JawaPos.com - Seorang ulama Indonesia yang menjadi Imam sekaligus Direktur Jamaica Muslim Center di Queens, New York, Amerika Serikat, Shamsi Ali mendadak viral. Lewat media sosialnya, Shamsi Ali mengunggah videonya saat bertemu dengan demonstran yang menyuarakan dukungan terhadap separatisme Papua. Hal itu terjadi setelah dirinya selesai menyampaikan khutbah di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pertemuan tersebut berlangsung di jalan ketika Shamsi Ali melintas dan melihat aksi demonstrasi. Dalam video yang dibagikannya, Minggu (27/9), tampak demonstran membawa atribut Papua, termasuk bendera Bintang Kejora. Sejumlah poster yang berisi kritik terhadap Presiden Prabowo Subianto juga terlihat dalam aksi tersebut.
Shamsi Ali kemudian berdialog dengan salah seorang demonstran. Ia mempertanyakan alasan kelompok bersenjata di Papua menembak warga sipil yang menurutnya tidak memiliki kesalahan.
"Kemarin setelah khutbah di PBB saya melewati seorang pandemo Papua (anti Indonesia)," tulis Shamsi Ali dalam unggahan di Instagram, Minggu (27/9).
Dalam keterangannya, Shamsi Ali juga menyinggung kasus penembakan terhadap seorang warga sipil di Papua. Dia mempertanyakan dasar tudingan bahwa warga Indonesia yang berada di Papua bekerja sama dengan TNI.
"Kesal juga baru-baru ini seorang warga tak berdosa ditembak mati di Papua. Alasannya semua warga Indonesia melakukan fungsi multi kerjasama dengan TNI. Saya tanya bukti. Jawabannya tonton YouTube," lanjut ulama tersebut menirukan jawaban demonstran tersebut.
Shamsi Ali kemudian menyampaikan kecamannya terhadap aksi kekerasan terhadap warga sipil. "Mereka kejam dan lebih jahat dari binatang!," imbuhnya.
Kasus yang disinggung Shamsi Ali diduga berkaitan dengan tewasnya Aris Sanda, seorang sopir lajuran atau travel, di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, pada 15 September lalu. Korban yang berasal dari Toraja, Sulawesi Selatan, dilaporkan ditembak setelah kendaraan yang dibawanya dihentikan oleh kelompok bersenjata.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema menyebut rombongan kendaraan tersebut dihentikan sebelum para pelaku melakukan pemeriksaan terhadap pengemudi dan penumpang."Berdasarkan informasi awal, rombongan kendaraan lajuran dihentikan oleh sekelompok orang bersenjata," ujar Habema.
Setelah pemeriksaan, Aris Sanda disebut dibawa secara paksa oleh kelompok tersebut. Sementara itu, para penumpang diperintahkan kembali menuju Wamena. "Setelah itu, para penumpang diperintahkan kembali menuju Wamena, sementara Aris Sanda dibawa menuju arah kawasan Danau Habema," paparnya.
Menurut keterangan tersebut, korban kemudian dibawa ke kawasan Danau Habema. Aris dilaporkan ditembak hingga meninggal dunia dan jasadnya dimasukkan ke dalam kendaraan.
Aparat TNI yang memperoleh laporan mengenai kejadian tersebut selanjutnya melakukan penyisiran di sekitar lokasi. Jenazah korban kemudian ditemukan berada di dalam kendaraan yang telah terbakar.
Rekaman mengenai penyanderaan Aris Sanda juga beredar di media sosial. Dalam video tersebut, korban terlihat berada di bawah todongan senjata api laras panjang dan panah. Ia disebut dipaksa menyampaikan dukungan terhadap kemerdekaan Papua serta memegang bendera Bintang Kejora. Korban diduga kemudian dieksekusi.