JawaPos.com - Masalah penumpukan sampah di permukiman warga DKI Jakarta belakangan ini kian meresahkan. Banyak warga mengeluhkan armada kebersihan yang lambat mengangkut sampah hingga berhari-hari.
Staf Khusus Gubernur Jakarta, Chico Hakim, akhirnya buka suara dan membeberkan alasan utama di balik keterlambatan pelayanan ini. Ia mengakui hal ini dipengaruhi oleh kapasitas TPST Bantargebang yang masih dalam pemulihan pasca longsor Zona 4 pada Maret 2026 lalu.
Hal ini menyebabkan antrean truk lebih panjang dan waktu putar balik armada menjadi lebih lama.
Baca Juga: Carut Marut Program MBG, Libatkan Orang Dekat Prabowo hingga Yayasan Terafiliasi Parpol
"Di lapangan, kendala utama meliputi volume sampah harian yang tinggi (sekitar 7.500–8.000 ton), ditambah lonjakan pasca-Lebaran. Pengaturan operasional untuk menghindari overload di Bantargebang," ujar Chico kepada JawaPos.com, Minggu (14/6).
Kendala lainnya, kerja truk juga di tengah di optimalisasi dan distribusi ke fasilitas pengolahan lain (seperti RDF Plant).
"Kami terus mempercepat pengangkutan dengan menambah armada dan koordinasi ketat antar-Sudin LH," kata Chico.
Kondisi Riil dan Antrean Truk di TPST Bantargebang
Akibat musibah longsor beberapa bulan lalu, kapasitas operasional TPST Bantargebang mengalami penurunan drastis. Hal ini memicu antrean panjang armada truk sampah yang berimbas pada keterlambatan penjemputan di lingkungan warga.
Situasi di lapangan saat ini masih terus diupayakan untuk kembali normal, meskipun hambatan ritase truk menuju Jakarta belum sepenuhnya teratasi.
"Ya, antrean masih terjadi, meski sudah lebih terkelola dibandingkan puncak pasca-longsor. Antrean ini disebabkan oleh pengurangan zona aktif (saat ini fokus pada Zona 1, 2, dan 5) akibat penataan pasca-longsor Zona 4, serta volume sampah yang tetap tinggi. Ini menghambat ritase truk kembali ke Jakarta," katanya.
DLH telah menerapkan pengaturan jadwal dan sistem shift untuk mengurai antrean, serta mengalihkan sebagian ke fasilitas pengolahan alternatif.
Setiap harinya, Jakarta memproduksi gunungan sampah dalam jumlah fantastis yang harus segera dievakuasi agar tidak menimbulkan sarang penyakit di area perumahan. Chico memaparkan data volume sampah harian Jakarta saat ini.
"Rata-rata 7.500–8.000 ton per hari (data terkini 2026, dengan tren peningkatan pasca-lonjakan musiman). Ini diangkut melalui sekitar 1.200–1.500 rit truk," tambahnya.
Baca Juga: Draf Kesepakatan AS-Iran Bawa Titik Terang, Teheran Berkomitmen Tak Akan Kembangkan Senjata Nuklir
Langkah Darurat Pemprov DKI Jakarta
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta tidak tinggal diam melihat kondisi ini. DLH telah menerapkan optimalisasi armada dengan sistem shift 24 jam dan penambahan ritase truk untuk percepatan pengangkutan.
"(Untuk) Pengalihan sementara, penumpukan terkoordinasi di titik-titik strategis dalam kota sambil mempercepat distribusi ke fasilitas pengolahan alternatif (RDF, TPS3R)," tuturnya.
Sedangkan untuk pemulihan Bantargebang, terus dilakukan penataan zona pasca-longsor dan integrasi RDF Plant. Selain itu, juga dilakukan kerja sama dengan Sudin LH untuk prioritas pengangkutan di area keluhan tinggi.
Baca Juga: Hanya Ounahi yang Lahir di Maroko, Begini Komposisi Unik Tim Singa Atlas saat Lawan Brasil
"Kami targetkan perbaikan signifikan dalam waktu dekat sambil mendorong pengurangan dari sumber," tegasnya.
Imbauan Penting Pemprov DKI untuk Warga Jakarta
Chico mengingatkan bahwa peran aktif masyarakat sangat krusial dalam menyelesaikan krisis kebersihan kota ini. Pemilahan dari tingkat rumah tangga adalah kunci utama keberhasilan.
Pihak Pemprov Jakarta pun sangat berharap warga bisa bekerja sama dalam menyukseskan program kebersihan lingkungan.
Ia meminta agar masyarakat Pilah sampah dari rumah (organik, anorganik, B3, residu) sesuai Instruksi Gubernur No. 5 Tahun 2026. Hal ini dapat mengurangi volume ke Bantargebang dan mempercepat pengolahan.
Pilah sampah adalah langkah bersama untuk Jakarta yang lebih bersih dan nyaman. Setiap rumah tangga yang memilah berarti membantu tetangga dan petugas kebersihan.
"Jangan buang sampah sembarangan atau biarkan menumpuk di lingkungan agar tidak menimbulkan bau, genangan, atau risiko kesehatan. Manfaatkan bank sampah, TPS3R, dan layanan DLH (termasuk bulky waste)," imbuhnya Chico.