← Beranda
Ardiansyah Cerita Pengalaman Mistis 21 Tahun Jadi Petugas Damkar: Jenazah "Menolak" Dievakuasi dari dalam Sumur
Syahrul Yunizar• Jumat, 26 September 2025 | 13.50 WIB
Potret Ardiansyah saat bertugas sebagai Tim Damkar. (Istimewa untuk JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Pengalaman panjang membawa salah seorang petugas pemadam kebakaran (damkar) bernama Ardiansyah melalui banyak hal. Lebih dari 21 tahun pengabdian sejak 2003, mengajarkan pria yang akrab dipanggil Weki itu susah-senang, manis-pahit, serta beragam tugas membekas dalam benak dan pikirannya.

Weki kini mendapat kepercayaan menjadi pengendali operasi Unit Rescue Sektor 4 Kecamatan Pasar Minggu. Jauh sebelum bertugas di Pasar Minggu, dia lebih dulu bekerja di Lebak Bulus.

Sebagai petugas damkar yang punya spesialisasi rescue, sehari-hari dia memang lebih banyak berurusan dengan tugas-tugas penyelamatan. Mulai urusan teknis, taktis, sampai mistis.

Puluhan tahun bekerja, Weki belajar banyak dari pengalaman. Khususnya saat mengawali karir sebagai petugas damkar pada bagian rescue. Saat berbagi kisah dengan JawaPos.com, ingatannya membawa dia terbang jauh ke belakang.

Mundur beberapa tahun. Dia memang tidak ingat utuh, penyelamatan itu dilakukan kapan dan dimana. Namun, tugas tersebut membekas sampai saat ini.

”Saya pernah evakuasi jenazah dari dalam sumur, dulu, sudah lama sekali. Tapi, yang tidak saya lupa proses evakuasinya,” kata dia.

Seperti biasa, setelah mendapat laporan dari masyarakat, dia bersama tim rescue langsung merapat ke lokasi kejadian. Hari itu, laporan yang diterima adalah evakuasi jenazah dari dalam sumur.

Korban seorang kakek yang terjatuh saat hendak mengambil air wudhu. Usai melakukan asesmen dan menghitung secara teknis dan taktis, Weki mulai beraksi.

Menggunakan berbagai perlengkapan rescue, Weki masuk dan turun ke dalam sumur tersebut. Sesuai perhitungannya, jenazah dapat dijangkau dan langsung diikat untuk diangkat.

Dia yakin ikatan sudah kencang, jenazah siap ditarik keluar dari dalam sumur. Namun, dia dan tim kaget karena di tengah sumur jenazah itu lepas dan jatuh.

Tentu Weki tidak menyerah begitu saja. Langkah serupa dilakukan seperti pertama kali dia masuk ke dalam sumur. Jenazah diikat dengan kencang. Dicek lebih dulu untuk memastikan bisa diangkat dari dalam sumur.

Setelah yakin, evakuasi dimulai. Lagi-lagi, jenazah itu lepas dan kembali masuk ke dalam sumur. Sempat bingung, akhirnya Weki berujar dalam hati.

”Saya izin sama yang punya badan. Bapak, izin mau angkat dulu ke atas ya. Setelah izin, jenazah bisa naik. Susah dipercaya memang. Tapi, sampai sekarang itu saya terapkan,” imbuhnya.

Dalam penugasannya, unit rescue memang tidak melulu berurusan dengan evakuasi hewan atau benda-benda lain yang jatuh dan masuk ke lokasi-lokasi sulit dijangkau. Unit tersebut juga diandalkan oleh Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta untuk mengevakuasi jenazah korban kebakaran.

Bahkan kerap dipanggil oleh aparat kepolisian untuk mengevakuasi korban kecelakaan lalu lintas, korban yang terjebak dalam reruntuhan gedung, dan evakuasi jenazah dari ketinggian atau sungai.

Maka berurusan dengan jenazah sudah bagian dari tugas yang sehari-hari dilakoni oleh Weki dan tim. Dari pengalamannya, dia menanamkan kepada anak buahnya hal-hal di luar nalar yang tetap perlu dilakukan.

”Pengalaman tadi saya terapkan kepada anggota. Harus berdoa dulu, izin dulu ibaratnya,” kata dia.

Pengalaman mengajarkan Weki, urusan teknis dan taktis perlu diperkuat dengan doa. Karena saat berusaha mengevakuasi jenazah dari dalam sumur kala itu, dia sangat yakin simpul-simpul ikatan tali sudah kuat. Sesuai dengan teknik yang dia pelajari. Strategi mengangkat jenazah dari dalam sumur juga sudah merujuk standar. Namun, 2 kali percobaan gagal. Dan baru berhasil setelah dia berdoa, kemudian meminta izin. Tidak masuk akal, namun nyata adanya.

EDITOR: Sabik Aji Taufan