← Beranda
Film Naza Ungkap Sistem Serangan Israel di Gaza: Pakai AI, Warga Sipil Sudah Ditargetkan untuk Dibom
Rian Alfianto• Selasa, 15 September 2026 | 03.09 WIB
Ilustrasi: Gaza kembali dilanda serangan Israel (Al-Jazeera)
 

 

 

JawaPos.com - Sebuah film dokumenter baru berjudul NAZA mengungkap kesaksian tentara dan personel intelijen Israel mengenai sistem penentuan target di Gaza. Berdasarkan wawancara dengan 24 orang yang pernah terlibat dalam operasi tersebut, film ini menggambarkan bagaimana kecerdasan buatan (AI), pengawasan massal, dan batas jumlah korban sipil yang telah ditentukan disebut menjadi bagian dari proses persetujuan serangan.

Film karya sineas Israel Yuval Abraham dan Rachel Szor itu menyoroti dugaan bahwa kematian warga sipil bukan selalu dipandang sebagai konsekuensi yang tidak terhindarkan dari perang, melainkan sesuatu yang dalam sejumlah operasi telah diperhitungkan sejak sebelum serangan dilancarkan.

Kesaksian tersebut menjadi inti NAZA, yang mengambil namanya dari istilah militer Israel untuk menyebut jumlah warga sipil yang diperkirakan akan tewas dalam sebuah serangan.

Dengan demikian, pertanyaan utama yang diajukan film ini bukan sekadar berapa banyak warga sipil yang tewas di Gaza, tetapi bagaimana keputusan untuk menyerang sebuah target dibuat ketika kematian warga sipil sudah diketahui sebelumnya.

Korban Sipil Disebut Masuk dalam Perhitungan Serangan

Mengutip Middle East Eye, menurut para tentara dan pejabat intelijen yang diwawancarai, sistem penargetan Israel memungkinkan serangan terhadap bangunan tempat tinggal disetujui meski personel militer telah mengetahui bahwa warga sipil kemungkinan besar akan ikut terbunuh.

Dalam sejumlah kasus yang digambarkan dalam film, target yang hendak diserang bahkan disebut tidak memiliki signifikansi militer yang besar.

“You understand that the objective is to destroy,” kata seorang perwira ketika mengenang bagaimana proses tersebut berlangsung.

Kesaksian itu memperlihatkan sebuah mekanisme operasional yang, menurut para narasumber film, tidak semata-mata berfokus pada identifikasi target militer. Sistem tersebut juga mempertimbangkan berapa banyak warga sipil yang diperkirakan akan tewas apabila serangan dilaksanakan.

Persetujuan semacam itu disebut sebagai 'NAZA approvals'.

Artinya, komandan dapat mengetahui terlebih dahulu bahwa sebuah serangan berpotensi menewaskan warga sipil, tetapi serangan tetap dapat dilanjutkan selama jumlah korban yang diperkirakan masih berada dalam ambang yang diizinkan.

Apa Itu NAZA?

Istilah NAZA dalam konteks militer Israel merujuk pada jumlah korban sipil yang diperkirakan akan muncul akibat sebuah serangan.

Konsep tersebut menjadi elemen penting dalam film karena menunjukkan bagaimana risiko terhadap warga sipil disebut diterjemahkan menjadi angka dalam proses pengambilan keputusan militer.

Para pembuat film berpendapat bahwa kesaksian tersebut menantang klaim Israel bahwa kematian warga sipil semata-mata merupakan konsekuensi yang tidak dapat dihindari dalam perang melawan Hamas.

Sebaliknya, NAZA menggambarkan kematian warga Palestina sebagai sesuatu yang, menurut para narasumbernya, dapat diperkirakan melalui prosedur penargetan, kebijakan operasional, serta batas korban sipil yang telah ditetapkan.

NAZA dibuat berdasarkan wawancara selama tiga tahun dengan 24 tentara dan personel intelijen Israel yang disebut memiliki pengalaman langsung dalam operasi penargetan di Gaza.

Untuk melindungi identitas mereka, Abraham dan Szor merekam wawancara pada malam hari di Tel Aviv. Wajah dan suara para narasumber disamarkan agar identitas mereka tidak terungkap.

Keduanya sebelumnya dikenal sebagai bagian dari tim pembuat film No Other Land, yang meraih Oscar. Dalam NAZA, mereka kembali mengangkat kesaksian dari warga Israel untuk membedah praktik militer negaranya sendiri.

Jonathan Glazer, sutradara The Zone of Interest, tercatat sebagai salah satu produser eksekutif film tersebut.

NAZA melakukan pemutaran perdana dalam kompetisi Festival Film Internasional Venesia pada 10 September 2026. Pemutaran tersebut dilaporkan mendapat tepuk tangan berdiri selama hampir 25 menit.

Jejak AI dalam Penentuan Target di Gaza

Film ini juga melanjutkan rangkaian investigasi sebelumnya yang diterbitkan +972 Magazine, Local Call, dan The Guardian mengenai penggunaan AI dan sistem pengawasan otomatis oleh militer Israel di Gaza.

Salah satu sistem yang menjadi sorotan adalah Lavender. Dalam laporan sebelumnya, sumber-sumber intelijen Israel menyebut sistem tersebut menghasilkan daftar sekitar 37.000 warga Palestina yang dicurigai sebagai anggota Hamas berpangkat rendah.

Menurut kesaksian yang dikutip dalam investigasi tersebut, rekomendasi Lavender digunakan secara luas oleh sejumlah personel militer. Dalam beberapa kasus, pemeriksaan manusia terhadap rekomendasi sistem itu disebut hanya dilakukan secara minimal sebelum serangan disetujui.

Ada pula sistem yang dikenal sebagai 'Where’s Daddy?'. Sistem ini disebut digunakan untuk melacak orang yang telah ditetapkan sebagai target dan memberikan pemberitahuan ketika mereka memasuki rumah keluarganya.

Menurut kesaksian yang dimuat dalam investigasi +972 Magazine dan Local Call, anggota Hamas yang dianggap berpangkat rendah kerap menjadi sasaran ketika berada di rumah, termasuk pada malam hari ketika anggota keluarga mereka kemungkinan besar berada di tempat yang sama.

Jika kesaksian tersebut akurat, penggunaan sistem semacam itu memperlihatkan bagaimana teknologi pengawasan tidak hanya digunakan untuk menemukan target, tetapi juga menentukan kapan sebuah serangan dapat dilakukan dengan peluang lebih besar untuk mengenai target yang telah ditetapkan.

Gambaran mengenai cara pandang terhadap warga sipil Gaza yang muncul dalam NAZA juga dikaitkan dengan pernyataan sejumlah pejabat Israel setelah serangan 7 Oktober 2023.

Beberapa hari setelah serangan tersebut, Presiden Israel Isaac Herzog mengatakan bahwa 'seluruh bangsa' di Gaza bertanggung jawab atas serangan yang dipimpin Hamas.

Herzog juga menolak anggapan bahwa warga sipil Gaza tidak mengetahui atau tidak terlibat dalam serangan tersebut dengan mengatakan bahwa pandangan seperti itu 'sama sekali tidak benar'.

Baca Juga: Biadab! Pasukan Israel Tembak Ibu Hamil di Gaza Hingga Tewas

Pernyataan tersebut kemudian dikutip Afrika Selatan dalam perkara genosida yang diajukan terhadap Israel di Mahkamah Internasional (ICJ).

Dokumenter ini hadir ketika jumlah korban Palestina akibat serangan Israel di Gaza telah melampaui 73.000 orang. Sejumlah badan PBB, organisasi hak asasi manusia terkemuka, serta pakar genosida telah menyatakan bahwa tindakan Israel di Gaza memenuhi unsur genosida, meski Israel membantah tuduhan tersebut.

 
EDITOR: Kuswandi