JawaPos.com - Setelah 286 hari di laut, sekitar 5.000 awak kapal induk USS Abraham Lincoln akhirnya menginjak daratan di Pattaya, Thailand. Kota yang dikenal sebagai pusat hiburan malam dan pusatnya wisata seks di Asia Tenggara itu menjadi tempat persinggahan sekaligus pelepas penat bagi para pelaut Amerika setelah menjalani penugasan panjang yang membawa mereka dari California hingga kawasan konflik di Timur Tengah.
Bagi para awak kapal, kembali ke daratan setelah hampir 10 bulan bukan pengalaman biasa. Tubuh mereka bahkan perlu beradaptasi lagi dengan permukaan tanah yang tidak terus bergoyang seperti di atas kapal.
"Ini mimpi demam," kata seorang pelaut setelah turun ke daratan
Patrick, pelaut berusia 24 tahun asal Rhode Island, bahkan hanya memiliki satu kata untuk menggambarkan pengalaman tersebut.
Baca Juga: Siap-siap Harga Tiket Pesawat Naik, Biaya Tambahan Avtur Resmi Ditingkatkan Jadi 40 Persen
"Weird," kata Patrick dikutip via The Telegraph.
USS Abraham Lincoln sendiri tiba di Pattaya pada Rabu setelah menyelesaikan penugasan yang jauh lebih panjang dari rencana awal.
Kapal induk bertenaga nuklir itu meninggalkan California pada November 2025 untuk menjalani misi sekitar enam bulan di Laut China Selatan. Namun, situasi geopolitik membuat rencana tersebut berubah.
Kapal kemudian dialihkan menuju kawasan Teluk menjelang serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Perpanjangan penugasan membuat para awak harus menghabiskan berbulan-bulan lebih lama di kapal.
Begitu turun ke daratan, hal-hal yang bagi kebanyakan orang sederhana justru terasa istimewa bagi para pelaut.
Sejumlah awak mengaku sangat ingin tidur di ranjang double setelah lama hidup di ruang kapal yang sempit.
Patrick mengatakan tubuhnya membutuhkan waktu untuk kembali terbiasa dengan tanah.
"Di kapal kau selalu bergerak, bergoyang bolak-balik," kata Patrick kepada The Telegraph setelah turun dari kapal.
Pengalaman tersebut menggambarkan betapa panjangnya kehidupan di kapal perang. Selama berbulan-bulan, para awak bekerja, tidur dan beristirahat dalam lingkungan yang terus bergerak, dengan ruang pribadi yang terbatas.
Baca Juga: Ancaman Siber Meningkat, DPR Diminta Segera Sahkan RUU KKS untuk Beri Kepastian Hukum
Pattaya menjadi tujuan yang menarik perhatian karena reputasinya sebagai kota wisata dengan kehidupan malam yang semarak.
Setelah berbulan-bulan berada di tengah laut, ribuan pelaut kini memiliki kesempatan menikmati waktu istirahat di daratan. Namun, kedatangan mereka juga membuat aparat Thailand meningkatkan pengawasan terhadap kawasan hiburan malam.
Polisi Pattaya melakukan penertiban terhadap pekerja seks menjelang kedatangan ribuan awak USS Abraham Lincoln. Angkatan Laut AS juga dilaporkan melarang para pelaut memasuki sejumlah kawasan lampu merah, termasuk Soi 6.
Situasi itu menunjukkan besarnya dampak kedatangan kapal induk tersebut terhadap Pattaya. Ribuan personel yang turun hampir bersamaan bukan hanya menjadi perhatian militer dan media, tetapi juga menjadi magnet bagi sektor pariwisata dan bisnis lokal.
Meski demikian, di balik suasana liburan, perjalanan panjang USS Abraham Lincoln tidak sepenuhnya berjalan mulus.
Awak kapal dan keluarga mereka sebelumnya menyampaikan keluhan mengenai jadwal kerja yang intens, kondisi ruang tinggal yang sempit serta kekurangan makanan dan sejumlah kebutuhan penting.
Kekhawatiran terhadap moral dan kesehatan mental awak juga meningkat. Bulan lalu, seorang pelaut dilaporkan melompat ke laut dalam dugaan percobaan bunuh diri.
Komandan USS Abraham Lincoln, Capt Dan Keeler, menyebut para awak akhirnya mendapatkan kesempatan untuk beristirahat setelah penugasan yang sangat panjang.
"Para kru akhirnya berhenti sejenak untuk 'istirahat yang layak'," ujar Keeler kepada wartawan di Pattaya.
Di tengah kerumunan media yang menunggu kedatangan mereka, sejumlah pelaut terlihat menunjukkan kegembiraan. Ada yang memamerkan otot ketika berjalan meninggalkan lokasi, sementara pelaut lainnya justru mengarahkan kamera ponselnya ke arah wartawan.
Baca Juga: Ekonom Taksir Pertamax Harusnya Dijual Rp 16.800, Pertimbangkan Harga Minyak dan Nilai Tukar Rupiah
Keeler mengakui kondisi kapal terlihat cukup lusuh setelah berbulan-bulan berada di laut.
Ia bahkan menggambarkannya sebagai kapal yang seperti mobil kotor yang ada di parkiran.
Namun, menurut Keeler, kondisi tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan kehidupan para awak di atas kapal.
Ia menyebut terdapat 'keterputusan antara pelaporan kembali ke rumah dan apa yang terjadi di kapal'.
"Pertama kali pelaut akan mengeluh tentang makanan, tentang kondisi kehidupan, mirip dengan mengirim anak-anak ke perguruan tinggi untuk pertama kalinya," katanya.
Selain itu, bagi keluarga awak kapal, kedatangan USS Abraham Lincoln di Pattaya menjadi akhir dari penantian panjang. Ada yang sampai rela terbang ke Thailand untuk menemui keluarga mereka.