JawaPos.com - Menteri Agama Nasaruddin Umar dan jajarannya tengah mengampanyekan penguatan dana sosial keagamaan, terutama melalui sedekah dan wakaf. Sebab, sampai saat ini dana sosial keagamaan yang populer di tengah masyarakat masih sebatas zakat.
Nasaruddin menuturkan, jenis dana sosial keagamaan di Islam sangat banyak. Namun yang yang populer di Indonesia masih zakat.
"Alangkah miskinnya umat Islam kalau hanya membayat zakat yang 2,5 persen itu," katanya di sela paparan program Indonesia Ekonomi Syariah Forum & Expo 2025 di kompleks Masjid Istiqlal Kamis (4/9) sore.
Dia menjelaskan, pada zaman Nabi Muhammad saat itu, yang terjadi malah sebaliknya. Zakat tidak terlalu populer, kalah dibanding sedekah, wakaf, atau bentuk dana sosial lainnya.
Bahkan ada wakaf kebun kurma yang masih bertahan mulai dari zaman Nabi Muhammad sampai sekarang di Madinah.
Dia menjelaskan, sebagai negara dengan jumlah populasi umat Islam yang banyak, Indonesia punya potensi ekonomi syariah besar. "Kalau sekarang masih macan tidur," jelasnya.
Sehingga perlu didorong inovasi-inovasi pembiayaan atau keuangan berbasis syariah di Indonesia.
Dalam beberapa kesempatan, Nasaruddin mengatakan potensi zakat maupun wakaf di Indonesia sangat besar. Namun realisasi penghimpunannya masih belum banyak. Sehingga butuh upaya ekstra untuk meningkatnya.
Selain itu, Nasaruddin juga menyinggung tentang jaminan produk halal. Menurut dia, urusan halal saat ini mendukung perekonomian.
Indonesia sebagai negara dengan jumlah umat Islam besar, menjadi pasar produk halal yang menarik. Otomatis produsen akan mengikuti regulasi halal yang ada.
Sektor lainnya yang juga penting adalah pariwisata. Nasaruddin mengatakan, pemerintah terus mendorong keberadaan wisata yang ramah wisatawan muslim.
Salah satu faktor utamanya adalah kemudahan menjangkau makanan halal. Wisata ramah muslim bukan berarti destinasi wisata yang eksklusif.
Selain itu, Nasaruddin juga menyinggung keberadaan pesantren. Dia mengatakan pesantren menjadi ekosistem yang besar.
Saat ini saja jumlah santri di pesantren sekitar 4 juta jiwa. Belum termasuk jumlah guru atau ustad. Nasaruddin mengatakan banyak pesantren yang mampu mandiri secara ekonomi, lewat sejumlah usaha yang dijalankan.
Pemerintah berharap semakin banyak pesantren yang mandiri. Apalagi banyak pesantren yang ahli di bidang perikanan, pertanian, perdagangan, dan usaha lainnya.
"Kami akan menggarap ekonomi syariah berbasis pesantren. Karena banyak keterampilan ekonomi yang juga berkembang di pesantren," tuturnya.
Kegiatan Indonesia Ekonomi Syariah Forum & Expo 2025 rencananya diselenggarakan di NTB pada Oktober mendatang. Program ini merupakan inisiatif dari Istiqlal Global Fund (IGF).
Direktur Utama IGF Ahsanul Haq menjelaskan alasan NTB dipilih sebagai tuan rumah pada Oktober mendatang. Yaitu bertepatan dengan agenda MotoGP di Mandalika.
"Kami ingin momentum ini bukan hanya dikenal dari sisi sport, tapi juga pertumbuhan ekonomi syariah,” ujarnya.
Selain itu, NTB juga dikenal sebagai pionir pariwisata halal yang pernah meraih penghargaan internasional pada 2016. Dukungan penuh dari pemerintah daerah, khususnya Gubernur NTB, menjadi faktor penting.
“Beliau (gubernur) bahkan mengundang eksibitor dan pembicara internasional. Kami optimistis event ini akan menjadi sorotan dunia,” tambah pria yang akrab disapa Anol itu.