasus Korupsi dan TPPU
Meski demikian, Irma memilih tetap memanfaatkan RPTRA terdekat untuk mengenalkan anaknya pada lingkungan luar tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam. Ia juga berharap adanya pemeliharaan rutin terhadap fasilitas taman yang rusak di sekitar pemukiman warga.
"Di dekat rumah sebenarnya ada RPTRA yang lebih dekat, cuma permainannya sudah pada rusak, enggak bisa dimainin. Jadi paling cuma duduk-duduk aja. Kalau di RPTRA yang ini masih ada yang bisa dipakai," kata Irma.
Jutaan Warga Bergantung pada RPTRA, Pemprov DKI Targetkan Revitalisasi
Kondisi di lapangan tersebut sejalan dengan data resmi Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta. Dinas PPAPP mencatat jumlah kunjungan ke 324 RPTRA se-Jakarta sepanjang bulan Juni 2026 mencapai 1.048.150 orang.
Baca Juga: Kabar Baik! Persib Bandung Bebas dari FIFA Registration Ban
Angka tersebut didominasi oleh kelompok dewasa sebanyak 341.669 pengunjung dan anak-anak sebanyak 309.496 pengunjung, disusul remaja (216.071), balita (100.456), dan lansia (80.458).
Kepala Dinas PPAPP DKI Jakarta Dwi Oktavia menegaskan, keberadaan RPTRA masih menjadi pilihan masyarakat. Keberadaan playground berbayar, nyatanya tidak mempengaruhi minat masyarakat.
"Masih banyak pengunjung," ujarnya merujuk jumlah pengunjung RPTRA.
Meski begitu, ia mengakui adanya sejumlah fasilitas RPTRA yang mengalami kerusakan akibat usia pakai dan tingginya intensitas penggunaan. Saat ini pihak Pemprov tengah fokus melakukan pendataan dan pemetaan kondisi fisik RPTRA untuk prioritas perbaikan.
"Kami sedang melakukan pendataan untuk menentukan RPTRA mana yang membutuhkan perbaikan terlebih dahulu sebelum melangkah ke penambahan lokasi baru," jelas Dwi.
Meski fokus utama adalah perbaikan fasilitas yang ada, peluang penambahan RPTRA baru tetap terbuka lebar jika kedepan ditemukan lahan yang tepat.
Baca Juga: Sinyal Stasiun Citayam Dirusak, 6 Perjalanan KRL Bogor–Jakarta Terganggu
"Jika ada lokasi potensial dan ideal untuk RPTRA bisa kita lakukan, dengan skema penyiapan sarana dan prasarananya melalui CSR (Corporate Social Responsibility) atau creative financing," jelas Dwi.
Selain penyediaan sarana fisik, Dinas PPAPP juga terus menjalankan berbagai program prioritas untuk anak dan keluarga di Jakarta, di antaranya:
- Pengembangan sekolah yang memiliki Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R).
- Pemberdayaan Komunitas Forum Anak Jakarta.
- Aktivasi Komunitas Generasi Berencana.
- Program Bina Keluarga Balita.
Mendorong Jakarta Sebagai Kota Global Berketahanan
Pengembangan ruang publik ini sejalan dengan capaian kinerja Pemprov DKI Jakarta pada Triwulan II-2026. Kepala Bappeda DKI Jakarta, Atika Nur Rahmania, menyampaikan bahwa Pemprov DKI terus berpijak pada pilar pemenuhan pelayanan dasar, pelestarian lingkungan, dan akselerasi Jakarta sebagai kota global.
"Dari aspek kesehatan, kita terus memperkuat ekosistem kesehatan terpadu dengan tiga pendekatan, yaitu promotif, preventif, dan rehabilitatif," kata Atika.
Baca Juga: Phil Foden Resmi Perpanjang Kontrak di Manchester City hingga 2030
Atika menambahkan, pada aspek promotif, Pemprov DKI berfokus pada pembangunan serta revitalisasi ruang terbuka hijau (RTH) sebagai ruang publik sehat guna mendukung aktivitas fisik dan sosial warga.
Setelah meresmikan Taman Kosambi pada Triwulan II-2026, Pemprov DKI Jakarta telah menargetkan pembangunan 10 RTH baru serta penataan 49 RTH lainnya hingga akhir tahun 2026.