JawaPos.com - Keinginan untuk menunaikan ibadah umrah maupun haji kini tidak lagi identik dengan usia tua.
Banyak generasi muda, khususnya Gen Z, mulai menjadikan ibadah sebagai bagian dari tujuan hidup sejak dini.
Namun, dibalik niat tersebut, ada tantangan yang tidak bisa diabaikan, yaitu kesiapan finansial. Ibadah haji dan umrah memang membutuhkan kesiapan fisik dan mental, tetapi juga memerlukan perencanaan keuangan yang matang sebagai bagian dari ikhtiar.
Banyak anak muda merasa uangnya cepat habis tanpa tahu ke mana perginya. Pengeluaran kecil yang terus berulang, gaya hidup, hingga kebiasaan impulsif membuat kondisi finansial terasa seperti “game over”.
Di sisi lain, biaya ibadah haji yang tidak sedikit serta masa tunggu yang panjang membuat perencanaan keuangan menjadi hal yang tidak bisa ditunda.
Melansir Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah, masa tunggu haji di Indonesia bahkan bisa mencapai puluhan tahun, sehingga persiapan sejak dini menjadi langkah penting.
Dalam kondisi ini, diperlukan cara pandang baru dalam mengelola keuangan, salah satunya melalui konsep “game of money”.
Uang tidak hanya dihabiskan, tetapi harus dipahami, dijaga, dan dikembangkan. Berikut tujuh prinsip yang bisa diterapkan Gen Z agar tidak terus kalah dalam “permainan” finansial:
1. Jangan membenci uang, tapi pahami dan hargai perannya
Banyak orang tanpa sadar memiliki hubungan yang kurang sehat dengan uang, seperti merasa tidak nyaman membicarakannya atau bahkan cenderung menghindarinya.
Padahal, uang adalah alat yang netral. Membenci uang justru membuat seseorang tidak serius dalam mengelolanya.
Sebaliknya, menyayangi uang dalam arti memahami nilainya akan membantu seseorang lebih bijak dalam mengambil keputusan finansial.
2. Sadari kemana uang pergi sebelum mencoba mengendalikannya
Melansir Media Keuangan Kementerian Keuangan (2023), mencatat pendapatan dan pengeluaran menjadi langkah awal dalam mengelola keuangan.
Tanpa pencatatan, seseorang akan sulit mengetahui kebocoran finansial yang terjadi. Kebiasaan ini membantu melihat pola pengeluaran, termasuk pengeluaran kecil yang sering kali dianggap sepele namun berdampak besar dalam jangka panjang.
3. Waspadai pengeluaran kecil yang membuat uang ‘bocor halus’
Masih melansir sumber yang sama, pengeluaran kecil seperti jajan, kopi, atau belanja impulsif sering kali tidak terasa, tetapi jika dikumpulkan jumlahnya bisa sangat besar.
Kebiasaan ini menjadi salah satu alasan utama mengapa uang cepat habis. Tanpa kesadaran, kondisi ini membuat seseorang terus berada dalam siklus keuangan yang tidak sehat.
4. Susun strategi keuangan, bukan sekadar menahan diri
Melansir Chubb (2024), menyusun anggaran seperti metode 50/30/20 dapat membantu mengatur alokasi keuangan secara lebih jelas.
Namun, mengatur keuangan bukan hanya soal menekan pengeluaran, tetapi juga memberi arah. Dengan strategi yang tepat, seseorang bisa tetap memenuhi kebutuhan sekaligus menyiapkan masa depan tanpa merasa terbebani.
5. Fokus menaikkan nilai diri, bukan hanya mengejar uang
Dalam “game of money”, mengejar uang saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah meningkatkan value atau nilai diri.
Dengan terus belajar, mengembangkan keterampilan, dan membuka wawasan, peluang pekerjaan dan penghasilan akan datang dengan sendirinya. Uang cenderung datang kepada mereka yang memiliki nilai, bukan hanya kepada mereka yang sekadar mengejarnya.
6. Pahami bahwa uang yang tidak dikelola akan menyusut
Uang yang hanya disimpan tanpa strategi akan kehilangan nilai seiring waktu. Oleh karena itu, penting untuk mulai mengenal investasi.
Melansir Chubb (2024), investasi dapat menjadi cara untuk membuat uang berkembang. Prinsipnya, uang tidak hanya disimpan, tetapi juga “digerakkan” agar menghasilkan nilai tambahan.
7. Jadikan tujuan hidup sebagai arah, sehingga uang bekerja untukmu
Tujuan akhir dalam mengelola keuangan bukan hanya memiliki uang, tetapi mencapai kondisi di mana uang bisa bekerja untuk kita.
Salah satu target yang sering digunakan adalah mencapai kestabilan finansial sebelum usia 30 tahun. Dalam tahap ini, hasil dari tabungan atau investasi mulai memberikan manfaat.
Prinsip penting lainnya adalah menjaga pokok investasi agar tetap utuh, sementara yang digunakan adalah hasil atau keuntungannya.
Selain itu, penting untuk diingat bahwa uang akan mudah pergi dari tangan yang tidak mampu menjaganya. Tanpa disiplin dan kontrol, sebesar apa pun penghasilan akan tetap habis.
Sebaliknya, dengan pengelolaan yang baik, bahkan penghasilan yang terbatas pun bisa berkembang dan membantu mencapai tujuan jangka panjang seperti umrah atau haji.