JawaPos.com – Tim penyelamat Nepal dan Tiongkok terus melakukan pencarian korban setelah banjir bandang dan tanah longsor di wilayah perbatasan kedua negara menewaskan sedikitnya 165 orang.
Dilansir dari laman Al-Jazeera pada Kamis (27/8), Polisi Nepal melaporkan 162 orang meninggal dunia, sedangkan tiga korban jiwa tercatat di wilayah Gyirong, Tibet, Tiongkok.
Ratusan orang masih dinyatakan hilang, termasuk ratusan wisatawan asing yang berada di wilayah terdampak ketika bencana terjadi. Kondisi medan yang sulit, lumpur tebal, kerusakan jalan dan jembatan, serta cuaca buruk menjadi hambatan utama bagi tim penyelamat.
Banjir bandang menerjang sejumlah desa dan kawasan permukiman di sepanjang Sungai Bhote Koshi dan Sungai Trishuli, menyebabkan rumah, kendaraan, jembatan, jalan, serta fasilitas pembangkit listrik mengalami kerusakan.
Pemerintah Nepal mengerahkan personel kepolisian, militer, pemadam kebakaran, serta tim penanggulangan bencana untuk mencari korban dan mengevakuasi warga ke tempat yang lebih aman.
Di Tiongkok, Presiden Xi Jinping memerintahkan upaya penyelamatan secara maksimal setelah tanah longsor memutus akses jalan, komunikasi, dan aliran listrik di sejumlah wilayah Tibet.
Pemerintah kedua negara memperkirakan jumlah korban masih dapat bertambah karena tim penyelamat belum berhasil menjangkau seluruh daerah yang terdampak.
Sejumlah negara turut memberikan bantuan kepada Nepal, termasuk Amerika Serikat yang menjanjikan bantuan sebesar USD 500.000 atau sekitar Rp8,39 miliar untuk kebutuhan tempat tinggal darurat, air, sanitasi, dan bantuan kemanusiaan.
Perserikatan Bangsa-bangsa juga mengirimkan pasokan serta personel untuk membantu masyarakat yang terdampak, sementara Korea Selatan membentuk satuan tugas setelah sejumlah warganya dilaporkan hilang.
Penyebab pasti bencana masih diteliti, tetapi para ahli menduga longsoran es dan batu dari gletser memicu luapan Sungai Lhende Khola yang kemudian mengalir ke wilayah hilir.
Bencana tersebut terjadi di tengah musim monsun Asia Selatan, ketika perubahan iklim dinilai turut meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem yang memicu banjir serta tanah longsor.