JawaPos.com - Rencana konser Andrea Bocelli di Candi Borobudur, Jawa Tengah, dan Jakarta pada akhir Oktober 2026 menuai polemik setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan penolakan.
Di tengah kontroversi terkait dugaan kedekatan sang tenor dengan Israel, perjalanan hidup penyanyi asal Italia itu kembali menjadi perhatian, mulai dari perjuangannya menghadapi kebutaan hingga kiprahnya dalam kegiatan kemanusiaan.
Dalam surat Nomor Kep-111/DP-MUI/X/2026, MUI menyebut telah melakukan kajian dan penelusuran terhadap sejumlah sumber sebelum menyampaikan sikapnya.
“Dalam kajian dan penelusuran MUI melalui berbagai sumber menemukan data kuat bahwa sejumlah konser Andrea Bocelli yang lalu terkait kuat dengan simpati dan bahkan dukungannya terhadap Israel,” tulis MUI dalam surat yang ditandatangani Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI Prof Sudarnoto A. Hakim serta Sekretaris Jenderal MUI Pusat Buya Dr Amirsyah Tambunan.
Baca Juga: Dorong Ketersediaan Pengacara, Siapkan 2.000 Beasiswa Pendidikan Profesi Advokat
Pernyataan tersebut menjadi latar kontroversi konser yang direncanakan berlangsung di Indonesia. Namun, di luar polemik itu, Bocelli memiliki perjalanan panjang sebagai penyanyi klasik yang dikenal luas di berbagai negara.
Andrea Bocelli Kehilangan Penglihatan sejak Usia 12 Tahun
Andrea Bocelli lahir pada 22 September 1958 di Lajatico, Tuscany, Italia. Ia tumbuh dengan ketertarikan terhadap musik, khususnya opera, yang kemudian membawanya menjadi salah satu tenor paling dikenal di dunia.
Perjalanan hidupnya tidak selalu mudah. Bocelli mengalami gangguan penglihatan sejak kecil dan akhirnya kehilangan penglihatan sepenuhnya pada usia 12 tahun setelah mengalami kecelakaan saat bermain sepak bola.
Kondisi tersebut tidak menghentikannya untuk mengejar pendidikan dan karier. Sebelum dikenal sebagai penyanyi profesional, Bocelli sempat menempuh pendidikan hukum dan bekerja sebagai pengacara.
Di sela kesibukan tersebut, ia terus mengembangkan kemampuan bermusiknya. Bakat vokalnya kemudian membuka jalan menuju industri musik profesional, hingga namanya dikenal melalui perpaduan musik klasik, opera, dan pop.
Karier Musiknya
Selama lebih dari tiga dekade berkarier, Bocelli membangun reputasi sebagai penyanyi dengan jangkauan pendengar lintas genre dan generasi. Ia dikenal melalui penampilan opera maupun lagu-lagu populer yang memadukan teknik vokal klasik dengan aransemen kontemporer.
Bocelli dilaporkan telah menjual lebih dari 90 juta album sepanjang kariernya. Ia juga pernah tampil dalam berbagai acara bergengsi di hadapan sejumlah pemimpin dunia dan tokoh penting, termasuk para Paus, presiden Amerika Serikat, serta keluarga kerajaan Inggris.
Popularitasnya tidak hanya bertumpu pada kemampuan menyanyikan repertoar klasik. Bocelli juga dikenal karena kemampuannya menjangkau pendengar musik populer, sehingga karya-karyanya dapat dinikmati oleh audiens yang lebih luas.
Baca Juga: AI Ubah Cara Publik Mengakses Informasi, Praktisi Humas Dituntut Jaga Akurasi
Salah satu penampilannya yang paling banyak mendapat perhatian terjadi pada Paskah 2020. Saat pandemi Covid-19 membatasi aktivitas masyarakat di berbagai negara, Bocelli tampil seorang diri di Katedral Duomo, Milan, Italia.
Konser bertajuk 'Music for Hope' tersebut disiarkan secara daring dan ditonton puluhan juta orang di seluruh dunia. Penampilan itu menjadi simbol pengharapan ketika banyak negara sedang menghadapi krisis kesehatan global.
Andrea Bocelli Foundation dan Program Kemanusiaan
Di luar karier musik, Bocelli mendirikan Andrea Bocelli Foundation (ABF) pada 2011. Yayasan tersebut membawa misi membangun kehidupan yang lebih baik melalui program pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Berdasarkan informasi yang tercantum dalam bahan biografi, yayasan itu telah menghimpun lebih dari 54 juta euro untuk berbagai proyek sosial. Programnya mencakup pembangunan sekolah di Haiti dan Italia, penyediaan akses pendidikan bagi ribuan anak, serta penyediaan air bersih dan fasilitas kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan.
ABF juga disebut terlibat dalam berbagai upaya tanggap bencana dan krisis, termasuk setelah gempa bumi di Italia pada 2016, selama pandemi Covid-19, serta dalam respons terhadap dampak perang di Ukraina dan banjir di Suriah.
Kegiatan tersebut memperlihatkan sisi lain kehidupan Bocelli di luar panggung. Meski dikenal sebagai penyanyi dengan penampilan di berbagai acara internasional, ia juga mengembangkan kegiatan sosial melalui yayasan yang didirikannya.
Namun, kiprah kemanusiaan tersebut merupakan bagian berbeda dari rekam jejaknya dan tidak dengan sendirinya menjawab kontroversi mengenai dugaan dukungan terhadap Israel yang menjadi persoalan dalam rencana konser di Indonesia.
Kehidupan Pribadi Andrea Bocelli di Luar Panggung
Di tengah kesibukan tampil di berbagai negara, Bocelli tetap memiliki ikatan dengan kampung halamannya di Lajatico, Tuscany. Ia dikenal menyukai kehidupan pedesaan dan memelihara kuda, aktivitas yang menjadi bagian dari kehidupannya di luar dunia musik.
Kehidupan pribadinya yang relatif dekat dengan lingkungan asal juga menjadi sisi lain dari sosok yang terbiasa tampil di panggung besar dan berhadapan dengan audiens internasional.
Baca Juga: BI DKI Fasilitasi 22 UMKM di ISEF 2026
Perjalanan Bocelli memperlihatkan bagaimana seorang penyanyi yang menghadapi keterbatasan penglihatan sejak muda dapat membangun karier internasional. Namun, reputasi musik dan aktivitas sosial seseorang tidak serta-merta menghilangkan pertanyaan publik mengenai sikap politik atau hubungan yang dipersoalkan.
Polemik Konser Andrea Bocelli di Indonesia
Penolakan MUI terhadap rencana konser Andrea Bocelli menempatkan agenda musik tersebut dalam perdebatan yang lebih luas. Persoalannya bukan semata-mata mengenai kualitas pertunjukan, melainkan juga dugaan keterkaitan sang penyanyi dengan dukungan terhadap Israel.
Pernyataan MUI dalam surat tersebut menjadi dasar sikap lembaga itu. Meski demikian, klaim mengenai dukungan Bocelli terhadap Israel perlu ditelusuri melalui bukti dan sumber yang dapat diverifikasi, termasuk konteks acara yang dipersoalkan dan bentuk keterlibatan sang penyanyi.
Dengan demikian, perjalanan hidup Andrea Bocelli sebagai tenor dunia, kiprahnya dalam kegiatan sosial, serta kontroversi yang mengiringi rencana konsernya di Indonesia perlu dilihat sebagai aspek-aspek yang berbeda.
Publik kini menunggu perkembangan lebih lanjut mengenai rencana konser di Candi Borobudur dan Jakarta pada akhir Oktober 2026, termasuk tanggapan pihak penyelenggara dan Andrea Bocelli terhadap polemik yang berkembang.