← Beranda
Ledakan Pusat Data AI Global Picu Perluasan Produksi PFAS, Bahan Kimia Abadi Kembali Meluas
Mellyna Putri DiniarRabu, 16 September 2026 | 03.48 WIB
ChemSec memperingatkan peningkatan produksi PFAS dapat menghambat upaya pembatasan bahan kimia tersebut di Eropa, Inggris, dan Amerika Serikat / Foto: (The Guardian)

JawaPos.com — Ledakan industri kecerdasan buatan (AI) tidak hanya meningkatkan kebutuhan listrik, cip, dan pusat data. Di balik pembangunan infrastruktur itu, permintaan terhadap PFAS, kelompok bahan kimia yang dikenal sebagai “bahan kimia abadi” karena sangat sulit terurai di alam, juga meningkat. Aktivis lingkungan memperingatkan ekspansi produksi dapat memperbesar persoalan kesehatan dan pencemaran.

Dilansir dari The Guardian, Selasa (15/9/2026), survei terhadap 10 produsen PFAS terbesar menunjukkan hampir seluruh perusahaan berencana meningkatkan produksi di Eropa, Asia, dan Amerika Utara. Investasi itu banyak dikaitkan dengan “revolusi AI” karena PFAS digunakan dalam pembuatan semikonduktor serta sistem pendingin generasi baru untuk pusat data.

Anne-Sofie Bäckar, direktur eksekutif ChemSec, organisasi pengawas bahan kimia asal Swedia yang melakukan penelitian tersebut, mengatakan ekspansi itu berisiko menggagalkan upaya pembatasan PFAS di Eropa, Inggris, dan sebagian Amerika Serikat. “Rencana ekspansi perusahaan-perusahaan ini menunjukkan bahwa jika pemerintah dan regulator tidak memaksakan penghentian penggunaan secara cepat, kita akan menghadapi gelombang baru bahan kimia abadi,” kata Bäckar.

Sejumlah produsen PFAS memperluas kapasitas untuk memenuhi kebutuhan pusat data. Daikin dari Jepang menyiapkan “pusat data” dan berjanji “mempertahankan serta memperluas pangsa terdepan di industri dengan meningkatkan penjualan produk fluor yang ada dan memperkenalkan produk baru”. Arkema asal Prancis juga membangun fasilitas produksi senilai USD 60 juta atau sekitar Rp1,06 triliun, dengan kurs Rp17.640 per dolar AS, di Kentucky.

Arkema mengatakan fasilitas itu “akan memungkinkan kami mengikuti ekspansi cepat kebutuhan pendinginan pusat data”. Sementara itu, Chemours di Amerika Serikat meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan dari “pusat data canggih dan perangkat keras AI”. Perusahaan itu menyebut solusi pendingin cairnya dapat menekan kebutuhan energi, air, ruang, pemeliharaan, dan investasi pusat data. Chemours juga diperintahkan membayar USD 450 juta atau sekitar Rp7,94 triliun untuk menyelesaikan gugatan terkait pelepasan PFAS.

Perusahaan lain dalam industri PFAS yang meningkatkan produksi antara lain AGC dari Jepang, Dongyue dari Tiongkok, Gujarat Fluorochemicals dari India, HaloPolymer dari Rusia, Orbia Fluor & Energy Materials dari Meksiko, Solstice dari Amerika Serikat, dan Syensqo dari Belgia. PFAS juga digunakan sebagai pelapis dan pengikat baterai litium-ion untuk kendaraan listrik, laptop, dan telepon seluler. Bir Kapoor, CEO Gujarat Fluorochemicals, menyebut baterai, pusat data, semikonduktor, dan hidrogen hijau sebagai sektor yang menawarkan peluang pertumbuhan. “Ada peluang pertumbuhan yang luar biasa di sana,” ujarnya.

Kebutuhan AI terhadap PFAS bukan hanya terkait pendinginan. Dalam sistem two-phase immersion cooling, server direndam dalam cairan PFAS bertitik didih rendah. Saat perangkat memanas, cairan menguap dan membawa panas, lalu didinginkan kembali melalui kumparan berpendingin air. Selain itu, PFAS juga digunakan dalam berbagai tahap fabrikasi semikonduktor untuk memenuhi kebutuhan industri AI.

Danske Bank menggambarkan posisi bahan kimia itu dalam pembuatan cip. Dalam catatan investornya, bank tersebut menyatakan, “Dalam dunia cip mikro, ‘bahan kimia abadi’ ini bukan sekadar bahan tambahan; mereka merupakan bahan penting yang terintegrasi dalam hingga 1.000 tahap berbeda pada skala nanometer.” Analis memperingatkan PFAS dapat menjadi “risiko tersembunyi dari ledakan AI”, dengan potensi kewajiban pemulihan lingkungan dan litigasi bernilai miliaran euro.

Masalahnya terletak pada sifat dasar PFAS. Ikatan karbon-fluorin di dalamnya termasuk yang terkuat dalam kimia organik sehingga tahan terhadap panas, air, dan korosi. Sifat itu membuatnya berguna untuk industri, tetapi juga membuat PFAS nyaris tidak dapat dihancurkan di lingkungan. Zat tersebut dapat terakumulasi di udara, air, tanah, serta rantai makanan. Para ilmuwan bahkan memperingatkan akumulasinya telah melampaui batas planet yang aman, sementara penelitian mengaitkannya dengan kanker, penyakit hati dan ginjal, kolesterol tinggi, serta cacat lahir.

Sementara itu, tidak semua perusahaan memilih ekspansi. Archroma dari Swiss memasarkan alternatif bebas PFAS, sedangkan BASF dari Jerman berencana menghentikan produksi PFAS pada 2028. ChemSec, yang melakukan survei terhadap 10 produsen terbesar, juga mengirim alat tes darah kepada para CEO perusahaan Eropa untuk menguji kadar PFAS dan mempublikasikan hasilnya. “Para pemimpin perusahaan harus memahami bahwa mereka juga terdampak racun yang mereka produksi, yang telah terdeteksi dalam darah lebih dari 99 persen manusia di seluruh dunia,” kata Bäckar.

Ekspansi AI memperbesar kebutuhan PFAS untuk cip dan sistem pendingin pusat data, sementara peningkatan produksi berpotensi menghambat upaya pembatasan bahan kimia itu di berbagai negara. Persoalannya, pertumbuhan infrastruktur AI kini turut memperluas rantai pasok bahan yang dapat bertahan jauh lebih lama daripada teknologi yang menggunakannya.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho