JawaPos.com – Polusi udara masih menjadi persoalan yang sulit diatasi di Jakarta. Meski berbagai kebijakan telah diterapkan pemerintah, kualitas udara ibu kota kerap berada dalam kategori tidak sehat dan berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.
Menurut WHO dalam laman resmi mereka, polusi udara, terutama partikel halus PM2.5, menjadi ancaman kesehatan utama di kota-kota seperti Jakarta.
PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk hingga ke paru-paru dan aliran darah, meningkatkan risiko penyakit pernapasan, stroke, penyakit jantung, hingga kematian dini. WHO sendiri menjadikan PM2.5 sebagai salah satu indikator utama kualitas udara perkotaan.
Baca Juga: Insentif EV 2026 Abaikan Hybrid, Toyota Singgung Kontribusi Tekan Polusi
Dari sisi kesehatan, menurut jurnal dari Multidisciplinary Digital Publishing Institute, polusi udara berkontribusi terhadap lebih dari 10 ribu kematian setiap tahun.
Jurnal yang sama juga mencatat bahwa buruknya kualitas udara ikut andil dalam lebih dari 5 ribu kasus rawat inap, serta ribuan gangguan kesehatan pada anak-anak.
Di tengah banyaknya sumber pencemaran, mulai dari kendaraan bermotor, aktivitas industri, hingga pembakaran sampah, keterlibatan warga dinilai menjadi salah satu kunci untuk memperkuat upaya perbaikan kualitas udara.
Pandangan tersebut mengemuka dalam Forum Udara Warga bertajuk Udara Kita, Suara Kita yang digelar di kawasan Tebet Eco Park, Jakarta, Minggu (21/6) lalu.
Baca Juga: 7 Cara Ampuh Melindungi Kulit dari Polusi Udara, Cara Sederhana Bikin Glowing
Forum tersebut mempertemukan berbagai komunitas warga untuk berbagi pengalaman dan mencari solusi terhadap persoalan polusi udara yang mereka hadapi sehari-hari.
Kepala Sub-kelompok Pemantauan Kualitas Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Rahmawat, menilai partisipasi masyarakat dalam forum tersebut memiliki peran penting dalam upaya pengendalian pencemaran udara.
"Apa yang komunitas lakukan ini bukan hanya melengkapi program pemerintah. Ini yang seharusnya menjadi fondasi kebijakan udara bersih kita ke depan," ungkapnya.
Baca Juga: 13 Spot Jogging Favorite Akhir Pekan di Surabaya yang Nyaman dan Minim Polusi
Selain itu, lanjut Rahmawat, pembakaran sampah terbuka juga masih menjadi sumber polusi yang berdampak langsung pada kesehatan warga, terutama anak-anak dan lansia.
Untuk diketahui, pembakaran sampah terbuka menghasilkan PM2.5 dan berbagai polutan berbahaya yang langsung terhirup warga sekitar, terutama anak-anak dan lansia. Karena itu, upaya pemilahan sampah dan pengurangan pembakaran sampah menjadi salah satu aksi komunitas yang berdampak langsung terhadap kualitas udara lokal.
Kondisi tersebut mendorong lahirnya berbagai inisiatif komunitas, salah satunya melalui Bank Sampah Kenanga yang dipimpin oleh Nur Fiyah.
Menurut Nur Fiyah, gerakan yang awalnya berfokus pada pengelolaan sampah kini berkembang menjadi upaya memperbaiki kualitas lingkungan secara lebih luas.
"Kami tidak hanya ingin sampah tidak dibakar. Kami ingin warga sadar kalau kita berdaya mengurangi sumber polusi, dan itu juga memberi manfaat bagi warga sendiri," katanya.
Baca Juga: Pengamat Otomotif Sebut Kendaraan Listrik Jenis BEV Paling Efektif Tekan Beban Subsidi dan Polusi
Forum tersebut juga menjadi momentum peluncuran kembali platform Jakarta Rendah Emisi (JRE), yang diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi antara warga, organisasi masyarakat sipil, dan pemerintah dalam memantau serta mendorong berbagai inisiatif pengendalian polusi udara.
Indonesia Country Coordinator Vital Strategies sekaligus perwakilan Breathe Cities Jakarta, Imelda Maidir, berharap dialog dan kolaborasi antarwarga tidak berhenti setelah forum selesai.
"Forum ini tidak boleh berhenti di sini. JRE adalah tempat kita melanjutkan percakapan ini setiap hari," ujarnya.