JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut Iran bisa saja diperlakukan seperti Venezuela, termasuk membuka kemungkinan Amerika Serikat bertahan di Iran untuk menguasai minyak negara tersebut.
Pernyataan ini muncul di tengah perang yang masih mengguncang Timur Tengah dan membuat pasar minyak kembali bergejolak.
Trump mengatakan AS pada akhirnya bisa meninggalkan Iran setelah perang berakhir. Namun, ia membuka opsi berbeda jika Washington memutuskan untuk mempertahankan keterlibatan di negara tersebut dan mengambil alih sumber daya minyaknya.
“Kami pada akhirnya akan keluar (dari Iran), kecuali kami memutuskan untuk tetap bertahan dan mengambil minyak seperti Venezuela,” kata Trump saat berada di Irlandia sebagaimana dikutip dari Daily Sabah.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa bagi Trump, berakhirnya perang Iran tidak serta-merta berarti berakhirnya kepentingan ekonomi Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Trump Ingin Iran Seperti Venezuela?
Trump mengaitkan opsi tersebut dengan kesepakatan Amerika Serikat terkait Venezuela yang diumumkan pada Agustus.
Menurut Trump, pendapatan AS dari Venezuela bahkan telah membayar biaya perang berkali-kali lipat.
Baca Juga: Eks Direktur Kementan Jalani Sidang Perdana Kasus Perjalanan Dinas Fiktif
Ia kemudian menggunakan pengalaman tersebut sebagai pembanding ketika menjelaskan kemungkinan kebijakan AS terhadap Iran.
“Kami pada akhirnya akan keluar (dari Iran), kecuali kami memutuskan untuk tetap bertahan dan mengambil minyak seperti Venezuela,” ujarnya.
Pernyataan itu mengisyaratkan kemungkinan model keterlibatan yang lebih panjang di Iran, terutama jika Washington melihat adanya keuntungan ekonomi dari penguasaan atau akses terhadap sumber daya minyak.
Namun, Trump tidak memberikan rincian mengenai bagaimana opsi tersebut akan dijalankan ataupun seperti apa bentuk penguasaan minyak yang dimaksud.
Selain itu, di tengah pernyataan mengenai minyak tersebut, Trump tetap mengatakan perang Iran diperkirakan berakhir tahun ini.
Ia bahkan memperkirakan konflik dapat berakhir setelah pemilu paruh waktu AS yang dijadwalkan berlangsung pada November.
Trump juga mengklaim Iran terus menghubungi Washington untuk membahas perdamaian. Menurutnya, Teheran 'calling constantly' atau terus-menerus menelepon untuk meminta pembicaraan damai.
Namun, Iran sebelumnya telah membantah klaim tersebut.
Trump mengatakan Washington hanya akan menerima kesepakatan yang dianggap menguntungkan bagi AS.
Baca Juga: Wamenkomdigi Nezar Ungkap Bahaya Algoritma Media Sosial, Bisa Bikin Terjebak Echo Chamber
“Kami hanya akan membuat kesepakatan yang tepat. Kami tidak akan membuat kesepakatan yang tidak bagus,” kata Trump.
Pernyataan Trump muncul ketika konflik Iran telah memberikan tekanan besar terhadap pasar energi global.
Serangan terbaru terhadap infrastruktur Arab Saudi dan pelayaran di kawasan Teluk kembali meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan pasokan minyak dari Timur Tengah.
Harga minyak kemudian naik sekitar 3 persen pada Senin.
Bagi konsumen, perkembangan ini penting karena perubahan harga minyak dunia dapat berdampak pada harga bahan bakar, biaya transportasi, hingga tekanan inflasi.
Trump sendiri mengatakan harga bensin di Amerika Serikat akan turun drastis setelah perang berakhir.
“Harga bensin akan turun seperti batu,” kata Trump.