JawaPos.com - Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) menilai peluncuran buku Historiografi Islam Nusantara di Surabaya, Jawa Timur, dapat memperkuat posisi strategis Indonesia di kancah global di tengah memuncaknya konflik peradaban dan ketegangan geopolitik dunia.
Ketua Umum LPOI sekaligus penulis buku tersebut Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj mengatakan, posisi Indonesia sebagai negara demokrasi dengan mayoritas penduduk Muslim sangat menarik perhatian bangsa-bangsa besar.
Sehingga menurut dia, pemahaman mendalam mengenai akar sejarah dan masa lalu bangsa menjadi sangat krusial.
Baca Juga: Kolaborasi DPN - Pagar Nusa Buka Peluang Kader Berprestasi Menuju Sumpah Advokat
Menurut Kang Said, pemahaman mengenai Islam Nusantara tidak cukup hanya dengan menelusuri waktu kedatangan atau penyebaran ajarannya semata, melainkan menuntut kesadaran sejarah yang utuh untuk melihat bagaimana Islam berinteraksi dengan kebudayaan lokal serta membentuk institusi sosial.
”Islam di Nusantara hadir tidak hanya sebagai agama mayoritas, tetapi juga berperan aktif dalam membangun jaringan pendidikan, perdagangan, hukum, diplomasi, bahasa, kesusastraan, hingga berbagai institusi sosial dan politik yang menjadi pilar peradaban,” papar Kang Said.
Melalui buku 11 jilid yang disusunnya, dia mendedikasikan karya tersebut untuk mengajak pembaca melihat historiografi Islam Nusantara sebagai ruang kajian ilmiah yang dinamis, terbuka terhadap berbagai perspektif, serta responsif terhadap penemuan sumber-sumber sejarah baru.
Baca Juga: Pameran Buku di ICE BSD Tangerang Akhir Oktober, Hadirkan Jutaan Buku Selama 24 Jam
Dalam kerangka sejarah tersebut, organisasi Islam modern seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan berbagai ormas Islam lain, diposisikan sebagai subjek aktif yang menghasilkan pengetahuan, menyimpan memori kolektif, serta mewariskan pengalaman melalui arsip dan dokumen internal.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal LPOI sekaligus co-author buku Imam Pituduh menjelaskan, pemilihan Kota Surabaya sebagai lokasi peluncuran perdana dilakukan untuk melakukan napak tilas sejarah revolusi kemerdekaan serta mengambil berkah semangat para wali dan kerajaan Nusantara dalam menyambut Hari Santri 2026.
Di tengah arus informasi publik yang serba ringkas dan terfragmentasi saat ini, Imam Pituduh mengingatkan pentingnya membekali masyarakat dengan kemampuan berpikir kritis agar tidak terjadi penyederhanaan maupun manipulasi sejarah masa lalu.
Melalui penerbitan karya ini, LPOI berharap masyarakat dapat membedakan secara objektif antara fakta sejarah, interpretasi, dan opini, serta memahami konteks perjalanan bangsa secara utuh dan bertanggung jawab.
”Di tengah ruang publik modern yang dipenuhi informasi dengan peredaran sangat cepat, sejarah kerap hadir dalam bentuk narasi yang ringkas, terfragmentasi, dan tidak selalu didukung bukti yang memadai,” terang Imam Pituduh.
”Penyederhanaan maupun manipulasi masa lalu dapat memengaruhi cara masyarakat memahami identitas, hubungan antarkelompok, dan perjalanan bangsa,” imbuh dia.
Baca Juga: Memoar Anak Buruh Tani Trowulan Tembus 4 Besar Amazon AS, Anggun Jadi Inspirasi