← Beranda
Donald Trump Mulai Frustrasi, Perang Iran yang Diprediksi Singkat Justru Jadi Beban Politik
Rian AlfiantoSelasa, 1 September 2026 | 23.30 WIB
Ilustrasi Presiden AS Donald Trump. (L.E. Baskow / Reuters)

JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut semakin frustrasi menghadapi perang Iran yang tak kunjung berakhir. Konflik yang semula diyakini bakal berlangsung singkat kini memasuki bulan keenam, sementara dukungan pemilih terhadap penanganan perang oleh Trump ikut merosot menjelang pemilu paruh waktu AS.

Suasana di Gedung Putih pun disebut jauh dari kondusif. Maggie Haberman, jurnalis The New York Times, mengatakan Trump berada dalam suasana hati yang frustrasi setelah perang berkembang jauh dari perkiraan awal.

"Ini bukan lingkungan yang bahagia, menurut pelaporan apa pun yang kami miliki," kata Haberman saat tampil di CNN dalam program Laura Coates Live.

Baca Juga: Kisruh TKIP-SDIP Pamulang, Dewan Pendidikan Tangsel Minta Wali Murid Jangan Diseret ke Dalam Konflik

"Presiden telah berada dalam suasana hati yang cukup frustrasi untuk sementara waktu tentang Iran, yang, sekali lagi, adalah buatannya sendiri," lanjutnya.

Haberman menilai Trump menghadapi persoalan yang sebagian justru muncul dari keputusan pemerintahannya sendiri. Salah satu tantangan terbesar adalah perang yang tidak selesai secepat yang diperkirakan.

Trump Salah Hitung Durasi Perang

Perang Iran dimulai pada Februari ketika Amerika Serikat melancarkan kampanye pengeboman. Namun, serangan tersebut tidak segera mengakhiri konflik.
Iran kemudian menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute penting bagi perdagangan minyak dunia.

Baca Juga: Siap Ketiban Rezeki? 4 Weton Ini Dipercaya Berpeluang Hidup Serba Berkecukupan

Enam bulan berlalu, akses melalui selat tersebut masih terbatas meski Trump mengklaim AS telah menguasai perairan itu.
Gangguan di Selat Hormuz turut mendorong kenaikan harga minyak global.

Di saat yang sama, AS dan Iran masih saling melancarkan serangan, sehingga persediaan amunisi Amerika ikut berada di bawah tekanan.

Situasi tersebut berbanding terbalik dengan ekspektasi awal Trump.

"Dia percaya, seperti yang dilaporkan Jonathan dan aku dalam Regime Change, bahwa ini akan menjadi perang cepat," ujar Haberman, merujuk pada laporan yang ditulisnya bersama Jonathan Swan.

"Ini akan berakhir dengan cepat, dan itu bukan cara kerjanya," katanya.

Menurut Haberman, persoalan Trump kini semakin bertambah karena persediaan amunisi yang terus berkurang serta munculnya berbagai kebocoran informasi dari pemerintahan.

Baca Juga: Siap Ketiban Rezeki? 4 Weton Ini Dipercaya Berpeluang Hidup Serba Berkecukupan

"Dan sekarang ada penipisan amunisi lebih lanjut, dan ada cerita tentang itu sepanjang waktu. Dan dia frustrasi tentang kebocoran dan seterusnya dan seterusnya. Ini hanya bukan lingkungan yang bahagia," tambah Haberman.

Perang Iran Mulai Menjadi Beban Politik Trump

Perpanjangan perang juga datang pada waktu yang tidak menguntungkan bagi Trump. Pemilu paruh waktu AS akan digelar 3 November dan berpotensi menjadi ujian besar bagi pemerintahannya.

Dalam midterm elections, seluruh kursi DPR dan sepertiga kursi Senat diperebutkan. Mayoritas tipis Partai Republik di Kongres membuat hasil pemilu tersebut sangat menentukan kemampuan Trump menjalankan agenda politiknya hingga akhir masa jabatan.

Baca Juga: Tak Disangka-Sangka, 5 Shio Ini Disebut Bakal Mendapat Rezeki dan Pekerjaan Impian

Masalahnya, persepsi pemilih terhadap kemampuan Trump menangani Iran disebut mengalami penurunan tajam.

Analis data utama CNN, Harry Enten, mengatakan jajak pendapat Juli menunjukkan hanya 29 persen pemilih yang sangat termotivasi untuk memberikan suara dalam pemilu paruh waktu menyetujui cara Trump menangani situasi Iran.

Padahal, menjelang pemilu presiden 2024, angkanya mencapai 53 persen di kalangan pemilih yang sangat termotivasi.

"Kita sedang berbicara tentang penurunan 24 poin hanya dalam dua tahun," kata Enten.

"Apa keuntungan bagi Presiden Trump memasuki pemilu 2024 di antara mereka yang benar-benar ingin keluar dan memilih telah berubah menjadi kerugian yang luar biasa kali ini," lanjutnya.

Artinya, isu Iran yang sebelumnya menjadi salah satu kekuatan Trump di mata pemilih kini berpotensi berubah menjadi kelemahan politik.

Trump Disebut Melampiaskan Kemarahan ke Staf

Baca Juga: Ramalan Asmara Zodiak Aries Selasa, 1 September 2026: Cinta Hangat dan Belajar dari Masa Lalu

Haberman juga menggambarkan kondisi internal Gedung Putih yang disebut semakin tegang. Dalam penampilannya di MSNOW, ia mengatakan hubungan Trump dengan para stafnya sedang tidak baik.

Trump, menurutnya, juga semakin sering melampiaskan kemarahan ketika berbagai persoalan tidak berjalan sesuai harapan.

"Dia sering menyerang, yang cenderung terjadi ketika segalanya tidak berjalan dengan baik," ujarnya.

Haberman bahkan menyebut banyak orang di lingkungan pemerintahan Trump mulai ingin meninggalkan posisi mereka.

"Kebanyakan orang telah memutuskan bahwa mereka ingin pergi melakukan sesuatu yang lain," katanya.

Pernyataan itu muncul menjelang kepergian Karoline Leavitt dari posisi sekretaris pers Gedung Putih, menambah sorotan terhadap stabilitas internal pemerintahan Trump.

Sementara itu, Gedung Putih membantah gambaran tersebut. Juru bicara Gedung Putih Davis Ingle justru menyerang Haberman ketika dimintai komentar oleh The Independent.

"Maggie Haberman dari Failing New York Times terus-menerus berbicara seperti dia seorang psikolog Trump padahal kenyataannya dia hanya memiliki obsesi menyeramkan dengan Presiden dan berpegang teguh padanya untuk relevansi. Sangat menyedihkan untuk menontonnya selama bertahun-tahun," kata Ingle.

Perang Iran kini menghadapkan Trump pada persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar konflik militer. Perang yang diperkirakan selesai cepat justru berlangsung berbulan-bulan, mengganggu jalur energi global, menguras persediaan amunisi AS, dan mulai menggerus kepercayaan sebagian pemilih.

Baca Juga: 10 Ciri Orang yang Tidak Suka Surprise Ulang Tahun, Lebih Nyaman dengan Hal Sederhana

Dengan midterm elections semakin dekat, tekanan terhadap Trump berpotensi meningkat jika pemerintahannya tidak segera menemukan jalan keluar dari konflik tersebut.

Bagi presiden AS itu, perang Iran yang awalnya diharapkan menjadi operasi singkat kini justru berisiko menjadi beban politik yang bertahan hingga pemilu.

EDITOR: Bintang Pradewo