JawaPos.com - Oki, 33, salah satu pengungsi kebakaran Tambora di SDN Duri Utara 01 terlihat mengendong anak perempuannya yang masih berusia tiga tahun di luar tenda. Panas terik matahari menusuk kulit jam-jam siang ini.
Berdiam diri di tenda-tenda besar yang ada di pengungsian, kata Oki, bukan pilihan yang bagus. Apalagi untuk anaknya yang masih harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Belum lagi fasilitas kipas angin yang masih terbatas di pengungsian.
"Ini kipasnya dikit banget. Engap. Apalagi panas banget ini," ujarnya saat ditemui JawaPos.com di lokasi pengungsian, Senin (10/7).
Akibat panas teriknya siang ini, tenda-tenda besar untuk para pengungsi memang terlihat lengang. Kalaupun ada yang memilih diam di tenda, mereka rata-rata adalah lansia dan ibu-ibu. Itu pun mesti dekat kipas angin.
Di salah satu tenda dari Dinas Sosial sendiri, terlihat hanya ada tiga kipas kecil yang ada. Itu pun menurut Oki adalah milik pengungsi.
"Belum, belum kalau yang di sini. Cuma tiga, kecil-kecil. Ini bawa sendiri juga," terangnya.
Jangankan berada di tenda, di bagian luar saja, dengan sedikit semilir angin, panas masih begitu terasa menyerang kulit. Anak perempuan Oki sendiri tadi bahkan sempat mengalami sakitm
"Tadi sih anak saya badannya anget. Terus udah ke petugas kesehatan di sana, udah dikasih obat juga. Masih shock kali," ucapnya.