JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping bertemu di Gedung Putih pada Kamis. Keduanya menonjolkan hubungan persahabatan, tetapi tampaknya belum mencapai banyak kemajuan dalam sejumlah isu utama yang selama ini memicu ketegangan, termasuk perdagangan dan kecerdasan buatan (AI).
Dilansir dari Kyodo, Jumat (25/9), Trump mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya menjalani “pertemuan yang luar biasa” dengan Xi. Namun, tidak ada kesepakatan besar yang diumumkan terkait sejumlah persoalan strategis antara kedua negara.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kemungkinan kesepakatan mengenai pengelolaan risiko AI. Media pemerintah Tiongkok melaporkan Xi mengatakan kedua negara harus “memanfaatkan keunggulan masing-masing” dalam mengembangkan teknologi AI, bukan “saling mewaspadai”.
Xi yang melakukan kunjungan kenegaraan pertamanya ke AS dalam 11 tahun juga mengatakan Tiongkok bersedia memfasilitasi dialog mengenai risiko dan manfaat AI.
Tujuan utama pertemuan tersebut adalah mempertahankan hubungan AS-Tiongkok tetap stabil. Namun, kedua negara masih menghadapi berbagai perbedaan, termasuk mengenai mineral kritis, Taiwan dan Iran.
Trump dan Xi Bicara AI
Dalam upacara penyambutan Xi, Trump mengatakan dirinya telah membangun “persahabatan yang sangat baik” dengan Presiden Tiongkok tersebut berdasarkan “saling menghormati dan kepentingan vital rakyat kita”.
Trump mengatakan kedua pemimpin akan membahas isu keamanan nasional dan AI, selain sejumlah persoalan lainnya.
“Tim kami telah bekerja untuk mendorong hubungan perdagangan yang lebih seimbang, termasuk akses pasar baru bagi para petani dan peternak Amerika,” kata Trump.
Sebelum Xi tiba di Gedung Putih, Trump menulis di media sosial bahwa dirinya ingin membiarkan perkembangan AI “tetap seperti sekarang”. Pernyataan tersebut menunjukkan Trump masih menentang langkah untuk mengatur perkembangan teknologi tersebut.
“Posisi Tiongkok juga demikian,” tambah Trump.
Dalam pernyataannya, Xi mengatakan kedua negara harus hidup berdampingan secara damai dengan memperluas kerja sama dan meningkatkan komunikasi.
“Tiongkok dan Amerika Serikat, sebagai dua negara besar, memperoleh manfaat dari kerja sama dan sama-sama akan mengalami kerugian dalam konfrontasi,” kata Xi melalui penerjemah.
Xi menambahkan bahwa persaingan antara kedua negara tidak perlu dihindari, tetapi harus berlangsung secara sehat dan tetap berada dalam batas.
Terkait AI, yang kini disebut Trump sebagai “super intelligence”, Xi mengatakan kedua negara memiliki “kemampuan dan tanggung jawab” untuk mengembangkan serta mengelola teknologi tersebut demi kebaikan.
Xi menekankan pentingnya memastikan pengembangan AI “selalu berada di bawah kendali manusia dan melayani kesejahteraan masyarakat”. Pernyataan tersebut disampaikan ketika Tiongkok dan AS terus bersaing dalam pengembangan model AI mutakhir di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai aspek keselamatan teknologi tersebut.
Gencatan Senjata Perdagangan Diperpanjang
Sehari sebelum pertemuan, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kedua negara akan memperpanjang gencatan senjata perdagangan selama dua bulan hingga 10 Januari. Kesepakatan tersebut sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 10 November.
Penghentian sementara perang dagang dan pengurangan tarif balasan yang sebelumnya mencapai lebih dari 100 persen dipandang penting untuk mempertahankan hubungan kedua negara tetap terkendali.
Trump dan Xi menyepakati penghentian sementara tersebut ketika bertemu di Korea Selatan pada Oktober tahun lalu. Kesepakatan itu mencakup penundaan kontrol ekspor baru Tiongkok terhadap mineral tanah jarang yang diperlukan untuk pembuatan produk teknologi tinggi.
Namun, sejauh ini tidak ada kesepakatan ekonomi spesifik yang diumumkan selain perpanjangan gencatan senjata tersebut.
Pejabat AS sebelumnya berharap Tiongkok berkomitmen membeli lebih banyak produk pertanian Amerika. Washington juga mengisyaratkan kemungkinan penurunan tarif secara timbal balik terhadap sejumlah barang dari sektor yang tidak sensitif.
Kunjungan Xi yang berlangsung sekitar empat bulan setelah perjalanan Trump ke Beijing menunjukkan keinginan kedua negara mempertahankan komunikasi tingkat tinggi di tengah meningkatnya persaingan politik, ekonomi dan teknologi.
Sejak awal kunjungan tiga harinya, Trump menunjukkan sikap hangat terhadap Xi dan berulang kali mengatakan memiliki “hubungan yang sangat baik” dengan pemimpin Tiongkok tersebut.
Taiwan Tetap Jadi Isu Sensitif
Selain perdagangan dan AI, Trump dan Xi juga membahas perang Rusia-Ukraina serta situasi di Korea Utara, menurut Xinhua.
Xi juga kembali mengangkat persoalan Taiwan. Media resmi Tiongkok melaporkan Xi mengatakan kepada Trump bahwa Tiongkok berharap AS menentang “kemerdekaan Taiwan”.
Tiongkok mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk membawa pulau yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut di bawah kendali Beijing.
Sejumlah sekutu dan mitra AS di Asia semakin khawatir Washington dapat mengurangi dukungan jangka panjang terhadap pertahanan Taiwan sebagai imbalan atas kesepakatan ekonomi dengan Tiongkok.
Kekhawatiran mengenai keandalan komitmen AS terhadap keamanan regional juga meningkat setelah Trump, dalam wawancara saat kunjungannya ke Beijing, menyebut rencana penjualan senjata kepada Taiwan senilai sekitar USD14 miliar sebagai “alat tawar” dalam negosiasi dengan Tiongkok. Nilai tersebut setara sekitar Rp246,82 triliunberdasarkan kurs Rp17.630 per dolar AS.