← Beranda
Trump-Xi Bertemu di Gedung Putih, Sepakat Jaga Hubungan di Tengah Rivalitas AI dan Ekonomi
Dhimas Ginanjar• Jumat, 25 September 2026 | 17.04 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping berjalan kembali menuju Gedung Putih pada 24 September 2026. (Reuters/Evan Vucci)

JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping bertemu di Gedung Putih pada Kamis. Keduanya menonjolkan hubungan persahabatan dan berharap dapat memperluas kerja sama, termasuk dalam tata kelola teknologi kecerdasan buatan (AI).

Dilansir dari Kyodo, Jumat (25/9), pertemuan tersebut berlangsung di tengah upaya kedua negara menjaga hubungan tetap stabil meski masih menghadapi sejumlah perbedaan terkait mineral kritis, Taiwan, Iran, hingga perkembangan teknologi AI.

Dalam upacara penyambutan Xi, Trump mengatakan dirinya telah membangun “persahabatan yang sangat baik” dengan pemimpin Tiongkok tersebut. Menurut Trump, hubungan itu dibangun berdasarkan “saling menghormati dan kepentingan vital rakyat kita”.

Trump mengatakan kedua pemimpin akan membahas isu keamanan nasional dan AI, selain sejumlah persoalan lainnya.

“Tim kami telah bekerja untuk mendorong hubungan perdagangan yang lebih seimbang, termasuk akses pasar baru bagi para petani dan peternak Amerika,” kata Trump.

Sebelum kedatangan Xi di Gedung Putih, Trump juga menulis di media sosial bahwa “hari besar” bersama Xi telah menanti. Menurutnya, AI akan menjadi salah satu topik besar dalam pembicaraan.

Trump juga mengisyaratkan bahwa dirinya masih menentang langkah yang dapat memperlambat perkembangan AI.

Xi Dorong Persaingan yang Sehat

Dalam pernyataannya saat upacara penyambutan, Xi mengatakan AS dan Tiongkok perlu meningkatkan komunikasi untuk memperkuat pemahaman satu sama lain.

“Kita harus hidup berdampingan dalam damai,” ujar Xi melalui penerjemah.

Menurut Xi, sebagai dua negara besar, AS dan Tiongkok sama-sama memperoleh manfaat dari kerja sama dan akan mengalami kerugian jika terjadi konfrontasi.

“Kita tidak perlu menghindari pembicaraan mengenai persaingan, tetapi persaingan kita harus sehat dan tetap berada dalam batas,” katanya.

Xi juga mengatakan kedua negara memiliki kemampuan sekaligus tanggung jawab untuk mengembangkan dan mengelola AI demi kebaikan masyarakat. Pengembangan AI, menurutnya, harus tetap berada di bawah kendali manusia dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kunjungan Xi ke Washington merupakan yang pertama dalam 11 tahun. Trump dan Xi diperkirakan menghabiskan cukup banyak waktu untuk membahas persoalan ekonomi.

Sehari sebelum pertemuan, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kedua negara akan memperpanjang gencatan senjata perdagangan yang rapuh selama dua bulan hingga 10 Januari. Kesepakatan tersebut sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 10 November.

Penghentian sementara perang dagang dan pengurangan tarif balasan yang sebelumnya mencapai lebih dari 100 persen dipandang penting untuk menjaga hubungan kedua negara tetap terkendali.

Trump dan Xi menyepakati penghentian sementara tersebut ketika bertemu di Korea Selatan pada Oktober tahun lalu. Kesepakatan itu juga mencakup penundaan penerapan kontrol ekspor baru Tiongkok terhadap mineral tanah jarang yang dibutuhkan untuk memproduksi berbagai produk berteknologi tinggi.

AI Jadi Ruang Kerja Sama

Kunjungan kenegaraan Xi yang berlangsung sekitar empat bulan setelah perjalanan Trump ke Beijing menunjukkan keinginan kedua negara untuk mempertahankan komunikasi tingkat tinggi di tengah meningkatnya persaingan politik, ekonomi, dan teknologi.

Sejak awal kunjungan Xi selama tiga hari tersebut, Trump menunjukkan sikap hangat terhadap pemimpin Tiongkok itu. Trump bahkan menyambut Xi secara langsung dalam upacara kedatangan di bandara pada Rabu.

Kedua negara juga telah sepakat membuka dialog mengenai AI. Implikasi keamanan dari perkembangan teknologi tersebut menjadi salah satu bidang yang berpotensi menjadi ruang kerja sama.

Sebelumnya, AS mengusulkan kepada Tiongkok pembentukan sistem pemberitahuan untuk insiden AI yang dapat berdampak terhadap keamanan nasional. Usulan tersebut disampaikan Bessent pada Minggu.

Dalam bidang ekonomi, pejabat AS berharap Tiongkok berkomitmen membeli lebih banyak daging sapi dan produk pertanian Amerika lainnya. Washington juga mengisyaratkan kemungkinan penurunan tarif secara timbal balik terhadap sejumlah barang dari sektor yang tidak sensitif.

Meski demikian, masih terdapat sejumlah persoalan yang berpotensi dibahas dalam pertemuan Trump dan Xi, termasuk perang Rusia-Ukraina dan ambisi nuklir Korea Utara.

Para pejabat AS mengisyaratkan isu-isu tersebut kemungkinan tidak menjadi fokus utama karena tidak secara langsung berkaitan dengan hubungan bilateral kedua negara.

Taiwan Tetap Jadi Isu Sensitif

Taiwan diperkirakan tetap menjadi salah satu isu yang dibawa Xi dalam pembicaraan. Tiongkok mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk membawa pulau tersebut di bawah kendali Beijing.

Sejumlah sekutu dan mitra AS di Asia juga semakin mencermati kemungkinan perubahan dukungan Washington terhadap pertahanan Taiwan sebagai bagian dari kesepakatan ekonomi dengan Tiongkok.

Kekhawatiran mengenai konsistensi komitmen AS terhadap keamanan regional meningkat setelah Trump, dalam wawancara saat kunjungannya ke Beijing, menyebut rencana penjualan senjata senilai sekitar USD14 miliar kepada Taiwan sebagai “alat tawar” dalam negosiasi dengan Tiongkok. Nilai tersebut setara sekitar Rp246,82 triliun dengan kurs Rp17.630 per dolar AS.

EDITOR: Dhimas Ginanjar