← Beranda
Dari Luka Tembak hingga Operasi Usus, Ini Riwayat Sakit Serius Para Paus Modern
Rian Alfianto• Senin, 12 Oktober 2026 | 16.58 WIB
Paus Leo XIV. (The Guardian)

Riwayat medis mereka mencakup berbagai kondisi, mulai dari luka tembak, tumor jinak, patah tulang, gangguan pencernaan, hingga masalah pernapasan yang mengancam jiwa.

Catatan tersebut memperlihatkan bahwa tugas sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik tidak membuat seorang paus terhindar dari persoalan kesehatan. Beberapa di antaranya bahkan harus menjalani operasi berulang kali ketika masih aktif memimpin Takhta Suci.

Baca Juga: EXO CBX Keluar Secara Sepihak dari Bubble Terkait Perpindahan Platform Komunikasi Penggemar

Paus Yohanes Paulus II, misalnya, menjalani operasi darurat setelah menjadi korban penembakan pada 1981. Sementara itu, Paus Fransiskus menjalani sejumlah tindakan medis, termasuk operasi usus pada 2021 dan operasi perut pada 2023.

Riwayat kesehatan para paus itu kembali menjadi perhatian setelah Paus Leo XIV mengumumkan pada Minggu (11/10/2026) bahwa dirinya dijadwalkan menjalani operasi untuk mengangkat nodul atau benjolan kecil di paru-parunya. 

Vatikan memperkirakan ia membutuhkan waktu sekitar satu pekan untuk menjalani perawatan pascaoperasi di Rumah Sakit Gemelli, Roma. 

Berikut riwayat penyakit dan tindakan medis sejumlah paus dalam urutan kronologis berdasarkan waktu kejadian.

1. Paus Fransiskus mengalami infeksi paru-paru pada 1957

Jauh sebelum terpilih sebagai paus, Jorge Mario Bergoglio, yang kemudian dikenal sebagai Paus Fransiskus, mengalami gangguan kesehatan serius ketika masih berusia 20 tahun.

Baca Juga: Tetap Produktif Saat Wamil, Hoshi SEVENTEEN Rilis Lagu Baru “BOYFRIEND”

Pada 1957, Bergoglio terserang penyakit yang awalnya dianggap sebagai flu. Namun, kondisinya tidak kunjung membaik hingga ia harus dibawa ke rumah sakit. Cairan dikeluarkan dari paru-parunya dan ia menerima pengobatan antibiotik.

Dalam wawancara pada 2021, Fransiskus mengingat peristiwa tersebut sebagai salah satu pengalaman ketika tindakan seorang tenaga kesehatan membantu menyelamatkan hidupnya. Ia menceritakan bahwa perawat di seminari menyadari kondisinya berbeda dari orang lain yang mengalami penyakit serupa.

Kisah itu penting karena sejumlah tulisan mengenai riwayat kesehatannya kerap menyebut pengangkatan sebagian paru-paru. Namun, keterangan Fransiskus sendiri menjelaskan bahwa cairan dikeluarkan dari paru-parunya. Karena itu, tindakan tersebut tidak tepat langsung disebut sebagai operasi pengangkatan sebagian paru-paru. 

2. Paus Paulus VI menjalani operasi prostat pada November 1967

Paus Paulus VI menjalani operasi prostat pada November 1967 ketika masih menjabat sebagai pemimpin Gereja Katolik.

Baca Juga: Byun Yo Han Jadi Sorotan Usai Dukung Song Min Ho di Tengah Kontroversi Wajib Militer

Operasi tersebut dilakukan untuk menangani pembesaran prostat yang mengganggu kesehatannya. Pada masa itu, tindakan medis terhadap seorang paus masih sangat dipengaruhi pertimbangan protokol kepausan.

Alih-alih menjalani operasi di rumah sakit umum, Paulus VI dioperasi di lingkungan apartemen kepausan di Vatikan. Ruang operasi disiapkan di sana, dengan tim dokter yang dipimpin ahli bedah Pietro Valdoni.

Peristiwa ini menjadi salah satu contoh bagaimana kebutuhan medis seorang paus harus diakomodasi dengan mempertimbangkan keamanan, privasi, dan tradisi institusi kepausan.

Catatan medis mengenai operasi tersebut juga dimuat dalam jurnal kedokteran Minerva Medica pada November 1967. 

3. Paus Yohanes Paulus II menjadi korban penembakan pada 1981

Salah satu peristiwa medis paling dramatis dalam sejarah kepausan modern terjadi pada 13 Mei 1981. Paus Yohanes Paulus II ditembak Mehmet Ali Ağca ketika menyapa umat di Lapangan Santo Petrus, Vatikan.

Akibat serangan tersebut, Yohanes Paulus II mengalami luka tembak di bagian perut dan sejumlah bagian tubuh lainnya. Ia segera dilarikan ke Rumah Sakit Gemelli di Roma untuk menjalani operasi darurat selama beberapa jam.

Tim medis menangani sejumlah cedera pada organ dalam dan perdarahan akibat peluru. Operasi itu menjadi titik awal masa pemulihan yang panjang, termasuk perawatan lanjutan karena komplikasi infeksi.

Meski mengalami cedera serius, Yohanes Paulus II akhirnya kembali menjalankan tugas kepausannya. Peristiwa tersebut juga memperkuat hubungan historis antara dirinya dan Rumah Sakit Gemelli, yang kemudian berulang kali menjadi tempat ia menjalani perawatan.

Dokumen medis yang dirilis Vatikan pada saat itu mencatat bahwa operasi berlangsung selama beberapa jam dan mencakup penanganan berbagai cedera akibat senjata api. 

4. Paus Yohanes Paulus II menjalani operasi usus pada 1992

Baca Juga: Erick Thohir Bangga Timnas Putri Indonesia Lolos Piala Asia U-17 2027

Lebih dari satu dekade setelah penembakan, Yohanes Paulus II kembali harus menjalani operasi besar pada Juli 1992.

Kali ini, dokter menemukan polip berukuran besar di usus besarnya. Polip tersebut diketahui bersifat jinak, tetapi memerlukan tindakan operasi untuk mengangkatnya.

Yohanes Paulus II menjalani perawatan di Rumah Sakit Gemelli selama sekitar dua pekan. Operasi ini menjadi salah satu dari beberapa tindakan medis yang dijalaninya pada dekade 1990-an.

Pada 1993, ia juga menjalani operasi bahu setelah terjatuh. Setahun kemudian, pada April 1994, ia mengalami patah tulang paha kanan akibat terjatuh dan harus menjalani operasi untuk memperbaiki sendi panggulnya.

Rentetan tindakan medis berlanjut pada Oktober 1996, ketika ia menjalani operasi usus buntu.

Riwayat tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan Yohanes Paulus II tidak hanya berkaitan dengan dampak penembakan pada 1981. Ia juga menghadapi masalah pencernaan, cedera akibat jatuh, dan gangguan kesehatan lain selama masa kepausannya. 

5. Paus Benediktus XVI menjalani operasi pergelangan tangan pada 2009

Pada Juli 2009, Paus Benediktus XVI mengalami kecelakaan saat berlibur di wilayah Pegunungan Alpen. Ia terjatuh dan mengalami patah pergelangan tangan kanan.

Benediktus kemudian menjalani operasi untuk memperbaiki cedera tersebut. Tindakan medis dilakukan dengan anestesi lokal, dan ia dapat kembali melanjutkan sejumlah aktivitas setelah menjalani pemulihan.

Pada akhir 2012, Benediktus juga diketahui menjalani penggantian baterai alat pacu jantung yang telah digunakannya selama beberapa tahun. Tindakan tersebut berbeda dari operasi besar untuk menangani penyakit akut, tetapi tetap menjadi bagian dari riwayat perawatan medisnya.

Beberapa bulan kemudian, pada Februari 2013, Benediktus mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan paus. Namun, tidak tepat menyimpulkan bahwa penggantian baterai alat pacu jantung menjadi penyebab langsung keputusan tersebut tanpa bukti yang mendukung hubungan itu.

Baca Juga: Erick Thohir Bangga Timnas Putri Indonesia Lolos Piala Asia U-17 2027

6. Paus Fransiskus menjalani operasi usus pada Juli 2021

Pada Juli 2021, Paus Fransiskus menjalani operasi di Rumah Sakit Gemelli untuk menangani divertikulitis, yakni peradangan pada kantong-kantong kecil yang dapat terbentuk di dinding usus besar.

Dalam operasi tersebut, dokter melakukan reseksi atau pengangkatan sebagian usus besar. Fransiskus menjalani rawat inap selama sekitar 10 hari sebelum kembali ke Vatikan.

Operasi itu menjadi salah satu tindakan medis besar pertama yang dijalaninya selama masa kepausan. Setelah pulih, ia kembali melaksanakan sejumlah agenda publik dan perjalanan internasional.

Dalam wawancara pada September 2021, Fransiskus mengatakan bahwa ia tidak pernah berpikir untuk mengundurkan diri setelah menjalani operasi tersebut. Ia juga menceritakan peran seorang perawat yang mendorongnya untuk menjalani tindakan medis ketika sejumlah pendapat lain menyarankan pengobatan dengan antibiotik.

Keterangan tersebut memperlihatkan bahwa keputusan menjalani operasi tidak hanya bergantung pada diagnosis, tetapi juga pada penilaian klinis dan pertimbangan tim kesehatan yang menangani pasien. 

7. Paus Fransiskus kembali menjalani operasi perut pada Juni 2023

Masalah kesehatan Fransiskus berlanjut pada Juni 2023. Ia kembali menjalani operasi di Rumah Sakit Gemelli untuk menangani hernia insisional, yaitu hernia yang dapat muncul di area bekas sayatan operasi sebelumnya.

Dokter melakukan laparotomi, yakni prosedur bedah dengan membuka rongga perut, serta memperbaiki hernia yang berisiko menyebabkan penyumbatan usus.

Operasi berlangsung dengan anestesi umum. Setelah tindakan medis, Fransiskus menjalani pemantauan dan pemulihan di rumah sakit sebelum kembali ke Vatikan.

Baca Juga: 9 Ungkapan Sehari-hari yang Menandakan Seseorang Mengalami Masalah Finansial Secara Psikologi

Kejadian tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam catatan kesehatan Fransiskus selama memimpin Gereja Katolik. Dalam tahun-tahun berikutnya, ia juga menghadapi sejumlah gangguan kesehatan, terutama yang berkaitan dengan sistem pernapasan.

Fransiskus meninggal dunia pada April 2025 dalam usia 88 tahun setelah mengalami masalah kesehatan serius. Riwayat medis pada tahun-tahun terakhir hidupnya memperlihatkan bahwa ia tetap menjalankan sejumlah tugas kepausan di tengah kondisi fisik yang kerap memerlukan perawatan.

8. Paus Yohanes Paulus II menjalani trakeostomi pada Februari 2005

Menjelang akhir hayatnya, Yohanes Paulus II mengalami gangguan pernapasan serius yang diperburuk oleh flu dan penyakit Parkinson yang telah lama dideritanya.

Pada Februari 2005, ia kembali dirawat di Rumah Sakit Gemelli setelah mengalami masalah pernapasan. Ketika kondisinya memburuk, dokter melakukan trakeostomi, yaitu prosedur membuat lubang pada bagian depan leher menuju trakea untuk membantu pernapasan.

Tindakan tersebut dilakukan pada 24 Februari 2005. Prosedur ini bertujuan membantu aliran udara menuju paru-paru ketika gangguan pada saluran pernapasan atas menyulitkan pasien bernapas.

Yohanes Paulus II kemudian kembali ke Vatikan pada Maret 2005. Namun, kesehatannya terus menurun dan ia meninggal dunia pada 2 April 2005 dalam usia 84 tahun.

Trakeostomi yang dijalaninya menjadi salah satu tindakan medis paling menonjol pada masa-masa terakhir kepausannya. 

9. Paus Leo XIV dijadwalkan menjalani operasi nodul paru-paru pada Oktober 2026

Riwayat kesehatan para paus modern berlanjut pada Paus Leo XIV, yang terpilih sebagai paus ke-267 pada Mei 2025.

Baca Juga: Siap-siap! Ju Ji Hoon Akan Kembali sebagai Baek Kang Hyuk di Drama The Trauma Code Season 2

Pada Minggu, 11 Oktober 2026, Leo XIV mengumumkan bahwa dokter menemukan nodul yang terlokalisasi dengan baik di paru-parunya ketika menjalani pemeriksaan kesehatan.

“Baru-baru ini, dalam beberapa pemeriksaan kesehatan, dokter menemukan nodul yang terlokalisasi dengan jelas di paru-paru saya,” kata Leo XIV.

Ia menjelaskan bahwa nodul tersebut ditemukan pada tahap sangat awal. Berdasarkan penilaian dokter, tindakan operasi dianggap perlu dilakukan.

Kantor Pers Vatikan menyatakan bahwa operasi dijadwalkan berlangsung pada awal pekan berikutnya di Rumah Sakit Gemelli, Roma. Masa rawat inap pascaoperasi diperkirakan berlangsung sekitar satu pekan.

Hingga pengumuman tersebut, Vatikan belum mengungkapkan apakah nodul itu bersifat jinak atau ganas. Karena itu, penemuan pada tahap awal tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan diagnosis atau hasil operasi.

Leo XIV juga dijadwalkan melakukan perjalanan apostolik ke Uruguay, Argentina, dan Peru pada 6–17 November 2026. Kelanjutan agenda tersebut akan bergantung pada perkembangan kesehatan dan pemulihannya.

 

EDITOR: Bintang Pradewo