JawaPos.com - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada tekanan Amerika Serikat, tetapi tetap membuka peluang dialog dengan pemerintahan Donald Trump.
Di saat yang sama, Tehran menjadikan penghentian perang, agresi AS, blokade laut, dan tekanan ekonomi sebagai syarat yang harus dipenuhi sebelum pembicaraan lebih jauh dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Sikap itu disampaikan Pezeshkian dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB di New York. Ini merupakan pidato pertamanya sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang besar-besaran terhadap Iran.
Pezeshkian menyampaikan pesan ganda. Ia menolak tekanan Washington dengan bahasa keras, tetapi tidak menutup pintu diplomasi selama negosiasi tidak dilakukan dengan ancaman.
“Harus dipahami oleh Presiden Trump dan mereka yang berusaha mengintimidasi kami bahwa kami siap untuk dialog dan diplomasi dan negosiasi, tetapi tanpa bahasa kekuatan,” kata Pezeshkian mengutip Guardian.
Pertemuan tiga jam AS-Iran
Sinyal diplomasi itu muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu utusan khusus AS Steve Witkoff di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB.
Pertemuan tersebut berlangsung sekitar tiga jam dan dinilai konstruktif oleh kedua pihak. Pertemuan itu menjadi kontak langsung pertama antara keduanya sejak Juni.
Namun, perkembangan tersebut tidak membuat sikap Tehran berubah. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan pertemuan tersebut dilakukan melalui mediasi Qatar dan bertujuan menyampaikan tuntutan Iran kepada pihak Amerika.
“Interaksi yang terjadi dengan pihak Amerika adalah melalui mediasi Qatar. Interaksi ini bertujuan menyampaikan kondisi Iran, termasuk mengakhiri perang dalam seluruh dimensinya, penghentian tindakan agresif Amerika, blokade laut, dan perang ekonomi, pembebasan aset Iran dan sebagainya,” ujar Baghaei.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Tehran masih menempatkan penghentian tekanan sebagai dasar sebelum proses diplomasi dapat bergerak lebih jauh.
Selat Hormuz ikut dipertaruhkan
Salah satu persoalan paling penting dalam pembicaraan adalah Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut telah beberapa kali diblokade sejak perang dimulai, yang kemudian ikut mendorong kenaikan harga energi global.
Pezeshkian memberikan sinyal bahwa Iran ingin memiliki posisi kuat dalam menentukan masa depan jalur tersebut. Ia menegaskan Tehran tidak dapat menerima penggunaan Selat Hormuz untuk mengangkut senjata yang kemudian digunakan untuk menyerang Iran.
Iran juga disebut telah menetapkan tujuh prasyarat sebelum kembali ke meja perundingan. Dalam perkembangan terbaru, Tehran menyatakan Selat Hormuz dapat dibuka kembali dalam waktu tujuh hari apabila seluruh persyaratan tersebut dipenuhi.
Di sisi lain, pembukaan jalur tersebut berpotensi menuntut pengaturan baru bagi kapal komersial yang melintas. Salah satu opsi yang disebutkan adalah jalur pelayaran yang memasuki wilayah perairan Iran dan berada di bawah kendali Iran, bukan Oman.
Dalam pidatonya di PBB, Pezeshkian juga menekankan bahwa penyelesaian persoalan keamanan Timur Tengah seharusnya tidak bergantung pada Amerika Serikat atau kekuatan dari luar kawasan.
Iran, menurut dia, tidak memandang negara-negara tetangga sebagai pesaing keamanan, melainkan sebagai mitra.
“Di dunia saat ini, mereka yang tidak mampu mempertahankan diri akan diinjak-injak,” katanya.
Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan posisi Iran yang ingin hidup mandiri dan mempertahankan kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri.
Pezeshkian juga menggunakan pidatonya untuk membantah tuduhan bahwa Iran merupakan pihak yang melakukan terorisme.
Ia justru menuduh Washington melakukan 'terorisme' setelah pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas pada awal perang.
Pezeshkian menunjukkan foto Khamenei dan lebih dari 150 anak sekolah yang disebut tewas pada hari-hari awal konflik.
“Kami hanya membela diri. Kami bukan teroris,” kata Pezeshkian. “Rakyat kami yang tidak bersalah menjadi sasaran serangan pengecut dan agresi yang dipaksakan terhadap negara kami.”
Ia juga menegaskan Iran memiliki hak menjalankan program nuklir sipil secara damai dan tidak menginginkan senjata nuklir.
Meski Pezeshkian menekankan jalur diplomasi, sikap di dalam pemerintahan Iran tidak sepenuhnya seragam.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang berhaluan keras, Mohsen Rezaei, bahkan menolak menyebut pertemuan dengan pihak Amerika sebagai negosiasi.
“Mr Araghchi telah mengumumkan kondisi Iran, dan sampai kondisi Iran dilaksanakan, Selat Hormuz tidak akan dibuka dan tidak akan ada negosiasi,” kata Rezaei.
Ia juga memperingatkan negara-negara tetangga Iran yang menerapkan larangan perjalanan warga Iran akibat tekanan Amerika Serikat.
Menurut Rezaei, Iran tidak akan tinggal diam jika negara-negara kawasan ikut mendukung kebijakan Washington. Ia bahkan memperingatkan bahwa jika penerbangan Iran dilarang melalui kerja sama regional dengan AS, bandara negara-negara tersebut juga akan kehilangan penerbangan.
Sikap keras Tehran berlangsung ketika tekanan terhadap Iran semakin meningkat. Sanksi membuat Iran kesulitan mengekspor minyak, sementara blokade laut AS menghambat akses negara tersebut terhadap sumber devisa.
Kondisi itu juga merambah penerbangan sipil Iran. Pesawat-pesawat sipil Iran menghadapi ancaman larangan operasi secara global akibat potensi sanksi sekunder Amerika terhadap pihak yang berhubungan dengan armada penerbangan Iran.
Baca Juga: Iran Jelaskan ke AS untuk Lanjutkan Proses Diplomasi
Iran kemudian melakukan pembicaraan dengan negara-negara tetangga untuk mempertahankan jalur penerbangan. Namun, Oman dan Irak disebut telah dipaksa menutup wilayah udara mereka bagi pesawat sipil Iran.
Di tengah tekanan tersebut, pertemuan tiga jam antara Araghchi dan Witkoff menunjukkan bahwa jalur komunikasi Washington-Tehran belum sepenuhnya tertutup.