JawaPos.com - Serangan Amerika Serikat ke Iran kembali memicu aksi balasan yang meluas. Iran dilaporkan meluncurkan rudal dan drone ke target-target AS di Yordania, Kuwait, Irak, dan Bahrain, menandai meningkatnya risiko konflik terbuka di kawasan Teluk dan sekitarnya.
Serangan tersebut terjadi setelah militer AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Selasa. Komando Pusat AS (Centcom) menyebut operasi itu diarahkan ke target milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), setelah sebelumnya Iran disebut melakukan serangan terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz dan pasukan AS di kawasan tersebut.
Iran kemudian membalas. Korban dan kerusakan dilaporkan terjadi di sejumlah lokasi, sementara sistem pertahanan udara negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan atau kepentingan AS mulai dikerahkan untuk menghadapi serangan rudal dan drone.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Aquarius Besok Kamis, 3 September 2026: Bersabar dan Jangan Terburu-buru
Rudal Iran Dicegat di Yordania
Salah satu serangan paling menonjol terjadi di Aqaba, Yordania. Iran meluncurkan rentetan rudal balistik yang menyasar pangkalan Marinir AS sebagai bagian dari aksi pembalasan.
Media semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan serangan tersebut dilakukan sebagai respons terhadap serangan AS di Sirik, Iran selatan.
Angkatan Bersenjata Yordania menyatakan telah mencegat 13 rudal balistik. Sebanyak 10 rudal berhasil dihancurkan, sedangkan tiga lainnya jatuh di wilayah terpencil.
Tidak ada korban tewas maupun luka yang dilaporkan akibat serangan tersebut.
Baca Juga: Julián Álvarez Dilaporkan Menolak Manchester City dan Pilih Bertahan di Spanyol
Perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik AS-Iran tidak lagi terbatas pada wilayah Iran. Keberadaan pangkalan dan aset militer Amerika di negara-negara kawasan membuat sejumlah negara sekutu Washington ikut berada dalam posisi rawan.
Kuwait dan Bahrain Ikut Menghadapi Serangan
Serangan Iran juga dilaporkan menyasar Kuwait. Militer Kuwait mengatakan sistem pertahanan udaranya dikerahkan untuk menghadapi serangan rudal Iran pada Rabu dini hari.
Di Bahrain, sejumlah ledakan juga dilaporkan terjadi. Media pemerintah Iran menyebut wilayah tersebut turut menjadi sasaran serangan.
Bahrain merupakan lokasi penting bagi kepentingan militer AS di kawasan karena menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS. Karena itu, setiap serangan terhadap fasilitas yang berkaitan dengan kehadiran militer Amerika berpotensi memperluas dampak konflik ke negara-negara Teluk.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Capricorn Besok Kamis, 3 September 2026: Ada Peluang Baru
Pangkalan AS di Irak Jadi Sasaran
Iran juga melaporkan serangan terhadap pangkalan-pangkalan AS di wilayah Kurdistan Irak.
Kantor berita Iran, Irna, menyebut IRGC menyerang sejumlah fasilitas AS dan mengklaim menghancurkan pusat pemeliharaan, gudang, serta peralatan.
Serangan ke Irak menambah tekanan terhadap pemerintah Baghdad yang selama ini berada di posisi sulit di tengah rivalitas Washington dan Teheran.
Jika serangan lintas wilayah terus berlanjut, negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan AS berpotensi semakin terseret ke dalam konflik meskipun tidak terlibat langsung dalam permusuhan AS-Iran.
Serangan AS di Iran Tewaskan Korban di Acara Pernikahan
Eskalasi terbaru dipicu setelah serangan AS di wilayah selatan Iran dilaporkan menimbulkan korban sipil.
Bulan Sabit Merah Iran menyatakan lima orang, termasuk seorang anak, tewas dan lebih dari 50 lainnya terluka setelah serpihan dari rudal AS menghantam sebuah rumah yang sedang digunakan untuk acara pernikahan di Sirik.
Sirik berada di pesisir selatan Iran, tidak jauh dari kawasan strategis Selat Hormuz.
Media pemerintah Iran dan Bulan Sabit Merah Iran juga melaporkan sejumlah fasilitas sipil di pesisir selatan menjadi sasaran pemboman. Ledakan dilaporkan terdengar di Pulau Qeshm dan Bandar Abbas, sementara proyektil disebut menghantam kawasan Chabahar, Konarak, serta sebuah bandara di Jiroft.
Baca Juga: Netflix Siapkan ‘Maderesa’, Nana Jadi Psikolog Kriminal Berdarah Dingin
Namun, Amerika Serikat membantah menargetkan warga sipil.
Kapten Angkatan Laut AS Tim Hawkins, yang berbicara mewakili Centcom, mengatakan pihaknya mengetahui laporan mengenai insiden di Sirik.
"Militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil, tidak seperti IRGC."
AS Sebut Serangan Dipicu Aksi IRGC
Centcom mengatakan operasi militer terbaru terhadap Iran dimulai sekitar pukul 12.00 waktu Amerika Serikat bagian Timur dan selesai pada Rabu dini hari.
Menurut Centcom, serangan tersebut merupakan respons terhadap apa yang disebut sebagai "recent attempted attacks" oleh IRGC terhadap kapal komersial di Selat Hormuz serta pasukan Amerika di kawasan.
AS sebelumnya juga kembali menyerang Iran setelah jeda sekitar satu bulan. Washington mengatakan pasukannya menghantam dua peluncur roket yang digunakan untuk menebarkan ranjau di Selat Hormuz.
Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal ke pangkalan udara di Yordania dan sebuah drone ke Uni Emirat Arab.