JawaPos.com - Dominasi kekayaan global bergeser semakin kuat ke Amerika Serikat setelah Bernard Arnault, pendiri sekaligus chairman LVMH, terlempar dari jajaran 10 orang terkaya di dunia. Kejatuhan itu menandai perubahan mencolok dibanding beberapa tahun lalu, ketika taipan barang mewah asal Prancis tersebut menjadi satu-satunya pengusaha non-Amerika yang mampu menembus posisi teratas.
Kekayaan Arnault turun menjadi USD 143 miliar atau sekitar Rp2.515 triliun, dengan kurs Rp17.590 per dolar AS, pada Kamis (10/9/2026), angka itu membuatnya berada di bawah Warren Buffett, investor berusia 96 tahun yang memimpin Berkshire Hathaway. Posisi Arnault kini hanya sedikit di atas Jim Walton, pewaris generasi kedua Walmart.
Dilansir dari Bloomberg, Jumat (11/9/2026), penurunan itu membuat seluruh 10 posisi teratas Bloomberg Billionaires Index untuk pertama kalinya sejak indeks tersebut diluncurkan pada 2012 ditempati warga Amerika Serikat. Elon Musk berada jauh di posisi pertama dengan kekayaan USD 918,8 miliar atau sekitar Rp16.166 triliun, disusul Larry Page, Jeff Bezos, Sergey Brin, dan Michael Dell.
Baca Juga: Bernard Arnault Kalah Sengketa Pajak, Prancis Tagih Rp 461 Miliar dari Bos LVMH
Perubahan tersebut memperlihatkan betapa kuatnya kenaikan nilai perusahaan teknologi AS dalam beberapa tahun terakhir. Indeks S&P 500 telah naik 11 persen sepanjang tahun ini, terutama didorong saham perusahaan teknologi yang mendapat keuntungan dari permintaan terkait kecerdasan buatan. Pada saat yang sama, kekayaan Arnault justru menyusut USD 65 miliar atau sekitar Rp1.143 triliun sejak awal tahun, penurunan terbesar di antara 500 orang terkaya dalam indeks Bloomberg.
Tekanan terhadap Arnault tidak hanya berasal dari pasar saham. Perang di Timur Tengah menekan bisnis LVMH dengan mengurangi permintaan di pusat-pusat belanja seperti Dubai. Dampaknya menjalar ke berbagai merek dalam portofolionya, mulai dari Dior, Louis Vuitton dan Tiffany hingga produk minuman premium seperti sampanye Dom Pérignon dan cognac Hennessy.
LVMH juga menghadapi hambatan di Tiongkok, salah satu pasar penting bagi industri barang mewah. Sengketa merek dagang dengan produsen teh lokal ikut mengganggu penjualan. Kondisi itu memperburuk perlambatan yang sebelumnya sudah menekan permintaan produk mewah di negara tersebut, sekaligus membuat pemulihan LVMH tidak secepat periode setelah pembatasan pandemi berakhir.
Posisi Arnault sebenarnya sempat menunjukkan betapa besarnya pengaruh industri mewah terhadap peta kekayaan dunia. Dia masuk 10 besar sejak 22 Maret 2017 dan bahkan sempat naik ke posisi pertama secara singkat mulai Desember 2022. Dia merupakan orang pertama dari luar Amerika Utara yang mencapai puncak tersebut sekaligus satu-satunya taipan industri konsumen yang pernah melakukannya.
Masa keemasan itu berlangsung ketika konsumen Tiongkok masih menjadi penggerak utama penjualan barang mewah. Saham LVMH mencapai rekor pada April 2023, tetapi kemudian menghadapi permintaan yang melemah di Tiongkok, ketidakpastian akibat tarif AS dan penurunan konsumsi alkohol di sejumlah pasar. Perubahan kondisi tersebut ikut memangkas nilai kekayaan pribadi Arnault secara tajam.
Di sisi lain, masa depan LVMH juga menghadapi persoalan suksesi. Kelima anak Arnault dari dua pernikahannya kini bekerja di perusahaan keluarga itu. Untuk pertama kalinya, seluruhnya berbicara dalam rapat pemegang saham April lalu.
Ketika ditanya mengenai penggantinya sebagai CEO, Arnault justru menyarankan agar persoalan itu dibahas kembali "dalam tujuh atau delapan tahun kedepan."
Bagi investor, persoalan tersebut berkaitan dengan keberlanjutan kepemimpinan LVMH setelah Arnault. Christopher Rossbach, chief investment officer di J Stern & Co., salah satu pemegang saham LVMH, mengatakan kepada Financial Times, "Kepemilikan saham dan suksesi merupakan dua persoalan terpenting bagi LVMH."
Hal itu menambah perhatian terhadap masa depan perusahaan ketika bisnis LVMH sendiri tengah menghadapi tekanan di sejumlah pasar utama dan kekayaan Arnault terus menyusut.
Baca Juga: Bernard Arnault dan Kontroversi Dominasi Media Bisnis Prancis di Tengah Gelombang Konsolidasi Global
Kini, keluarnya Arnault dari 10 besar tidak hanya mencerminkan penurunan satu taipan. Perubahan itu memperlihatkan bagaimana sumber penciptaan kekayaan terbesar dunia semakin terkonsentrasi pada perusahaan teknologi Amerika, ketika sektor tradisional seperti barang mewah menghadapi perubahan konsumsi, ketegangan geopolitik dan pelemahan pasar utama.