JawaPos.com - USS Abraham Lincoln tiba di Thailand pada Rabu (2/9) dengan penampilan yang jauh dari kesan kapal induk modern milik Angkatan Laut Amerika Serikat (AS). Lambungnya terlihat dipenuhi jejak karat, sementara lapisan cat di sepanjang garis air tampak kusam, belang, dan menurun kondisinya setelah kapal menjalani 286 hari di laut.
Pemandangan USS Abraham Lincoln di Pelabuhan Laem Chabang, Provinsi Chonburi, Thailand itu memperlihatkan jelas bekas panjangnya masa penugasan kapal induk bertenaga nuklir tersebut.
Dari kejauhan, ukuran raksasa dan dek penerbangannya tetap membuat Lincoln tampak mengesankan. Berbagai pesawat dan helikopter masih memenuhi dek, termasuk jet tempur F-35.
Baca Juga: Defisit APBN Baru 0,9 Persen, Menkeu Purbaya Pastikan Ruang Fiskal Tetap Aman
Namun ketika perhatian beralih ke bagian lambung, kesan tersebut berubah.
Permukaan logam di sejumlah bagian tampak berkarat, sementara cat di dekat garis air terlihat tidak lagi seragam. Warna permukaan kapal tampak belang dan berbintik, dengan bagian-bagian tertentu memperlihatkan jejak keausan yang kontras dengan citra kapal perang AS yang biasanya tampil bersih dan terawat.
Karat terlihat terutama sebagai perubahan warna pada permukaan logam, sementara lapisan cat di sekitar garis air tampak mengalami perubahan warna dan kehilangan tampilan mulusnya. Bekas paparan air laut selama berbulan-bulan terlihat jelas pada bagian luar kapal.
Penampilan tersebut menjadi gambaran kasatmata dari panjangnya perjalanan Lincoln di laut.
Diketahui, USS Abraham Lincoln mencatat 286 hari di laut tanpa kunjungan pelabuhan penuh, sebuah durasi yang diyakini menjadi rekor modern bagi kapal induk AS.
Kapal tersebut dikerahkan sejak November dan menjalankan operasi di kawasan Timur Tengah, termasuk menjadi bagian penting dari blokade Amerika Serikat di sekitar Selat Hormuz.
Penugasan tersebut jauh lebih panjang dibandingkan pengerahan normal kapal Angkatan Laut AS yang umumnya berlangsung sekitar enam hingga sembilan bulan. Kondisi konflik memungkinkan masa penugasan diperpanjang, tetapi konsekuensinya juga terlihat pada tingkat keausan kapal.
Karat dan cat yang memburuk pada lambung tidak otomatis berarti kapal mengalami kerusakan struktural atau tidak layak beroperasi.
Namun, secara visual, kondisi itu menunjukkan betapa lama kapal tersebut terpapar lingkungan laut dan menjalani operasi sebelum akhirnya mendapat kesempatan untuk bersandar.
Kontras paling jelas terlihat antara bagian atas dan bawah kapal. Di atas dek penerbangan, Lincoln tetap membawa kekuatan tempurnya. Helikopter dan pesawat tempur, termasuk F-35, masih berjajar di atas kapal induk raksasa tersebut.
Sementara itu, pada bagian lambung, permukaan yang terlihat dari luar memperlihatkan tanda-tanda keausan.
Kapal perusak berpeluru kendali USS Frank E Petersen Jr yang datang bersama Lincoln juga terlihat memiliki bagian lambung dengan jejak karat dan cat yang mengalami perubahan tampilan. Kapal penjelajah berpeluru kendali USS Robert Smalls turut tiba di Thailand dan bersandar di Map Tha Phut.
Ketiganya datang setelah menjalani masa operasi panjang di kawasan tersebut.
Datang Bersama Masalah Awak
Kondisi fisik Lincoln menjadi semakin menarik perhatian karena muncul bersamaan dengan berbagai laporan mengenai situasi yang dialami awak selama penugasan.
Keluarga sejumlah pelaut mengatakan kepada Task & Purpose bahwa personel di kapal sempat melaporkan persoalan kekurangan makanan.
Seorang juru bicara Angkatan Laut AS mengatakan tidak ada makanan yang terlewatkan dan persoalan tersebut tampaknya telah berubah setelah pemberitaan internasional mengenai masalah itu.
Laporan lain menyebut kekurangan kebutuhan kebersihan dasar, gangguan sistem surat, jamur di kamar mandi, toilet rusak hingga kurangnya air panas.
Tekanan terhadap awak juga memicu kekhawatiran lebih serius.
Menurut Military Times, sedikitnya satu pelaut melompat dari USS Abraham Lincoln, sementara dua lainnya berhasil dicegah sebelum melakukan hal serupa.
Pada awal Agustus, Vice Admiral Joseph Cahill, komandan Naval Surface Forces, menggelar pertemuan virtual dengan keluarga para personel.
"Kami mendengar Anda dengan keras dan jelas [mengenai] dampak yang ditimbulkannya terhadap keluarga, anggota layanan, dan kemampuan jangka panjang kami untuk berdiri, mempertahankan kesehatan pasukan kami," kata Cahill, menurut MS NOW.
Setelah 286 hari berada di laut, Thailand menjadi tempat bagi para pelaut dan marinir Lincoln untuk beristirahat sebelum kapal melanjutkan perjalanan menuju San Diego.
Rear Admiral Robert E. Loughran, komandan Carrier Strike Group 3, mengatakan kedatangan kapal di Laem Chabang memberikan kesempatan yang layak bagi personel untuk memulihkan diri.
"Kedatangan kami di Laem Chabang memberikan kesempatan yang layak bagi para pelaut dan marinir kami untuk beristirahat dan mengisi ulang," kata Loughran.
"Ini juga menggarisbawahi kemitraan dan aliansi yang kuat dan abadi antara Amerika Serikat dan Thailand."
Bus dan truk pikap kemudian berjajar di kawasan pelabuhan untuk mengangkut para pelaut dan marinir menuju kota. Banyak personel terlihat mengenakan pakaian sipil setelah turun dari kapal.
USS Abraham Lincoln dijadwalkan berada di Thailand selama lima hari sebelum memulai perjalanan pulang ke San Diego.