JawaPos.com - Populasi rakun di Jepang terus meluas dari wilayah pedesaan ke kawasan perkotaan. Pada saat yang sama, kerusakan pertanian akibat hewan invasif tersebut semakin meningkat dan nilainya kini mendekati Rp77,6 miliar per tahun.
Dilansir dari Kyodo, Senin (28/9), Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang mencatat kerugian akibat kerusakan tanaman pertanian yang disebabkan rakun mencapai JPY 693 juta atau sekitar Rp 77,62 miliar pada tahun fiskal yang dimulai April 2024. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan ¥334 juta atau sekitar Rp37,41 miliar satu dekade sebelumnya.
Masalah keberadaan rakun juga semakin terlihat di wilayah perkotaan.
Di Osaka, keluhan warga mengenai rakun meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Laporan yang masuk antara lain menyebut ikan mas di kolam taman dimakan dan rakun masuk ke loteng rumah.
Pemerintah Kota Osaka menerima 161 keluhan pada tahun fiskal 2023. Jumlahnya meningkat menjadi 332 pada tahun berikutnya dan mencapai 397 pada tahun fiskal 2025.
Menurut pemerintah Prefektur Osaka, rakun kini tidak hanya ditemukan di daerah pegunungan, tetapi juga di kawasan perkotaan. Wilayah persebarannya terutama meluas di bagian tengah prefektur, termasuk Kota Osaka.
Pejabat setempat menduga semakin banyak rakun yang menetap di kawasan permukiman untuk mencari makanan. Pemerintah prefektur kemudian mengimbau warga agar tidak mendekati atau memberi makan hewan tersebut.
Kerugian Pertanian Akibat Rakun Meningkat
Kerusakan pertanian akibat rakun juga semakin besar.
Di Prefektur Osaka, kerugian tanaman pertanian akibat rakun mencapai JPY 84,06 juta atau sekitar Rp9,41 miliar pada tahun fiskal 2024. Nilai tersebut dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Rakun menyumbang lebih dari 40 persen seluruh kerusakan pertanian akibat satwa liar di Osaka. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kerusakan yang disebabkan spesies lain, termasuk rusa dan babi hutan.
Mulai tahun fiskal 2026, Prefektur Osaka memasukkan Kota Osaka ke dalam program pengendalian rakun. Langkah tersebut memungkinkan pelaksanaan upaya pemusnahan berdasarkan Undang-Undang Spesies Asing Invasif.
Kementerian Pertanian Jepang mengatakan perubahan lingkungan kemungkinan turut membantu penyebaran rakun.
“Bertambahnya tempat yang dapat digunakan rakun untuk berkembang biak, seperti rumah-rumah kosong, mungkin membantu memperluas habitat mereka,” kata seorang pejabat kementerian.
Rakun Sudah Menyebar Hampir di Seluruh Hokkaido
Hokkaido juga menghadapi persoalan serupa. Jumlah kota dan daerah di prefektur paling utara Jepang yang mengonfirmasi keberadaan rakun terus meningkat sejak 1992.
Pada 2001, rakun telah ditemukan di sekitar 40 persen wilayah pemerintahan daerah di Hokkaido. Hingga akhir Januari tahun ini, persebarannya telah mencapai hampir seluruh wilayah prefektur.
Kerugian pertanian di Hokkaido sebelumnya berada di kisaran JPY 40 juta atau sekitar Rp 4,48 miliar per tahun. Namun, pada tahun fiskal 2024, nilainya menembus JPY 220 juta atau sekitar Rp24,64 miliar, menjadi yang tertinggi dalam catatan.
Pemerintah Prefektur Hokkaido telah menerapkan langkah pengendalian dan program pelatihan bagi pemerintah daerah. Namun, pejabat setempat mengatakan pertumbuhan jumlah rakun berlangsung terlalu cepat sehingga upaya pengendalian sulit mengimbangi persebarannya.
“Populasinya tumbuh dengan cepat sehingga ini menjadi pertempuran tanpa akhir,” kata seorang pejabat prefektur.
“Memberantas rakun di alam liar sulit dilakukan. Tantangannya adalah bagaimana menjaga jumlah mereka tetap terkendali,” lanjutnya.
Yuzuru Ishizuka, peneliti senior di Research Institute of Environment, Agriculture and Fisheries Prefektur Osaka yang mengkhususkan diri pada ekologi rakun, mengatakan penangkapan tetap perlu dilakukan meski kerusakan yang terlihat mulai berkurang.
“Kita perlu mengurangi jumlah mereka jika ingin membatasi kerusakan,” kata Ishizuka.
Menurutnya, langkah seperti pemasangan perangkap perlu terus dilakukan bahkan pada musim gugur dan musim dingin, ketika kerusakan tanaman biasanya menurun.