JawaPos.com - Kedatangan sekitar 5.000 pelaut dan Marinir Amerika Serikat dari USS Abraham Lincoln ke Pattaya, Thailand, bertepatan dengan penertiban besar-besaran terhadap praktik prostitusi di kota yang dikenal sebagai salah satu pusat industri seks Asia Tenggara itu.
Sedikitnya 40 hingga 50 orang ditahan dalam serangkaian razia menjelang kapal induk AS itu bersandar.
Penertiban tersebut dilakukan aparat Thailand pada akhir pekan lalu, sebelum USS Abraham Lincoln tiba di pelabuhan Thailand timur pada Rabu (2/9). Pattaya sendiri menjadi sorotan karena kawasan wisata ini memiliki industri seks yang sangat luas, meski prostitusi secara hukum dilarang di Thailand.
Situasi itu memunculkan kekhawatiran dari kelompok antiperdagangan manusia. Mereka menilai kedatangan ribuan personel militer AS setelah hampir 10 bulan menjalani penugasan terus-menerus di laut membuat persoalan prostitusi dan eksploitasi perempuan di Pattaya menjadi perhatian serius.
Razia Prostitusi Digelar Sebelum Ribuan Tentara AS Datang
Polisi dan pejabat lokal Pattaya melakukan inspeksi pada malam hari di kawasan pantai serta sejumlah lokasi yang dikenal ramai dikunjungi wisatawan pada 29 Agustus.
Dalam operasi tersebut, sekitar 40 hingga 50 orang ditahan, menurut laporan Reuters dan sejumlah media lokal Thailand.
Pattaya memang lama memiliki reputasi sebagai destinasi wisata malam dengan bar, klub dan kawasan prostitusi yang terbuka. Namun, aktivitas prostitusi tetap ilegal berdasarkan hukum Thailand dan penegakannya selama ini menjadi persoalan tersendiri.
Kepala Kepolisian Pattaya Anek Srathongyoo mengakui tantangan tersebut.
"Kami melakukan yang terbaik, tetapi itu sulit," kata Anek, seperti dikutip Reuters.
Pernyataan tersebut menggambarkan persoalan yang dihadapi aparat: industri seks Pattaya sudah berkembang luas dan tidak seluruh aktivitasnya mudah dideteksi maupun ditindak.
Kelompok Antiperdagangan Manusia Khawatir
Di tengah kedatangan USS Abraham Lincoln, perhatian tidak hanya tertuju pada kapal induk bertenaga nuklir tersebut. Kelompok antiperdagangan manusia Free Rain International juga menyoroti risiko yang dapat muncul bagi perempuan yang rentan dieksploitasi dalam industri seks Pattaya.
Dianna Bautista, salah satu pendiri organisasi tersebut, mengatakan kedatangan ribuan personel AS membuat kelompoknya sangat khawatir terhadap keselamatan perempuan yang terjebak dalam industri seks.
Organisasinya bahkan memberikan rekomendasi kepada personel militer AS mengenai restoran, lokasi budaya, gereja dan berbagai tempat lain yang dapat dikunjungi sebagai alternatif dari kawasan hiburan malam dan distrik lampu merah Pattaya.
Bautista juga mempertanyakan keputusan memilih Pattaya sebagai lokasi persinggahan kapal. Dia menyebut kalau pihaknya telah mengantisipasi kehadiran USS Abraham Lincoln yang membawa 5.000 tentara ke ibu kota seks dunia setelah dikurung di kapal selama 10 bulan itu.
"Dengan ribuan tempat yang bisa ditambatkan oleh kapal ini, mereka telah memilih untuk membawa pasukan ini ke sini." Ini terasa sangat diperhitungkan dan disengaja," kaya Dianna.
Pernyataan tersebut menyoroti kondisi yang dianggap tidak biasa. Ribuan personel USS Abraham Lincoln tiba di kota dengan industri seks yang sangat menonjol setelah hampir 10 bulan berada di laut.
Personel USS Abraham Lincoln Dibatasi di Pattaya
Untuk mengantisipasi persoalan selama kunjungan, pemerintah daerah Pattaya dan perwakilan Angkatan Laut AS melakukan koordinasi mengenai aktivitas personel kapal selama berada di darat.
Sejumlah pembatasan diberlakukan. Personel AS disebut dilarang mengunjungi toko ganja dan apotek tertentu serta mengikuti aktivitas berbasis air.
Mereka juga dilarang memasuki sejumlah ruas jalan di Pattaya, termasuk kawasan distrik lampu merah.
Namun, Walking Street yang terkenal dengan bar dan klub malam tetap dapat dikunjungi. Personel militer AS yang berada di kawasan tersebut diwajibkan meninggalkan lokasi sebelum pukul 02.00.
Pembatasan itu menjadi penting karena Thailand telah mengatur penggunaan ganja secara ketat. Konsumsi ganja untuk tujuan medis membutuhkan resep dari tenaga medis berlisensi, sementara penggunaan rekreasional atau pembelian tanpa dokumen yang diperlukan dilarang.
Pelanggaran terkait kepemilikan dan penggunaan ganja dapat berujung pada hukuman penjara hingga satu tahun serta denda.
Pelaut AS Disebut Terkejut Melihat Luasnya Industri Seks
Kekhawatiran kelompok antiperdagangan manusia tidak hanya berasal dari potensi meningkatnya permintaan terhadap layanan prostitusi selama kunjungan kapal.
Bautista mengatakan sejumlah personel AS yang telah berbicara dengan organisasinya sebenarnya sudah mengetahui reputasi Pattaya. Namun, mereka disebut belum memahami seberapa besar persoalan industri seks yang ada di kota tersebut.
"Mereka tahu tentang reputasi Pattaya, tetapi tidak menyadari luasnya masalah ini," lanjut Dianna.
Menurutnya, persoalan tersebut menjadi semakin sensitif karena sebagian perempuan dalam industri seks dapat berada dalam situasi eksploitasi dan perdagangan manusia.
Free Rain International pun memilih pendekatan pencegahan dengan mengarahkan para personel militer kepada berbagai kegiatan dan lokasi alternatif selama berada di Pattaya.
Pattaya Berharap Kunjungan Kapal AS Pulihkan Ekonomi
Di sisi lain, pemerintah lokal Pattaya menyambut kedatangan USS Abraham Lincoln karena kunjungan tersebut dipandang dapat memberikan dorongan bagi ekonomi pariwisata.
Pandemi Covid-19 sebelumnya memberikan pukulan besar terhadap sektor pariwisata kota tersebut. Kehadiran ribuan personel AS berpotensi meningkatkan aktivitas bisnis, mulai dari restoran hingga berbagai usaha pariwisata.
Namun, manfaat ekonomi itu datang bersamaan dengan tantangan sosial yang lebih kompleks.
Pattaya harus menjaga keseimbangan antara menyambut wisatawan dan personel militer AS dengan mencegah eksploitasi manusia serta aktivitas prostitusi ilegal yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari reputasi kota tersebut.
Kedatangan USS Abraham Lincoln pada akhirnya bukan sekadar kunjungan kapal perang. Bersama ribuan personelnya, persinggahan itu kembali membuka sorotan terhadap wajah lain Pattaya: kota wisata yang hidup dari pariwisata, tetapi juga masih bergulat dengan luasnya industri seks dan risiko perdagangan manusia.