← Beranda
Penyelidikan Kebakaran TPA Jatiwaringin Tangerang Tunggu Api Padam
AntaraMinggu, 5 Juli 2026 | 18.25 WIB
Sejumlah kader kesehatan mengukur kadar polutan akibat kebakaran TPA Jatiwaringin di Desa Tanjakan Mekar, Rajeg, Tangerang, Jumat (03/07/3026). (Hanung Hambara/Jawa Pos)

JawaPos.com - Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bakal menyelidiki penyebab kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten.

Meski demikian, penyelidikan baru akan dilakukan setelah pemadaman kebakaran benar-benar tuntas.

Saat ini, KLH masih fokus pada Upaya pemadaman api dan mencegah meluasnya sebaran asap dari dampak kebakaran TPA tersebut.

"Tidak mungkin juga kita olah TKP di sini untuk cari penyebab (kebakaran)," kata Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup pada Kementerian LH Irjen Rizal Irawan di Tangerang, Minggu (5/7) sebagaimana dilansir dari Antara.

Baca Juga: Kebakaran TPA Jatiwaringin Tak Kunjung Padam, Pemkab Tangerang Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana

Ia memastikan bahwa penyelidikan dan pengungkapan untuk penegakan hukum baru akan dilakukan setelah seluruh proses pemadaman di TPA Jatiwaringin dinyatakan selesai secara total.

"Nanti upaya-upaya penegakan hukum kita lihat setelah prosesnya selesai. Baru kita akan turun lagi tim ke sini," katanya.

Rizal mengungkapkan, TPA Jatiwaringin pada tahun 2025 telah mendapatkan sanksi administrasi dari KLH terkait tata kelola yang kurang baik.

Selain memberi sanksi, saat itu KLH menginstruksikan pemda selaku pengelola untuk menerapkan sistem controlled landfill atau penimbunan sampah terkendali.

"Dari tahun lalu dengan sekarang, upaya yang dilakukan oleh pemkab itu sudah melakukan controlled landfill. Ternyata selama setahun dia baru bisa berhasil lima atau enam hektare. Memang kita bisa mengerti bahwa dari total lahan 33 hektar ini enggak mungkin satu tahun, pasti," kata Rizal.

Baca Juga: Kebakaran di TPA Jatiwaringin Banten, BNPB Kerahkan Helikopter Water Bombing untuk Padamkan Api

Ia menjelaskan, titik api yang memicu kebakaran hebat di TPA tersebut berada di luar zona penanganan penimbunan sampah terkendali. "Nah, yang terbakar ini di area yang di luar controlled landfill," papar Rizal.

Saat ini KLH tengah menjadwalkan evaluasi menyeluruh terhadap 390 TPA di seluruh Indonesia. Evaluasi akan dimulai pada awal Agustus 2026.

"Itu evaluasi nanti di 1 Agustus. Jadi semua, sekitar 390 TPA itu nanti akan dilakukan evaluasi. Mana yang taat dan tidak," tegas dia.

Sebelumnya, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Faisal Malik Hendropriyono menyebut, penanganan pemadaman kebakaran di TPA Jatiwaringin terus dilakukan melalui operasi gabungan yang dilakukan petugas dari berbagai unsur.

Pihaknya telah menerjunkan thermal drone untuk mendeteksi radiasi panas untuk menganalisa sumber kebakaran, titik-titik apinya.

Baca Juga: TPA Jatiwaringin Mauk Tangerang Terbakar, Petugas Damkar Lakukan Pendinginan

"Jadi kami hanya bisa melakukan monitoring analisa melalui drone secara berkala," katanya.

Pihaknya juga mengerahkan dua mobile monitoring sistem untuk memantau udara di lokasi kebakaran. Salah satunya memonitor kandungan SO_2 (sulfur dioxide), NO_2 (nitrogen dioxide), dan juga PM 1.0 dan PM 2.5.

"Kalau baku mutunya yang dibilang baik itu 15,5 dan sedang dari 15,5 sampai 55,5, dan setelah itu tidak sehat dan membahayakan dan lain sebagainya. Dan ini sudah sampai ke tingkat 1.000. Jadi berapa hari ini sudah tingkat 1.000, tetapi tadi malam saya lihat langsung menurun drastis," paparnya.

Dengan karakteristik yang sama seperti kebakaran lahan gambut, Kementerian Kehutanan telah menerjunkan 30 personel tim Manggala Agni dari wilayah Sulawesi dan Jawa Barat.

Menurut Diaz, mereka sudah memiliki pengalaman baik dan dilengkapi peralatan highpressure khusus, untuk melakukan pemadaman langsung ke titik api di bawah permukaan tumpukan sampah.

Baca Juga: Cegah Kebakaran EV di Kapal, Profesor ITS Teliti Desain Keselamatan Operasional

"Karena TPA ini mungkin bukannya tidak efektif, tapi kurang efektif kalau diairi dari atas saja. Karena di bawahnya tetap kebakaran, sehingga kita butuh bantuan Manggala Agni untuk melakukan inject sampai ke titik di bawah," ujarnya.

Selain itu, BNPB bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan skema operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) guna membantu percepatan pemadaman.

Sehingga, situasi kedaruratan kebencanaan kebakaran yang mencapai kurang lebih 15 hektare bisa segera terkendali.


EDITOR: Bayu Putra