JawaPos.com - Gunawan, 33, pria yang viral di media sosial akibat bersimbah darah di kawasan Tomang, Jakarta Barat, membuat keputusan mengejutkan. Meski tubuhnya masih dipenuhi perban dan menerima lebih dari 100 jahitan, ia memilih nekat pulang dari Rumah Sakit Sumber Waras karena takut tidak bisa membayar biaya medis.
Kepulangan Gunawan yang tiba-tiba ini sontak mengagetkan para tetangga di kontrakan tempat tinggalnya di Jalan Tomang Mandala, Grogol Petamburan.
Saat ditemui, Gunawan tampak hanya mengenakan sarung tanpa kaus dengan perban yang melilit kepala, leher, hingga badannya. Ia mengaku trauma dan hanya kembali untuk mengambil pakaian sebelum mengungsi.
Baca Juga: FJGS 2026 Manfaatkan Momentum Pelemahan Rupiah Tarik Wisman, Barang High-end Terasa Murah!
"Saya masih trauma kalau di sini. Ini mau ke rumah teman dulu," ujar Gunawan, Kamis (21/5).
Tak Sanggup Bayar Operasi Rp150 Juta
Aksi pembacokan di Tomang tersebut rupanya menyisakan luka yang amat parah di tubuh Gunawan. Ia dihujani sembilan kali sabetan senjata tajam hingga harus mendapatkan penanganan darurat.
"Saya dijahit lebih dari 100 jahitan karena emang kemarin dibacoknya lumayan banyak. Ada sekitar sembilan bacokan," kata Gunawan.
Alasan utama Gunawan memilih pulang dini dari rumah sakit adalah faktor biaya. Ia mengaku langsung tiarap saat mendengar estimasi biaya operasi yang menyentuh angka ratusan juta rupiah.
"Ya karena kita kan berjalan bayarannya. Jadi kita takut enggak sanggup bayarannya kayak gitu. Kemarin aja kalau kita dioperasi tuh sampai Rp 150 juta katanya," ujar Gunawan.
Karena keterbatasan dana tersebut, Gunawan terpaksa menolak tindakan operasi dan memilih perawatan medis seadanya.
"Iya, makanya kita cuman dijahit aja (tidak operasi)," tambahnya.
Bukan Korban Begal, Ini Fakta Sebenarnya
Di samping masalah biaya, Gunawan juga meluruskan simpang siur informasi yang beredar di jagat maya. Narasi viral yang menyebut dirinya sebagai korban begal di Tomang dipastikan tidak benar.
Faktanya, tidak ada satu pun barang berharga miliknya yang hilang, termasuk ponselnya. Peristiwa mengerikan itu terjadi saat ia tengah beristirahat di dalam kamar kontrakannya.
Tanpa peringatan, dua pria tak dikenal tiba-tiba mendobrak pintu dan langsung menyerangnya secara membabi buta.
"Posisi lagi tidur. Bangun tidur, dia tendang pintu. Udah tendang, langsung dia bacok-bacok saya pakai celurit itu," kenang Gunawan.
Kedua pelaku tersebut diketahui sama-sama membekali diri dengan senjata tajam jenis celurit. Gunawan yang terdesak sempat memberikan perlawanan sebelum akhirnya kabur menyelamatkan diri.
"Saya melawan sedikit. Pas dia lengah, saya lari. Itu posisi udah penuh bacokan, muka udah penuh darah kayak gitu, sambil minta pertolongan," tuturnya.
Gunawan sempat berlari ke arah sebuah bengkel dalam kondisi bersimbah darah. Beruntung, warga di sekitar lokasi langsung bergerak cepat menolongnya.
Motif Asli: Cemburu Buta Mantan Rekan Kerja
Usut punya usut, insiden berdarah ini ternyata dipicu oleh dendam dan cemburu buta, bukan kriminalitas jalanan. Kasus pembacokan di Tomang ini berakar dari kesalahpahaman yang terjadi sekitar tiga bulan lalu.
Gunawan menjelaskan bahwa ia tidak mengenal pelaku, melainkan hanya mengenal istri pelaku yang pernah bekerja di restoran yang sama dengannya.
"Istrinya dia tuh pernah kerja di restoran yang sama bareng saya. Cuman (istrinya) agak dekat sama saya, gitu kan. Suaminya cemburu, begitu," jelas Gunawan.
Sebelum aksi nekat ini terjadi, sang suami ternyata sempat menantang Gunawan untuk berduel. Namun, Gunawan memilih menghindar dan pulang kampung selama sebulan demi meredakan situasi.
Nahas, dendam pelaku ternyata belum padam. Begitu mengetahui Gunawan kembali ke Jakarta untuk bekerja, pelaku langsung melacak keberadaannya hingga berujung pada aksi pembacokan brutal tersebut.