JawaPos.com - Perbedaan pandangan tentang doa dan amalan utama di bulan Rajab kembali menjadi perhatian umat Islam sehubungan dengan datangnya bulan tersebut.
Nahdlatul Ulama (NU) memandang Rajab sebagai bulan mulia yang dianjurkan untuk memperbanyak doa dan amal saleh, sementara Muhammadiyah menegaskan tidak ada doa maupun amalan khusus yang disyariatkan secara spesifik pada bulan ini.
Meski berbeda pendekatan, keduanya sama-sama mendorong umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah.
Bulan Rajab sendiri termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah Swt. Momentum ini kerap dimanfaatkan umat Islam sebagai persiapan spiritual menuju Ramadan meskipun pemaknaannya tidak seragam di antara organisasi Islam besar di Indonesia.
Pandangan NU tentang Doa dan Amalan Bulan Rajab
Menurut NU, bulan Rajab merupakan waktu yang istimewa untuk memperbanyak amal kebaikan. Dikutip dari laman resmi NU Jawa Tengah, umat Islam dianjurkan meningkatkan ibadah seperti istighfar, sedekah, puasa sunah, dan doa sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah Swt.
NU juga mengutip doa yang diriwayatkan dibaca Rasulullah saw. ketika memasuki bulan Rajab, yakni:
Allahumma bārik lanā fī Rajaba wa Sya‘bāna wa ballighnā Ramadhāna.
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaban, serta sampaikanlah kami hingga bulan Ramadan.”
Doa ini dimaknai sebagai permohonan keberkahan agar umat Islam diberi kekuatan menjalani tiga bulan beruntun menuju Ramadan.
Para ulama NU menafsirkan Rajab sebagai waktu menanam pahala, Syaban sebagai masa merawat amal, dan Ramadan sebagai masa memanen hasilnya.
Karena itu, memperbanyak doa dan amal saleh sejak Rajab dinilai sebagai ikhtiar spiritual yang penting.
Pandangan Muhammadiyah: Tidak Ada Amalan Khusus Rajab
Berbeda dengan NU, Muhammadiyah menegaskan bahwa tidak ada doa maupun amalan khusus yang disyariatkan secara spesifik pada bulan Rajab. Pandangan ini disampaikan oleh Muhammad Yusran Hadi dalam Suara Muhammadiyah.
Menurut Muhammadiyah, anggapan bahwa Rajab memiliki amalan khusus seperti puasa tertentu, shalat Raghaib, doa-doa khusus, atau ibadah dengan keutamaan tertentu tidak memiliki dasar dalil yang sahih. Hadits-hadits yang sering dijadikan rujukan terkait keutamaan khusus bulan Rajab dinilai lemah bahkan palsu.
Muhammadiyah merujuk pada penelitian para ulama hadits, termasuk Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Tabyiinul ‘Ajab yang menyimpulkan tidak ada satu pun hadits sahih tentang keutamaan khusus Rajab maupun amalannya. Karena itu, mengkhususkan ibadah tertentu dengan keyakinan adanya keutamaan khusus di bulan Rajab dinilai sebagai bid‘ah.
Meski demikian, Muhammadiyah tetap menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak amal saleh secara umum, sebagaimana dianjurkan pada bulan-bulan haram lainnya, tanpa mengkhususkan bentuk, waktu, atau keyakinan keutamaan tertentu pada Rajab.
Titik Temu NU dan Muhammadiyah
Walau berbeda dalam penekanan doa dan amalan khusus di bulan Rajab, NU dan Muhammadiyah memiliki titik temu yang sama, yakni mendorong umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan.
NU menekankan aspek tradisi dan fadilah doa yang diriwayatkan, sementara Muhammadiyah menekankan kehati-hatian dalam beribadah agar tetap sesuai dalil sahih.
Pada akhirnya, bulan Rajab dapat dimaknai sebagai momentum refleksi dan perbaikan diri. Umat Islam diajak memperbanyak amal kebaikan, menjaga keikhlasan ibadah, serta mempersiapkan diri secara spiritual menuju bulan Ramadan, dengan tetap menghormati perbedaan pandangan yang ada.