JawaPos.com - Banjir yang merendam Bangkok mulai surut pada Senin (28/9) setelah hujan hampir terus-menerus mengguyur ibu kota Thailand sepanjang akhir pekan. Meski ketinggian air berangsur turun, sejumlah kawasan dan jalan utama masih tergenang, sementara dampaknya mulai terasa hingga ke aktivitas bandara dan perekonomian warga.
Pusat Pengendalian Banjir Bangkok mencatat sekitar 329.000 rumah tangga atau sekitar 700.000 orang terdampak banjir. Wakil Gubernur Bangkok Tavida Kamolvej mengatakan, kondisi mulai membaik sehingga upaya penyedotan dan pengaliran air dapat dipercepat.
Hujan masih turun secara berkala di sejumlah wilayah. Namun, Bangkok diperkirakan menerima curah hujan lebih rendah dibanding akhir pekan.
Empat kanal utama di Bangkok sebelumnya mengalami kenaikan permukaan air hingga terlalu tinggi untuk menampung limpasan dari permukiman di sekitarnya. Kondisi tersebut memperparah genangan di sejumlah kawasan.
Banjir Bangkok Ganggu Aktivitas Warga
Wilayah Bangkok bagian timur menjadi salah satu kawasan yang paling terdampak. Di Bang Kapi, misalnya, air pada Senin masih mencapai sekitar lutut di sekitar stasiun kereta dan pusat perbelanjaan.
Warga tetap beraktivitas di tengah genangan.
Sebagian berjalan sambil membawa kantong belanja, ransel, hingga kardus kebutuhan sehari-hari. Sebagian lainnya menggunakan perahu kecil yang disediakan pusat perbelanjaan untuk menuju atau meninggalkan stasiun.
Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt sebelumnya menetapkan status darurat banjir di seluruh 50 distrik kota pada Sabtu. Pemerintah kota memprioritaskan bantuan bagi warga rentan, termasuk lansia dan penyandang disabilitas.
Hampir 7.000 orang dilaporkan telah berada di tempat penampungan.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul juga turun langsung meninjau kawasan permukiman yang terendam parah di Bang Kapi pada Minggu malam.
Mengenakan sepatu bot putih, Anutin ikut melihat kondisi warga dan membantu penyaluran bantuan.
Banjir Memicu Panic Buying dan Gangguan Distribusi
Melansir ABC News, dampak banjir Bangkok juga meluas ke sektor ekonomi. Sejumlah warga melakukan pembelian kebutuhan pangan secara berlebihan karena khawatir pasokan terganggu.
Gangguan rantai pasok turut memengaruhi ketersediaan makanan dan barang lainnya. Perusahaan juga menghadapi persoalan tenaga kerja karena sebagian karyawan tidak dapat mencapai tempat kerja akibat genangan.
Situasi serupa terjadi pada sektor transportasi udara.
Bandara Suvarnabhumi Ikut Terdampak
Bandara utama Bangkok, Suvarnabhumi, mengalami penumpukan bagasi akibat sebagian pekerja bandara kesulitan datang ke tempat kerja.
Angkatan Udara Thailand mengerahkan 69 personel darat untuk membantu menangani penumpukan tersebut. Sebelumnya, pengelola bandara menyebut masalah itu berkaitan dengan kurangnya tenaga untuk mendukung layanan ground handling serta kendala pada sejumlah troli bagasi.
Akibatnya, sejumlah penerbangan mengalami keterlambatan keberangkatan. Penumpang yang tiba di Bangkok juga harus menunggu lebih lama untuk mengambil bagasi, sementara bagasi dari beberapa penerbangan masih belum tersalurkan.
Angkatan Udara Thailand mengatakan pengerahan personel tersebut ditujukan untuk membantu penumpang, termasuk wisatawan dari berbagai negara, sekaligus menjaga kelancaran layanan di bandara.
Pemerintah Thailand juga menetapkan Senin dan Selasa sebagai hari libur khusus bagi kantor pemerintahan. Badan usaha milik negara, lembaga keuangan, perusahaan swasta, dan rumah sakit diminta menentukan apakah operasional tetap diperlukan.
Hujan Lebat Masih Mengancam Thailand
Meski kondisi Bangkok mulai membaik, ancaman banjir belum sepenuhnya berakhir. Badan meteorologi Thailand memperkirakan hujan lebat hingga sangat lebat masih terjadi di sejumlah wilayah.
Peringatan terutama ditujukan kepada masyarakat di wilayah utara, tengah, dan timur Thailand. Warga diminta mewaspadai banjir bandang, luapan sungai, aliran air dari kawasan hutan, serta longsor.
Risiko lebih tinggi berada di sekitar aliran sungai, kaki bukit, dan kawasan dataran rendah.
Dengan hujan masih berpotensi turun, pemerintah daerah harus tetap mengantisipasi kemungkinan kenaikan kembali permukaan air meski genangan di Bangkok mulai berkurang.
Myanmar dan Kamboja juga Dilanda Banjir
Cuaca buruk tidak hanya melanda Thailand. Negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara juga menghadapi banjir dan hujan ekstrem.
Di Myanmar, sedikitnya 10 orang dilaporkan tewas dan puluhan lainnya hilang setelah hujan deras memicu banjir luas serta longsor di wilayah pesisir selatan Tanintharyi.
Dawei mencatat curah hujan mencapai 346 milimeter pada Senin. Angka tersebut memecahkan rekor curah hujan yang telah bertahan selama 80 tahun.
Departemen Meteorologi Myanmar memperingatkan kondisi dapat memburuk ketika sistem badai bergerak mendekati Yangon.
Sementara itu, banjir bandang melanda sedikitnya 10 provinsi di Kamboja. Data otoritas penanggulangan bencana mencatat 44.889 keluarga terdampak dan hampir 4.000 orang harus mengungsi.
Di Provinsi Siem Reap, kawasan yang menjadi lokasi kompleks candi Angkor juga ikut mendapat perhatian. Otoritas yang mengelola kawasan arkeologi tersebut mengoperasikan pintu-pintu air dan sistem pengalihan untuk mengurangi risiko banjir.