← Beranda
Peringati Hari Kartini, Kukuhkan Dua Guru Besar Perempuan
Dinarsa KurniawanKamis, 23 April 2026 | 06.48 WIB
Rektor UMB Prof. Dr. Andi Adriansyah, M. Eng. (Istimewa)
 

JawaPos.com-Dua Guru Besar perempuan telah dikukuhkan oleh Universitas Mercu Buana (UMB) pada Selasa (21/4), bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Momentum ini selain menandai capaian akademik tertinggi, juga merefleksikan semangat emansipasi perempuan dalam dunia pendidikan tinggi.

Prosesi pengukuhan berlangsung di Auditorium Lantai 7 Gedung Tower Kampus UMB, Meruya, Jakarta Barat. Acara tersebut dihadiri Kepala Bagian Umum LLDIKTI Wilayah III Tri Munanto, Ketua Yayasan Menara Bhakti, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Dua Guru Besar yang dikukuhkan yakni Prof. Dr. Dra. Nurhayani Saragih, M.Si. di bidang media dan komunikasi, serta Prof. Dr. Augustina Kurniasih, M.E. di bidang manajemen keuangan. Keduanya dinilai memiliki kontribusi strategis dalam membentuk arah pemikiran dan perkembangan ilmu pengetahuan di masyarakat modern.

Rektor UMB Prof. Dr. Andi Adriansyah, M. Eng menegaskan bahwa jabatan Guru Besar selain sebagai  puncak karier akademik, juga merupakan amanah intelektual dan moral dalam menjaga arah peradaban.

“Guru Besar adalah penjaga api keilmuan sekaligus penjaga arah peradaban. Mereka tidak hanya mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai, etika, dan kebijaksanaan bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Menurut Andi, kehadiran dua perempuan sebagai Guru Besar menunjukkan pergeseran peran perempuan dari sekadar partisipan menjadi pemimpin pemikiran (thought leader). Hal ini dinilai sejalan dengan gagasan Kartini yang menempatkan perempuan sebagai agen perubahan.

Ia menambahkan, peran Guru Besar kini adalah sebagai penghasil pengetahuan dan enyebar nilai. Di tengah disrupsi teknologi, akademisi dituntut mampu menjembatani antara ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.

“Guru Besar harus mampu membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan moral,” tegasnya.

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Nurhayani Saragih menyoroti perubahan besar dalam ekologi komunikasi. Menurutnya, pergeseran dari media massa ke platform digital telah mengubah pola komunikasi menjadi lebih partisipatif.

“Publik kini tidak lagi sekadar penerima informasi, tetapi juga produsen makna. Arus komunikasi menjadi dinamis dan berlangsung dalam jaringan,” jelasnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa transformasi tersebut juga membawa tantangan, seperti maraknya disinformasi dan fenomena hiperrealitas. Karena itu, literasi media dan etika komunikasi menjadi hal yang sangat penting.

Sementara itu, Prof. Augustina Kurniasih menyoroti perkembangan dalam manajemen keuangan  kini harus berfokus pada efisiensi. Selain itu, dia juga menekankan pentingnya aspek keadilan distribusi, keberlanjutan, serta nilai kemanusiaan dalam sistem ekonomi modern.

“Pendekatan keuangan saat ini harus mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan dan keberlanjutan, bukan sekadar angka,” ujarnya.

 

Pengukuhan yang bertepatan dengan Hari Kartini ini dinilai menjadi simbol bahwa perjuangan emansipasi perempuan terus berkembang. Tidak hanya dalam akses pendidikan, tetapi juga dalam peran strategis perempuan sebagai penentu arah ilmu pengetahuan dan pembangunan bangsa. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan