JawaPos.com - Jepang berencana mengkaji penggunaan robot humanoid yang dilengkapi kecerdasan buatan (AI) fisik untuk kebutuhan pertahanan. Teknologi tersebut dipertimbangkan untuk menjalankan tugas nonpertempuran, seperti patroli pangkalan dan dukungan logistik, di tengah kesulitan Pasukan Bela Diri Jepang (SDF) mendapatkan cukup personel.
Dilansir dari Kyodo, Rabu (23/9), rencana penggunaan robot humanoid tersebut disampaikan oleh sumber pemerintah dan partai berkuasa. Pemerintah Jepang diperkirakan memulai penelitian mengenai teknologi tersebut dan menggelar kompetisi bagi perusahaan swasta serta universitas untuk mendemonstrasikan kemampuan robot yang mereka kembangkan.
Penggunaan robot dalam tugas nonpertempuran dinilai dapat membantu mengurangi kebutuhan tenaga manusia. Namun, sumber tersebut mengambil sikap negatif terhadap penggunaan robot humanoid dalam operasi pertempuran.
AI fisik memungkinkan sistem seperti robot menganalisis informasi yang dikumpulkan melalui sensor dan kamera, kemudian melakukan berbagai tugas berdasarkan informasi tersebut.
Selain patroli pangkalan dan dukungan logistik, robot humanoid berpotensi digunakan untuk operasi pengintaian dan penyelamatan pada masa mendatang.
“AI dapat menjadi alat yang efektif untuk menggantikan atau melengkapi operasi yang dilakukan oleh sejumlah personel yang terbatas,” kata seorang pejabat senior Kementerian Pertahanan Jepang.
Risiko Robot AI dalam Pertempuran
Meski AI dinilai dapat membantu SDF, pemerintah Jepang masih berhati-hati terhadap penggunaannya dalam pertempuran.
Salah satu kekhawatiran utama adalah kemungkinan teknologi tersebut melakukan kesalahan dalam mengidentifikasi pihak yang dihadapi. Sistem AI berpotensi keliru mengenali pasukan sendiri sebagai musuh atau sebaliknya, maupun menganggap kombatan sebagai warga sipil dan sebaliknya.
Seorang pejabat senior panel keamanan dari Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa juga menyoroti belum adanya aturan global yang memadai mengenai penggunaan teknologi tersebut.
“Kami tidak mengharapkan robot humanoid yang dilengkapi senjata digunakan untuk bertempur,” ujarnya.
Pemerintah Jepang berencana merevisi sejumlah dokumen penting mengenai pertahanan dan keamanan pada akhir tahun. Dalam revisi tersebut, pemanfaatan AI secara lebih luas dipandang sebagai salah satu kunci untuk memperkuat kemampuan pertahanan Jepang.
Dalam permintaan anggaran untuk tahun fiskal berikutnya yang dimulai April, Kementerian Pertahanan Jepang juga menyatakan akan mengintegrasikan AI ke dalam struktur komando SDF.
Kementerian Pertahanan juga berencana menguji “satelit AI taktis” yang dirancang untuk menganalisis sejumlah besar informasi yang dikumpulkan dari luar angkasa dan membantu mengarahkan rudal.