← Beranda
PBB Catat Lebih dari 100.000 Orang Mengungsi Akibat Konflik Kelompok Houthi
Risma Azzah FatinKamis, 17 September 2026 | 21.31 WIB
PBB catat lebih dari 100.000 orang mengungsi akibat konflik kelompok Houthi (Al-Jazeera)

 

 

JawaPos.com – Menurut Badan Pengungsi PBB (UNHCR), lebih dari 100.000 orang terpaksa mengungsi di dalam Yaman akibat meningkatnya konflik antara Houthi dan pasukan yang setia kepada pemerintah yang diakui secara internasional.

Dilansir dari laman Al-Jazeera pada Rabu (16/9), Meningkatnya permusuhan di sepanjang pantai barat Yaman juga mendorong ribuan orang mengambil risiko melakukan perjalanan laut melintasi Selat Bab al-Mandeb menuju Djibouti untuk mencari keselamatan.

UNHCR memperingatkan bahwa gelombang pengungsian tersebut berpotensi memperburuk krisis kemanusiaan karena semakin banyak masyarakat membutuhkan tempat tinggal, makanan, air bersih, layanan kesehatan, dan perlindungan.

UNHCR menyebut lebih dari 65.000 pengungsi dan pencari suaka yang terdaftar di Yaman, terutama berasal dari Somalia dan Ethiopia, turut menghadapi risiko akibat pertempuran yang berlangsung.

Dalam empat hari terakhir, lebih dari 2.400 orang dilaporkan telah menyeberangi Selat Bab al-Mandeb, dengan sebagian besar pendatang merupakan perempuan, anak-anak, dan lanjut usia yang tiba dalam kondisi kelelahan serta hanya membawa sedikit barang.

UNHCR memperkirakan membutuhkan dana tambahan sekitar 14 juta dolar AS atau sekitar Rp227,5 miliar untuk memenuhi kebutuhan mendesak keluarga yang mengungsi di Yaman, selain dukungan bagi para pengungsi yang tiba di Djibouti.

Konflik tersebut semakin memperburuk kondisi masyarakat yang terpaksa meninggalkan rumah dalam waktu singkat karena takut terhadap penembakan dan kekerasan bersenjata.

Sejumlah pengungsi mengaku hanya dapat membawa anak-anak dan barang-barang penting ketika meninggalkan wilayah mereka, sementara sebagian keluarga lainnya masih terpisah akibat situasi keamanan yang memburuk.

UNHCR menilai meningkatnya jumlah pengungsi telah memberikan tekanan besar terhadap komunitas penerima dan lokasi pengungsian yang memiliki sumber daya terbatas.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti