JawaPos.com – Dukungan Tiongkok terhadap Iran dinilai memiliki batas meskipun tekanan Amerika Serikat terhadap Teheran semakin meningkat.
Dilansir dari laman Al-Jazeera pada Kamis (3/9), Sejumlah analis menilai Beijing kemungkinan hanya akan mendorong penyelesaian diplomatik dan menjaga hubungan ekonomi tanpa terlibat dalam konfrontasi langsung dengan Washington demi membela Iran.
Sikap tersebut dipengaruhi kepentingan Tiongkok yang lebih luas, termasuk hubungan perdagangan dengan Amerika Serikat serta negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Baca Juga: Banyak Kasus Keracunan, BGN Tetap Kejar Target 72,46 Juta Penerima Manfaat MBG pada 2027
Tiongkok tetap menjadi mitra ekonomi penting bagi Iran, terutama melalui pembelian minyak yang menjadi salah satu sumber pendapatan utama Teheran di tengah sanksi internasional.
Namun, ketergantungan hubungan tersebut dinilai tidak seimbang karena Iran jauh lebih membutuhkan Tiongkok dibandingkan Beijing membutuhkan Teheran, mengingat minyak Iran hanya menyumbang sekitar 2 persen dari total kebutuhan energi Tiongkok.
Beijing juga disebut berhati-hati terhadap risiko sanksi sekunder Amerika Serikat, sehingga perusahaan dan bank besar Tiongkok cenderung membatasi keterlibatan langsung dalam perdagangan dengan Iran.
Hubungan kedua negara juga menunjukkan kesenjangan antara komitmen politik dan realisasi ekonomi, termasuk janji investasi hingga USD 400 miliar atau sekitar Rp6.700 triliun selama 25 tahun yang belum sepenuhnya terwujud.
Para pengamat menilai Tiongkok memandang Iran sebagai mitra strategis yang berguna bagi kepentingan geopolitik dan energi, tetapi bukan sekutu yang harus dibela dengan mengorbankan kepentingan Beijing di kawasan lain.
Dengan meningkatnya tekanan Washington terhadap Teheran, Tiongkok diperkirakan tetap mempertahankan hubungan dagang dengan Iran sambil menghindari langkah yang dapat memicu benturan langsung dengan Amerika Serikat.