JawaPos.com - Oracle memberikan paket opsi saham dengan nilai total USD 988 juta atau sekitar Rp17,70 triliun dengan kurs Rp17.920 per dolar AS kepada pendiri Larry Ellison serta dua co-CEO, Clay Magouyrk dan Mike Sicilia, pada tahun fiskal 2026.
Namun, ketika tahun fiskal Oracle berakhir pada 31 Mei 2026, seluruh opsi itu berada dalam kondisi underwater, yakni harga saham Oracle lebih rendah daripada harga yang harus dibayar para eksekutif untuk menggunakan opsi tersebut. Akibatnya, opsi-opsi itu belum memiliki nilai intrinsik.
Kondisi itu mencerminkan perubahan tajam nilai pasar Oracle setelah periode pertumbuhan pesat bisnis komputasi awan dan investasi besar-besaran untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Pada Jumat, saham Oracle ditutup di USD 137, atau sekitar Rp2,45 juta per saham, setelah turun 53 persen dalam 12 bulan. Harga itu jauh di bawah harga pelaksanaan opsi yang diterima para eksekutif.
Melansir Fortune, Senin (28/9/2026), paket Ellison bernilai USD 117,8 juta saat diberikan pada Oktober 2025 dengan harga pelaksanaan USD 280. Sementara itu, paket Magouyrk dan Sicilia masing-masing bernilai USD 621,7 juta dan USD 248,7 juta dengan harga pelaksanaan USD 308. Keduanya menerima paket tersebut beberapa hari setelah ditunjuk sebagai co-CEO pada September 2025, menggantikan Safra Catz yang kini menjadi wakil ketua dewan.
Baca Juga: Michael Dell Naik ke Posisi Keempat Orang Terkaya Dunia, Salip Mark Zuckerberg dan Sergey Brin
Dalam laporan proksi, Oracle menyatakan ketiga paket itu "tidak memiliki nilai intrinsik" pada akhir tahun fiskal karena harga saham berada di bawah harga pelaksanaan. Dewan juga menegaskan bahwa opsi saham "sangat berbasis kinerja", sehingga nilainya bergantung pada kenaikan harga saham di masa depan.
Besarnya paket tersebut tidak terlepas dari perebutan talenta senior di sektor cloud dan AI. Oracle mengatakan pasar perekrutan untuk pemimpin teknologi berpengalaman sangat kompetitif. Perusahaan juga menegaskan, "Komite Kompensasi tidak mengambil tindakan khusus untuk memberikan kompensasi kepada para eksekutif atas potensi kerugian dalam nilai opsi saham."
Berbeda dari tiga eksekutif tersebut, CFO Hilary Maxson memilih skema Equity Choice Program yang memungkinkan eksekutif memilih opsi saham, saham terbatas (restricted stock units/RSU), atau kombinasi keduanya. Dari paket kompensasi sekitar USD 30 juta, Maxson memilih USD 10,4 juta dalam RSU. Nilainya mencapai USD12,7 juta pada akhir tahun fiskal, tetapi turun menjadi sekitar USD7,7 juta berdasarkan harga saham Jumat. Opsi lainnya dengan harga pelaksanaan USD 185 juga berada di bawah harga pasar.
Tekanan terhadap Oracle ituberkaitan erat dengan perlombaan membangun pusat data AI. Perusahaan menghabiskan USD 55,7 miliar atau sekitar Rp998,14 triliun untuk belanja modal pada tahun fiskal 2026. Pendapatan cloud naik 39 persen menjadi USD 34 miliar, sedangkan pendapatan infrastruktur cloud melonjak 77 persen menjadi USD 18,1 miliar. Pendapatan total juga meningkat 17 persen menjadi USD 67,4 miliar dan kewajiban kinerja yang tersisa mencapai USD638 miliar, dari USD 138 miliar setahun sebelumnya.
Namun, ekspansi itu dibayar dengan tekanan arus kas. Arus kas bebas Oracle tercatat negatif USD 23,7 miliar, sementara perusahaan menerbitkan USD 43 miliar surat utang senior (senior notes) dan kemudian menjual saham senilai USD 20 miliar pada harga USD141 per saham. Bloomberg juga melaporkan biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar utang Oracle mencapai rekor setelah perusahaan mengajukan klausul force majeure terkait pusat data di New Mexico.
Di sisi kompensasi tunai, Ellison, Magouyrk, dan Sicilia masing-masing memperoleh bonus sekitar USD 4,9 juta. Gaji pokok Ellison juga naik dari USD 1 menjadi USD 950.000, sama dengan dua co-CEO. Sebaliknya, Oracle melakukan pemutusan hubungan kerja dan total kompensasi median karyawan global turun menjadi USD 94.740 pada 2026 dari USD 98.899 pada 2025. Mayoritas opsi saham Oracle yang masih beredar juga berada dalam posisi underwater.
Baca Juga: Bill Gates Sebut AI Tanpa Regulasi Bisa Sebabkan 1 Miliar Kematian, Dorong Pengawasan Ketat
Dengan demikian, paket hampir USD 1 miliar itu menggambarkan risiko yang melekat pada skema opsi saham di tengah ledakan investasi AI. Pertumbuhan bisnis Oracle tetap kuat, tetapi penurunan harga saham membuat insentif berbasis ekuitas yang diberikan ketika valuasi berada dekat puncak kehilangan nilai intrinsiknya. Pemegang saham dijadwalkan memberikan suar