← Beranda
Tiongkok Melawan Trump demi Iran, Pertarungan Ekonomi AS-Beijing Memanas
Rian AlfiantoKamis, 27 Agustus 2026 | 13.24 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada KTT Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik, di Busan, Korea Selatan, pada Oktober 2025 (Evelyn Hockstein/Reuters)

 

JawaPos.com - Tiongkok memilih tidak tunduk pada tekanan Donald Trump terkait hubungannya dengan Iran. Beijing menegaskan akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingannya setelah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap puluhan entitas Tiongkok yang dituding terlibat dalam hubungan ekonomi dengan Teheran.

Sikap tersebut berpotensi membuka babak baru perseteruan ekonomi antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Persoalan Iran kini tidak hanya menyangkut tekanan Washington terhadap Teheran, tetapi juga dapat berkembang menjadi arena tawar-menawar baru antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Lin Jian menegaskan hubungan negaranya dengan Iran tidak boleh diganggu atau dirusak. "Tidak boleh diganggu atau dirusak," demikian dikutip dari Japan Times.

Lin juga memperingatkan bahwa Tiongkok akan mengambil apa yang disebutnya sebagai 'semua tindakan yang diperlukan' untuk melindungi kepentingannya.

Tiongkok sendiri memiliki kepentingan ekonomi besar di Iran. Negara tersebut merupakan pembeli terbesar minyak Iran dan menjadi salah satu jalur penting bagi Teheran untuk mempertahankan perekonomiannya di tengah tekanan sanksi Amerika Serikat.

Karena itu, Beijing tidak memiliki alasan kuat untuk membantu Trump menekan Iran tanpa memperoleh keuntungan atau konsesi sebagai imbalannya.

"China ingin konflik itu terkendali, tetapi mereka tidak punya banyak alasan untuk membantu Trump mengakhirinya tanpa menerima imbalan apa pun," kata Jesse Marks, pendiri Rihla Research & Advisory sekaligus mantan penasihat kebijakan Timur Tengah di pemerintahan Amerika Serikat.

Bagi Tiongkok, mempertahankan hubungan dengan Iran bukan semata-mata soal perdagangan minyak. Hubungan tersebut juga memberikan pengaruh strategis di Timur Tengah sekaligus memperkuat posisi Beijing dalam menghadapi tekanan Washington.

Konflik Iran Justru Menguntungkan Posisi Tiongkok

Tekanan Trump terhadap Iran juga membawa keuntungan strategis bagi Beijing.

Amerika Serikat telah mengerahkan kembali satu-satunya kapal induknya yang berbasis di Asia ke Timur Tengah. Militer Amerika kemudian membatalkan latihan dengan Korea Selatan karena keterbatasan sumber daya yang berkaitan dengan pengerahan pasukan ke kawasan sekitar Iran.

Perhatian Washington yang semakin tersedot ke Timur Tengah berpotensi memberi Tiongkok ruang lebih besar untuk bergerak di Asia.

Beijing dapat melanjutkan tekanan terkait klaim wilayahnya di Laut China Selatan dan sekitar Taiwan ketika sebagian sumber daya militer dan politik Amerika diarahkan ke konflik Iran.

Dengan kata lain, semakin besar perhatian Trump terhadap Iran, semakin besar pula peluang Tiongkok memanfaatkan ruang strategis yang terbuka di kawasan Asia.

Namun, Washington tidak bisa dengan mudah meningkatkan tekanan terhadap perusahaan dan lembaga keuangan Tiongkok.

Beijing memiliki pengaruh besar terhadap rantai pasok logam tanah jarang yang sangat penting bagi berbagai industri, termasuk elektronik dan industri pertahanan.

Posisi tersebut menjadi salah satu alat tawar utama Tiongkok dalam menghadapi Amerika Serikat. Xi Jinping sebelumnya telah menggunakan pengaruhnya atas rantai pasok strategis tersebut ketika hubungan dagang kedua negara memanas akibat perang tarif.

Karena itu, menjatuhkan sanksi terhadap lembaga keuangan besar Tiongkok yang membantu perekonomian Iran berisiko memicu aksi balasan dari Beijing dan memperluas konflik ekonomi.

Washington juga tampaknya memahami risiko tersebut. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada wartawan pada Senin lalu bahwa dirinya tidak ingin memercepat sistem keuangan global.

Pernyataan itu muncul ketika biaya pinjaman jangka panjang Amerika Serikat melonjak ke level tertinggi dalam satu dekade.

Tiongkok Bisa Memberi Konsesi, tetapi Tidak Gratis

Meski menolak tekanan langsung Washington, Tiongkok masih memiliki sejumlah pilihan untuk meredakan ketegangan.

Beijing dapat mengurangi pembelian minyak Iran atau menahan pendapatan dari transaksi minyak tersebut di bank-bank Tiongkok. Langkah lain adalah memperketat pengawasan terhadap komponen buatan Tiongkok yang memiliki fungsi ganda dan berpotensi digunakan dalam program persenjataan Iran.

Langkah semacam itu memungkinkan Beijing memberikan konsesi terbatas kepada Trump tanpa harus memutus hubungan dengan Teheran.

John Gong, profesor di University of International Business and Economics di Beijing, mengatakan Washington kemungkinan menyadari bahwa Tiongkok tidak akan sepenuhnya mengikuti permintaan Amerika terkait Iran.

Namun, menurutnya, Amerika masih dapat mencoba mendorong Beijing memberikan konsesi yang lebih kecil.

Baca Juga: Donald Trump Singgung Krisis Iran, Teheran Balik Bongkar Masalah Amerika

"Iran telah dikenai sanksi begitu lama dan negara itu tidak pernah menyerah. Mengapa kali ini akan berbeda?" kata Gong, yang pernah bekerja sebagai konsultan bagi Kementerian Perdagangan Tiongkok.

EDITOR: Kuswandi