JawaPos.com - Dalam momentum Hari Santri Nasional yang jatuh pada hari ini, Rabu (22/10), salah satu tokoh sekaligus ulama yang patut dikenang adalah KH Abdullah Sajjad.
KH Abdullah merupakan salah satu ulama besar dari Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep, Jawa Timur.
KH Abdullah Sajjad gugur pada 3 Desember 1947 karena berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.
Dia dieksekusi Belanda di lapangan Kemisan Guluk-guluk karena menolak untuk takluk dan berkompromi.
KH Abdullah Sajjad gugur setelah ditembak Belanda saat sedang melaksanakan ibadah salat. Ia mengembuskan napas terakhir dalam posisi sedang bersujud.
Kata 'Sajjad' dalam namanya ini diberikan oleh masyarakat karena ia meninggal dunia saat sedang bersujud.
Profil KH Abdullah Sajjad
KH Abdullah Sajjad lahir dari percampuran darah Sumenep dan Kudus. Ayahnya, KH. Mohammad Syarqawi, merupakan ulama asal Kudus, Jawa Tengah. Sedangkan ibunya, Nyai Mariyah adalah putri Kiai Idris, salah satu tokoh agama dari Prenduan, Pragaan, Sumenep.
Secara nasab, KH Abdullah Sajjad berasal dari kalangan elite pesantren karena kedua orang tuanya merupakan tokoh agama.
Kiai Syarqawi adalah pendiri Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Sedangkan Nyai Mariyah merupakan saudari kandung dari Kiai Khothib, ayah KH. Ahmad Jauhari, pendiri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep.
KH Abdullah Sajjad tidak hanya mengajar ilmu kepada para santri di pesantren. Dia juga aktif dalam sejumlah kegiatan di luar pesantren.
Bahkan ketika ada warga sekitar sakit, ia bersama para santri datang untuk menjenguk sekaligus mendoakan.
Banyaknya aktivitas KH Abdullah Sajjad di luar pesantren membuat namanya dikenal oleh banyak orang.
Ia terpilih menjadi Kepala Desa Guluk-guluk pada tahun 1947 bersamaan dengan agresi militer Belanda.
Pada saat itu, Belanda tidak menerima kemerdekaan Indonesia sehingga melakukan kontak fisik dengan warga di sejumlah daerah.
KH Abdullah Sajjad yang tidak menerima penjajahan mengubah sementara fungsi pesantren dari rumah ilmu menjadi markas untuk menyusun strategi perlawanan terhadap Belanda.
Dia pun memimpin laskar Sabilillah. Sejumlah gerakan dilakukan untuk memutus akses Belanda ke Sumenep. Namun karena minimnya senjata yang dimiliki, laskar Sabilillah jadi tersudut.
Alhasil Kiai Abdullah Sajjad sempat mengungsi sementara bersembunyi di Karduluk, Sumenep, karena diburu Belanda.
Kiai Abdullah Sajjad sebenarnya disarankan oleh para kiai di Madura untuk pergi ke Pulau Jawa, tapi saran itu ditolak. Ia mengaku tidak mungkin meninggalkan keluarga dan warga yang telah berjuang bersamanya.
Dilansir dari NU Online, salah satu saksi bernama Kiai Rahman mengatakan ada pengkhianat yang menulis surat kepada Kiai Abdullah Sajjad dan menyampaikan bahwa situasi di Guluk-guluk sudah aman.
Mengetahui hal tersebut, Kiai Abdullah Sajjad yang sudah rindu pada keluarga dan para santri akhirnya memutuskan kembali ke Guluk-guluk.
Kedatangannya pun disambut gembira oleh masyarakat. KH Abdullah Sajjad bersama warga sempat melaksanakan shalat Ashar dan Maghrib secara berjamaah di pesantren Annuqayah.
Si pengkhianat mengabari Belanda bahwa Kiai Abdullah Sajjad sudah ada di Guluk-guluk. Usai salat Maghrib, pasukan Belanda dengan senjata lengkap datang dan memintanya untuk menyerahkan diri.
Masyarakat dan Belanda nyaris terlibat peperangan fisik. Namun Kiai Abdullah Sajjad menahan dan dia lebih memilih menyerahkan diri supaya tidak terjadi pertumpahan darah. Ia memilih dibawa Belanda sendirian tanpa boleh ada yang menemani.
Setelah menyerah, Belanda kemudian membawa KH Abdullah Sajjad ke markas Belanda di Kemisan Guluk-guluk untuk tujuan bernegosiasi dan memintanya untuk tunduk pada Belanda.
Ia secara tegas menolak karena menentang kehadiran Belanda setelah Indonesia resmi memproklamirkan kemerdekaan.
Tak bisa dirayu dan diajak berkompromi, Belanda memutuskan untuk memilih jalan terakhir yaitu mengeksekusi Kiai Abdullah Sajjad. Tanpa ada rasa gentar, beliau justru menyatakan bersedia.
Namun sebelum eksekusi dilakukan, KH Abdullah Sajjad mengajukan dua syarat kepada Belanda. Pertama, setelah mengeksekusi dirinya, Belanda harus meninggalkan Guluk-Guluk.
Kedua, memberikan kesempatan kepadanya untuk melaksanakan ibadah salat terlebih dahulu sebelum dieksekusi. Belanda memenuhi 2 persyaratan tersebut.
Saat posisi sedang sujud, Belanda menembak KH. Abdullah Sajjad. Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, darahnya mengeluarkan semerbak wangi.