← Beranda
Dari Viral Negatif ke Humanis: Satpol PP DKI Mulai Berbenah lewat Pelatihan Komunikasi
Rian AlfiantoKamis, 23 April 2026 | 19.18 WIB
Satpol PP DKI ikuti pelatihan komunikasi. (Istimewa)

 

JawaPos.com–Citra Satpol PP yang kerap disorot karena tindakan penertiban yang dianggap tidak humanis masih sering menjadi perhatian. Dalam beberapa tahun terakhir, masih banyak berbagai video viral di media sosial kerap menampilkan interaksi keras antara petugas dan warga, memicu kritik publik dan memperkuat stigma negatif terhadap aparat penegak Perda tersebut.

Di tengah sorotan itu, Satpol PP DKI Jakarta mulai melakukan pembenahan. Sekitar 100 anggotanya mengikuti pelatihan public speaking dan komunikasi yang digelar oleh 1Langkah di Markas Komando (Mako) Satpol PP, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (22/4).

Langkah ini dinilai sebagai upaya konkret untuk merespons tantangan era digital, di mana setiap tindakan di lapangan berpotensi direkam, disebarluaskan, dan dinilai publik dalam hitungan menit.

Baca Juga: Peringati Hari Kartini, Kukuhkan Dua Guru Besar Perempuan

Menjawab Sorotan Publik dan Era Viral

Kepala Satpol PP DKI Jakarta Satriadi Gunawan menegaskan, citra institusi sangat rentan terdampak oleh pemberitaan negatif, terutama yang viral di media sosial. ”Kasus-kasus yang viral namun berdampak negatif bagi Satpol PP harus dihindari, karena dapat merusak citra kesatuan yang telah dibangun,” ujar dia.

Satriadi Gunawan mengakui, di lapangan, petugas sering berhadapan dengan warga yang berada dalam kondisi ekonomi sulit, seperti pedagang kaki lima. Karena itu, pendekatan komunikasi menjadi kunci agar penegakan aturan tidak memicu konflik terbuka.

”Kita ingin menegakkan Perda dengan baik, tetapi tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Yang kita hadapi umumnya adalah warga yang sedang berjuang mencari nafkah,” tambah Satriadi Gunawan.

Baca Juga: Resmi! Ini Jadwal Rapat Paripurna Pergantian Ketua DPRD DKI Jakarta

Pernyataan ini sekaligus menjadi pengakuan bahwa pendekatan represif semata tidak lagi relevan di tengah tuntutan publik akan aparat yang lebih empatik.

Belajar Komunikasi di Tengah Tekanan Netizen

Dalam pelatihan tersebut, jurnalis senior Andromeda Mercury menyoroti pentingnya respons cepat terhadap isu yang berkembang di media sosial. Institusi tidak bisa lagi bersikap pasif ketika menghadapi serangan opini publik.

”Dalam waktu kurang dari 1x24 jam harus ada klarifikasi. Jika memang ada kesalahan, segera sampaikan permintaan maaf. Jika tidak, tetap berikan klarifikasi dengan bahasa yang teduh dan tidak provokatif,” jelas Andromeda Mercury.

Dia juga menekankan bahwa membiarkan isu liar tanpa penanganan justru berisiko memperburuk reputasi.

Selain itu, materi pelatihan juga mencakup teknik komunikasi efektif oleh Rudy Yesaya serta penguatan karakter dan mental oleh Ahmad Ghazali. Penggagas program dari 1Langkah Atta Ul Karim menyebut, pelatihan ini sebagai langkah strategis.

”Ini adalah langkah yang tepat. Materinya relevan dengan tantangan di lapangan, terutama dalam menghadapi tekanan publik yang semakin besar,” ungkap Atta.

Baca Juga: PKS Rombak Posisi Ketua DPRD DKI, Suhud Alynudin Gantikan Khoirudin

Sementara itu, Sekretaris Satpol PP DKI Jakarta Santoso menjelaskan, peserta pelatihan berasal dari berbagai lini, mulai dari tingkat kecamatan hingga kelurahan, termasuk anggota Linmas dan staf kantor pusat.

Langkah ini dinilai sebagai bagian dari transformasi internal untuk memperbaiki cara pendekatan kepada masyarakat. Di tengah derasnya kritik, upaya ini bisa menjadi titik awal perubahan wajah Satpol PP, dari yang kerap diasosiasikan dengan penertiban keras, menuju aparat yang lebih komunikatif dan humanis.

Namun, tantangan sebenarnya ada pada implementasi di lapangan. Publik kini menunggu, apakah pelatihan ini benar-benar berdampak pada perubahan perilaku petugas, atau sekadar menjadi agenda seremonial tanpa perubahan nyata.

Baca Juga: Bayar Pajak Kendaraan di Jakarta Kini Tak Perlu KTP Pemilik Asli, Ini Syaratnya!

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah