← Beranda
Wisatawan Naik 43 Persen, Putin Usul Bebas Visa Rusia-Tiongkok Jadi Permanen
Dhimas GinanjarSelasa, 1 September 2026 | 18.20 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin (paling kiri) dan Presiden Tiongkok Xi Jinping (paling kanan) menggelar pembicaraan di Bishkek, Kirgizstan, pada 31 Agustus 2026. (Kantor Presiden Rusia/Kyodo)

JawaPos.com - Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kesiapan menjadikan program bebas visa dengan Tiongkok sebagai kebijakan permanen. Usulan tersebut disampaikan saat Putin bertemu Presiden Tiongkok Xi Jinping di Kirgizstan, Senin (31/8).

Dilansir dari Kyodo, Selasa (1/9), Putin mengatakan Rusia siap mempermanenkan program tersebut jika Tiongkok menilai kebijakan itu bermanfaat. Saat ini, kedua negara menerapkan kesepakatan yang memungkinkan warga masing-masing negara tinggal hingga 30 hari tanpa visa.

Program bebas visa tersebut berlaku hingga akhir 2027.

Dalam pertemuan yang berlangsung di sela-sela KTT Shanghai Cooperation Organization di Bishkek, Putin mengatakan kebijakan bebas visa telah mendorong peningkatan arus wisatawan antara kedua negara.

Menurut kantor berita Tass, jumlah wisatawan Rusia dan Tiongkok yang bepergian ke kedua negara meningkat 43 persen pada paruh pertama 2026 dibandingkan periode yang sama sebelumnya.

Putin juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban banjir bandang dan tanah longsor dahsyat yang terjadi di sepanjang perbatasan Nepal dan Tiongkok.

Ia turut menyampaikan harapan agar seluruh korban terdampak dapat segera pulih.

Sementara itu, Xi mengatakan fondasi hubungan Tiongkok dan Rusia akan semakin kuat dan masa depan kedua negara akan semakin cerah di bawah arahan strategis dirinya dan Putin.

Menurut kantor berita resmi Xinhua, Xi mengatakan dunia saat ini menghadapi "peningkatan nyata faktor-faktor yang tidak pasti dan sulit diprediksi".

Meski demikian, ia menegaskan komitmen terhadap perdamaian, pembangunan, kerja sama, dan hasil yang saling menguntungkan tidak berubah.

Xi juga menyinggung peran Shanghai Cooperation Organization dalam menjaga stabilitas kawasan. Organisasi tersebut didirikan pada 2001 oleh Tiongkok, Rusia, dan empat negara Asia Tengah.

Keanggotaan organisasi itu kini telah berkembang menjadi 10 negara, termasuk Belarus, India, Iran, dan Pakistan.

Xi mengatakan Beijing siap bekerja sama dengan Moskow dan negara-negara anggota lainnya untuk semakin mengembangkan organisasi regional tersebut.

Ukraina Bukan Fokus Utama

Putin dan Xi juga sempat membahas krisis Ukraina dalam pertemuan tersebut. Namun, isu tersebut bukan menjadi fokus utama pembicaraan.

Kantor berita Tass mengutip juru bicara Kremlin Dmitry Peskov yang mengatakan kedua pemimpin sempat menyinggung persoalan tersebut.

Putin dan Xi terakhir kali bertemu secara langsung di Beijing pada Mei lalu.

Hubungan Rusia dan Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir semakin erat. Tiongkok juga menentang sanksi negara-negara Barat terhadap Moskow terkait perang Rusia di Ukraina.

Pertemuan terbaru kedua pemimpin tersebut berlangsung di tengah penguatan hubungan bilateral, termasuk melalui kerja sama ekonomi dan peningkatan hubungan antarmasyarakat yang salah satunya didorong oleh kebijakan bebas visa.

EDITOR: Dhimas Ginanjar